Menu
Categories
IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS: Kamis, 7 Juli 2022
6 Juli 2022 TATA IBADAH

1. Mandoding “Allah Mengerti, Allah Peduli”
Banyak perkara yang tak dapat kumengerti.
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini?
Satu perkara yang kusimpan dalam hati.
Tiada satupun yang terjadi tanpa Allah peduli.
Allah mengerti, Allah peduli, segala persoalan yang kita hadapi.
Tak akan pernah dibiarkan-Nya, ‘kubergumul sendiri s’bab Allah mengerti.

 

2. Tonggo

 

3. Ayat Harian: 1 Samuel 2:8
“Ia na papuhohon na musil hun orbuk; Ia patimbulhon na masombuh hun hubang, laho pahundulhon sidea rap pakon raja-raja, anjaha mamberehon bani sidea paratas hamuliaon. Ai Jahowa do simada tiang ni tanoh on, anjaha ipajonam i atas ni tanoh on.”

 

“Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.”

 

4. Renungan
Jemaat Tuhan,
nas kita hari ini berdasarkan pengalaman hidup seorang perempuan yang bernama Hana (anugerah). Adalah seorang Hana yang mengalami tekanan batin karena ia belum memiliki anak dari perkawinannya dengan Elkana. Hal ini dipicu dengan budaya masyarakat Yahudi yang menghargai seorang perempuan di tengah-tengah masyarakat apabila perempuan itu memiliki keturunan (laki-laki). Tetapi bila perempuan yang tidak (belum) memiliki keturunan, maka itu adalah suatu kondisi yang dapat memalukan bagi perempuan itu, bagi suami, dan keluarganya. Sehingga, tidak jarang dalam masyarakat Yahudi, bila perempuan tidak memiliki keturunan, maka ia harus mempersiapkan dirinya untuk dicemooh, dipandang hina, dan tidak diperhitungkan dalam tatanan sosial masyarakat. Hal ini yang dialami oleh Hana, dan tekanan itu semakin terasa, ketika Penina yang menjadi madunya juga “melecehkan” Hana dengan sikap dan perkataannya. Dalam kondisi yang kompleks seperti itu Hana tidak berhenti meratapi nasibnya, karena di tengah-tengah kehilangan asa dan tekanan yang menerpanya, maka pada saat itu Hana justru melihat bahwa setitik cahaya terang masih akan dimilikinya bila ia datang kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup, Hana datang ke Bait Kudus Allah, menceritakan beban yang dialaminya, meminta keturunan baginya, dan Tuhan memberikannya (1 Sam. 1:20), Hana melahirkan seorang anak laki-laki bernama Samuel (yang kuminta dari Tuhan).

 

Jemaat Tuhan,
nas kita hari ini mengisahkan Hana yang bersukacita karena Allah telah mengangkatnya, Allah yang mengubah kondisinya di tengah-tengah masyarakat, Allah yang membukakan pintu rahimnya, sehingga ia memperoleh keturunan, dan Allah yang mengangkat harkat dan martabatnya sebagai seorang perempuan. Maka tidak mengherankan dalam pujiannya, Hana menuliskan bahwa Allah menegakkan orang yang hina dari dalam debu, mengangkat orang miskin dari lumpur, mendudukkannya bersama para bangsawan, dan memberinya kursi kehormatan. Sangat tandas sekali pengakuan dan kesaksian Hana tentang peran Allah yang mengubah segalanya, mengubah hidupnya, yang membuat ia menjadi diperhitungkan, dianggap ada, dan memberi posisi yang sama dengan para bangsawan. Saat Allah bertindak, maka diskriminasi dan intimidasi yang dirasakan Hana segera berhenti. Ia menjadi sama dengan perempuan lain, yang memiliki hak untuk dihargai dan diperhitungkan.

 

Jemaat Tuhan,
keputusan yang diambil Hana untuk datang kepada Allah yang mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan, merupakan sebuah keputusan yang tepat. Saat ia kehilangan asa, saat masyarakat melecehkannya, Hana datang kepada Allah dalam ketidakberdayaannya. Dan Allah mengambil tindakan atas apa yang dialami oleh Hana. Doa dan seruan yang disampaikan Hana dengan hati yang hancur dalam totalitas memohon belas kasih Allah akhirnya membuat Hana menerima kasih dan pertolongan Allah baginya. Allah tidak pernah menutup telinganya atas setiap doa yang disampaikan Hana kepada-Nya. Dan itu juga yang menjadi pegangan sekaligus topangan bagi kita. Kalaupun dunia, masyarakat atau bahkan keluarga kita melecehkan dan mengintimidasi kita, kalaupun ada saatnya kita merasa bahwa kita menjadi korban diskriminasi di tengah-tengah tatanan sosial masyarakat, tetapi sepanjang kita datang, berseru, dan memohon kepada Allah, maka Ia tidak pernah menutup telinga-Nya atas setiap doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Maka datang, berseru, dan memohonlah dalam asa kepada Tuhan atas setiap apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, maka hidup kita akan dilimpahi oleh anugerah dari Tuhan. Amin.

 

5. Mandoding “S’mua Baik”
Dari semula t’lah Kau tetapkan,
hidupku dalam tangan-Mu, dalam rencana-Mu, Tuhan.
Rencana indah t’lah Kau siapkan,
bagi masa depanku yang penuh harapan.
S’mua baik, s’mua baik apa yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku.
S’mua baik, sungguh teramat baik, Kau jadikan hidupku berarti.

 

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

 

Departemen Persekutuan GKPS

Comments are closed
**