Menu
Categories
INTIMASI DALAM PERKAWINAN
25 Juli 2022 ARTIKEL

PENGANTAR

Perkawinan adalah sebagai cermin hubungan Kristus dan Jemaat seperti tertulis dalam Efesus 5:32. Sejak penciptaan, Allah merancang perkawinan yang sehat, dimana setiap individu di dalamnya dapat merasakan dan memenuhi kebutuhan intimasi satu sama lainnya. Oleh karenanya boleh dikatakan bahwa perkawinan sebagai lembaga sosial terkecil yang dibentuk oleh Allah mendahului semua lembaga sosial lainnya.

Memang walaupun kecil, lembaga ini begitu penting karena menjadi fondasi atau dasar yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Namun sering sekali rencana kebaikan dalam pernikahan dirusak oleh keegoisan atau mementingkan diri sendiri dari antara kedua belah pihak. Ketidaksiapan untuk saling melayani bahkan memahami bahwa persekutuan dalam perkawinan itu punya batas waktu, sehingga bisa berakhir oleh perceraian. Hal ini karena pemahaman kedua belah pihak tidak lagi bisa menguntungkan.

Perceraian dianggap sebagai solusi, bahkan dianggap legal, namun juga dapat terjadi secara emosional. Sudah pasti bahwa perceraian itu adalah hal yang merusak rancangan indah terhadap suatu perkawinan, bahkan merusak gambaran kesatuan Kristus dengan jemaat. Dalam banyak faktor yang bisa merusak perkawinan adalah juga hal kurangnya intimasi dalam perkawinan.

 

JENIS DAN MAKNA INTIMASI

Intimasi dalam perkawinan mencakup banyak dimensi, hal ini dikembangkan dalam: keintiman emosi, keintiman seksual, keintiman intelektual, keintiman kerja, keintiman kreatif, keintiman estetis, keintiman krisis, keintiman rekreasional, keintiman spiritual. Dalam hal ini menandakan bahwa intimasi sangatlah penting dalam pernikahan Kristen.

Keintiman merupakan sebuah dimensi kasih, sebagaimana kita diciptakan untuk berada dalam hubungan; hubungan dengan Allah melalui Yesus Kristus; sesama dan dengan diri sendiri.

Menurut Webster, intimasi adalah berbagi rasa mengenai apa yang mendasar dan penting. Keintiman dalam suatu perkawinan adalah kemampuan untuk mengalami suatu hubungan yang bersifat terbuka, mendukung dan mengasihi satu dengan yang lainnya tanpa merasa takut dipersalahkan atau kehilangan kepribadian, dalam hal ini sepasang suami-istri bertanggungjawab dalam memberi dukungan, topangan yang di dasari kasih Tuhan.

Intimasi dalam perkawinan sering sekali berubah-ubah, kadang terasa intim, kadang terasa jauh. Hal ini dipengaruhi oleh perasaan dan juga oleh kesibukan masing-masing. Keintiman dalam pernikahan meminta untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan pasangan kita, bukan sebatas membahagiakan diri sendiri. Selain itu juga, keintiman itu merupakan suatu kedekatan, kekraban, berkaitan dengan yang terdalam (inmost). Lebih dalam disebutkan keintiman adalah the sharing of heart and spirit, makna kehadiran sangat mendasar dalam intimasi.

 

INTIMASI SPIRITUAL

Intimasi dalam pernikahan dibangun atas dasar trust (rasa percaya). Afirmasi yang di dapat dari orang lain ataupun pasangan, kesediaan melepas dan melebur diri menjadi satu; dari aku menjadi kita (I to We),  tapi tetap memiliki batasan (boundaries); berani melihat ke dalam diri (self reflection).

Hambatan yang sering terjadi untuk suatu intimasi dalam pernikahan, tidak ada rasa “kita”, relasi gagal tumbuh, dibiarkan tumbuh seadanya, tanpa ada usaha untuk meningkatkan, hidup bersama namun seolah single.

Dasar intimasi dibentuk dari interaksi kedua individu melalui adanya komitmen terhadap janji perkawinan, komitmen memelihara intimasi tersebut. Juga hal ketersalingan sangat dibutuhkan. Seperti halnya yang kuat menolong yang lemah antara suami dan istri, dibutuhkan juga sepakat menjalani hidup dengan gembira dan sukacita.

Dalam relasi pernikahan Kristen, intimasi fisik dan emosi penting diperhatikan, namun yang tak kalah pentingnya adalah intimasi spiritual, yakni: kedekatan dan bersekutu dengan Tuhan. Kasih Kristus yang menjadi kekuatan dalam perkawinan. Keintiman ini tidak terjadi begitu saja, tapi haruslah ada komitmen bersama secara spesifik, lewat:

Persekutuan dengan Tuhan

Suami-istri haruslah punya keputusan yang kuat untuk hidup di dalam Tuhan dan mengikuti-Nya dengan setia. Seperti segitiga, di mana Tuhan berada di puncak, suami-istri ada di antara sisi segitiga tersebut, dan bersama-sama dalam kegerakannya menuju kearah Yesus.

Berdoa Bersama

Praktek hidup antara suami-istri yang penting adalah berdoa bersama, berkomunikasi dengan Tuhan secara bersama dan menyerahkan beban hidup kepada Tuhan.

Melayani Bersama-sama

Menerjunkan diri pada pelayanan di gereja dan di luarnya dapat memperkuat ikatan rohani suami-istri. Suami-istri membutuhkan gereja untuk bisa terhubung dengan orang lain, dan dapat belajar bersama-sama.

Intimasi spiritual dalam pernikahan dapat membawa keuntungan besar bagi pasangan suami-istri (pasutri). Hubungan rohani yang terjalin erat akan menumbuhkan tidak hanya bagi suami-istri, tapi juga ikatan yang erat dengan Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu menciptakan keintiman rohani pasutri.

Intimasi dalam pernikahan terwujud lewat sikap yang sanggup memilih yang baik dan penting dalam hidup bersama pasangannya, bertumbuh dan saling ketergantungan, dan bersama membangun karakter bersama. Suami-istri menjadi mitra dan menjadi utuh “dua menjadi satu” sebagai soulmate (belahan jiwa).

Dalam keluarga Kristen haruslah menghayati berkat Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain. Intimasi dalam pernikahan Kristen tidak hanya untuk mengejar kebahagiaan, namun sebagai wadah bagi pasangan untuk semakin dewasa ke arah yang membawanya sama dengan Kristus. Pasangan itu menjadi kawan sekerja Allah, yang di dalamnya Allah berdiam dan berkarya. Intimasi yang dimaksud dalam suatu perkawinan adalah menjadikan satu kesatuan dalam setiap aspek kehidupan, masing-masing memiliki kepribadian tersendiri yang berlainan tetapi satu kesatuan.

Satu hal yang terpenting dalam hubungan intimasi perkawinan ialah antar suami-istri tidak perlu malu, tidak perlu menutup-nutupi dirinya sendiri, sebab yang disembunyikan itu pada akhirnya akan membangun banyak masalah dalam keluarganya, suami-istri haruslah membuka diri.

 

FASE MEMBANGUN INTIMASI

Ada beberapa fase dalam membangun intimasi dalam perkawinan Kristen yang harus dilewati pasangan suami istri, yakni:

  1. Fase romance yang diawali pengenalan. Dalam fase ini semua dipandang baik dan indah.
  2. Fase power struggle, dimana pasangan mulai menyadari adanya perbedaan sehingga harus dihadapi dengan perjuangan masing-masing menjadi yang terbaik.
  3. Fase cooperation, yakni memulai untuk menumbuhkan penerimaan penuh terhadap pasangan dan punya keinginan untuk mengembangkan relationship yanag sehat. Fase ini mendorong pasangan untuk membuat yang terbaik bagi pasangannya.
  4. Fase mutuality, rasa saling memiliki dan mengembangkaan mutual intimacy yang penuh.

Lewat beberapa fase ini akan terbangun kekuatan menjalani perkawinan, intimasi semakin dalam, komitmen juga semakin teguh. Intimasi fisik dalam perkawinan mengalami perkembangan menjadi keintiman spiritual yang dalam.

 

PENUTUP

Keintiman spiritual dalam perkawinan adalah mengenai bersekutu dengan Tuhan, mempergunakan kasih-Nya, kekuatan dan kepemimpinan untuk mempergunakan kuasa-Nya dalam perkawinan.

Intimasi dalam perkawinan menjadi hal yang penting sebagai penyelaras perkawinan bukan menyamakan perbedaan. Tiada pernah kata tamat untuk suatu perkawinan, namun bersama dengan berjalannya waktu perkawinan akan menjadi proses pengayaan perkawinan (marriage enrichment).

Pasangan suami istri dipanggil untuk saling memberdayakan potensi kasihnya lewat berbagai dimensi intimasi sehingga terbangunlah perkawinan yang harmonis. Keintiman fisik ataupun biologis harus didasari oleh keintiman spiritualitas. Relasi yang intim dengan Tuhan akan mengikat berbagai dimensi keintiman dalam perkawinan. Karena perkawinan adalah wujud persekutuan antara Tuhan Yesus dengan umat-Nya, yang seyogyanya menyatakan misi kristus di tengah-tengah kehidupan.

Biarlah perkawinan ini bisa bertahan dalam terpaan musibah, tak pusing oleh rasa, tak sirna oleh usia, tak lekang oleh masa. Amen.

Penulis: Pdt. Erny J. Purba, M.Th (Praeses GKPS Distrik II)

 

Comments are closed
**