Menu
Categories
IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS: Kamis, 17 Maret 2022
16 Maret 2022 TATA IBADAH

1. Mandoding Haleluya No. 352:1
Ai halongangan do hape, holong-Ni Tuhan in.
Itobus Kristus au hape, pardousa na doyuk.
Tapi hubotoh janah porsaya, bani gogoh-Ni pakon kuasa-Ni,
ai iparorot do tong goluhku, das bai parujungan in.

 

2. Tonggo

 

3. Ayat Harian: Markus 14:22
“Jadi sanggah na mangan ai sidea, ibuat Jesus ma ruti, ipasu-pasu ma, ipartopik anjaha ibere ma hubani sidea, lanjar ihatahon, “Jalo hanima ma, daging-Ku do on!”

 

“Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”

 

4. Renungan
Jemaat Tuhan,
bila pada Minggu lalu (Kamis, 10 Maret 2022) ayat harian kita menuliskan tentang Perjamuan Malam (The Last Supper) yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan para murid-Nya sebelum Ia menerima pengkhianatan, penyiksaan, dan juga penyaliban atas diri-Nya, maka pada hari ini, nas kita juga menuliskan tentang hal yang sama, yaitu momen ketika Yesus sedang melaksanakan Perjamuan Malam bersama dengan para murid-Nya. Hanya hal yang membedakan adalah bila Minggu lalu nas kita menuliskan tentang Yesus yang memberikan cawan yang berisi anggur sebagai simbol darah Yesus yang ditumpahkan untuk banyak orang, maka pada hari ini, kita akan fokus melihat kepada roti yang dipecahkan Yesus untuk kemudian memberikan-Nya kepada para murid.

 

Jemaat Tuhan,
pada Perjamuan Malam, Yesus mengambil dua simbol yang berhubungan dengan Paskah dan memberinya makna yang baru. Tentunya kedua simbol ini mempunyai makna masing-masing yang pada akhirnya sebagai ungkapan bahwa Yesus memberikan diri-Nya untuk orang yang berdosa. Dalam Perjamuan Malam, roti yang dipakai oleh Yesus adalah roti yang tidak beragi, yang merupakan ketentuan pada perayaan Perjamuan Malam, juga sesuai dengan konteks orang Israel. Karena roti tidak beragi mengingatkan orang Israel akan ketetapan yang diberikan Tuhan, di mana mereka harus makan roti tidak beragi selama tujuh hari lamanya (Kel. 12:15, 17-20). Bagi bangsa Israel, merayakan Paskah berarti merayakan kemerdekaan mereka sebagai suatu bangsa. Orang Yahudi biasa memperingatinya dengan cara menyembelih anak domba jantan, tidak bercela, dan berumur setahun. Dagingnya dimakan bersama roti tidak beragi dan sayur pahit. Kesemua hal itu dilakukan untuk mengingat bahwa kemerdekaan Israel bukanlah direbut dengan perjuangan angkatan bersenjata. Allah yang turun tangan dalam mengupayakan kemerdekaan Israel, maka umat Israel seharusnya hanya percaya dan taat percaya kepada Allah. Ketika mereka menyiapkan semuanya itu, Allah membunuh mati semua anak sulung bangsa Mesir, sedangkan anak sulung bangsa Israel selamat karena darah domba yang dipercikkan di tiang dan ambang atas pintu.

 

Jemaat Tuhan,
melalui Perjamuan Malam ini Yesus ingin menyampaikan kepada para murid-Nya bahwa keberadaan Yesus di tengah-tengah mereka, dan di dunia ini, mempunyai misi tertentu, yaitu misi kemerdekaan, misi penyelamatan. Terlepas ada pengkhianatan, penyiksaan, bahkan sampai kepada kematian yang dialami-Nya, namun misi itu diemban oleh Tuhan Yesus sampai kepada akhirnya, sehingga setiap manusia menerima keselamatan daripada-Nya. Dan penggambaran misi itu dinyatakan dalam Perjamuan Malam dengan melambangkan roti tidak beragi sebagai tubuh Kristus. Tubuh yang terpecah memberi keselamatan kepada kita. Tubuh itu yang dikorbankan, sehingga kita merdeka dari setiap belenggu dosa yang menjerat kita. Saat ini sesuai dengan kalender gerejawi, kita sudah masuk dalam minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus. Lalu untuk hal yang sangat berharga telah diterima oleh setiap kita, walaupun Ia harus menanggung derita dan sengsara. Apa yang seharusnya kita lakukan? Tentu kita selayaknya sampai kepada sebuah ketetapan sikap bahwa kita akan menghargai hal yang berharga yang telah kita terima dengan memperlihatkan sikap yang tepat kepada-Nya. Apa sikap yang tepat? Ya, setia dan patuh, beriman yang teguh kepada-Nya, tidak mudah berpaling dari Tuhan, karena Ia telah memberikan hidup-Nya, maka kita juga memberikan hidup kita kepada-Nya. Amin.

 

5. Bernyanyi Kidung Pujian “Bukan dengan Barang Fana”
Bukan dengan barang fana Kau membayar dosaku.
Dengan darah yang mahal tiada noda dan cela.
Bukan dengan emas perak Kau menebus diriku.
Oleh segenap kasih dan pengorbananMu.
‘Ku telah mati dan tinggalkan jalan hidupku yang lama.
Semuanya sia-sia dan tak berarti lagi.
Hidup ini kuletakkan pada mezbahMu ya Tuhan.
Jadilah padaku seperti yang Kau ingini.

 

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

 

Departemen Persekutuan GKPS

Comments are closed
**