LWF Virtual Conference on Diakonia – 5 Juni 2013

( berita dari LWF bekerjasama dengan gereja-gereja anggota yang akan menghubungkan para pendeta, pengerja diakonal dan para pemimpin jemaat pada tanggal 5 juni 2013 dalam sebuah konferensi virtual global melalui internet. para praktisis dari seluruh persekutuan lutheran dapat belajar bersama. ada tiga tema: Iman dalam tindakan, menanggapi konteks dan belajar dan berbagi dalam diakonia. untuk itu, segera daftar diri anda, gratis dan ikuti konferensi virtual ini dengan mengklik: www.lwfvirtualconference.org. untuk lebih detailnya, dibawah ini kami tulis ulang surat dari LWF tentang hal itu.)

 
departement for mission and development directors office

LWF Virtual Conference on Diakonia – 5 Juni 2013

Conference on Diakonia – 5 June 2013 dear sisters and brothers, some weeks ago, you were informed of the upcoming LWF Virtual Conference on Diakonia. it is now open registration.

the virtual conference does not only present the high degree to which churches are active in diakonia in all parts of the communion. its also a unique place of learning and exchange. leaders from around the world will be present, listen to each other and gain new inspiration and encouragement to participate in God,s loving work towards creation.

The virtual conference provides specialo value for leader on the congregational and other local levels of the churches. it presents and discusses in an understandable way, questions that are relevant for pastors, diaconal workers and lay leaders. we are convinced that your chruch will benefit form the virtual conference as part of your own efforts to strengthen diakonia.

you can find more information on the attached sheet and on http://www.lwfvirtualconference.org.

please share this information widely with parish pastors, diaconal workers and lay leaders.

best regards,

rev. Dr. Musa Filibus

Director, LWF-DMD

Ruhut Paminsangon (Siasat Gereja) GKPS (terbaru) pakon juklak liturgi

ruhut paminsangon [siasat gereja] GKPS domma boi i download i webta on!

klik nasiam i toruh on!

(7) Ruhut Paminsangon GKPS 

(9) Juklak Liturgi GKPS

Liturgi Minggu UEM

Tema:

Kemiskinan dan Perdagangan Anak: Tantangan bagi Gereja-Gereja

liturgi UEM domma boi i download hita, [klik nasiam i toruh on].

Liturgi Minggu UEM 2013

Manajemen Konflik: Tautkan Jempol


Manajemen Konflik: Tautkan Jempol

Pematangsiantar (26/04/13) – gkps.or.id. pagi ini saya mengantar anak saya ke sekolah (TK Santa Lusia, jln. Sudirman P.Siantar), seperti biasanya.  Saat itu, bel masuk sekolah belum berbunyi, dan anak-anak [termasuk anak saya] bermain di sekitar sekolah. Tak ada yang aneh, di menit pertama mereka bermain. Dari atas sepeda motor, saya perhatikan mereka bermain. Lalu, terjadi kegaduhan sesama mereka. Ow, ternyata ada perkelahian, eh bukan, dorong-dorongan  lebih tepatnya antara dua anak. Aku menatap mereka, dan membatin bahwa hal itu biasa saja. Tapi, tunggu sebentar, mereka mulai saling menendang, dan nampaknya akan terjadi perkelahian. Hati kecilku memerintahkan diriku untuk turun dari motor untuk melerai mereka, tapi ku urungkan sebab teman-teman mereka lebih tanggap dari lambannya aku bertindak.  Mereka memeluk dan melerai pertengkaran itu. Ada sorak-sorai diantara mereka, tapi tidak dalam bentuk provokasi, lebih kepada keriuhan untuk mensupport agar teman mereka berdamai. Dengan wajah malu-malu khas anak-anak, kedua anak yang bertengkar tadi saling mentautkan jempol [mungkin symbol dari perdamaian : rekonsialiasi]. Lalu kembali mereka tertawa dan bersorak riuh, berlari, kejar-kejaran dan ada yang terjatuh.

Aku tertegun dan tersenyum. Begitu sederhana dan mudahnya mereka menyelesaikan persoalan mereka. Tak ada lagi ketegangan. Dan tak pernah ada dendam, padahal kejadian yang sama sering terulang. Aku mencoba mencari tahu apa yang membuat mereka dengan begitu mudah menyelesaikan masalah mereka. Bagaimana konflik bisa di manage dengan cara mentautkan jempol, dan selesai?

Aku mencoba mereka ulang kejadian itu dari awal untuk mencari tahu mengapa cara penyelesaiannya begitu sederhana.

  1. Mereka sedang bermain. Berlari, kejar-kejaran, tubrukan dan terjatuh.
  2. Mereka saling mendorong dan mulai saling menendang.
  3. Teman-temannya melerai dan mempertemukan mereka
  4. Mereka mentautkan jempolnya
  5. Mereka kembali bermain, berlari, kejar-kejaran, tubrukan dan terjatuh lagi.

Eureka…! Ternyata aku menemukan jawabannya: MEREKA MENIKMATI PERTEMANAN DAN PERMAIANAN. Dan itu lebih menarik dari pertengkaran dan perkelahian. Dan aku teringat kuliah psikologi perkembangan anak, ya, mereka sedang bermain. Mengembangkan imajinasi tak berbatas dengan bermain, dan itu lebih indah atau lebih penting.

Nampaknya itu yang membuat mereka mampu dengan cara sederhana melupakan rasa sakit akibat terdorong atau terjatuh, melupakan perkelahian dan jelas tidak ada dendam. Ah, menarik sekali belajar dari anak-anak itu. Dan aku malu, sebab hampir saja aku intervensi mereka dengan melerai pertengkaran itu, seolah-olah orang dewasa, selalu punya jawaban.

Bel berbunyi, anak-anak itu berlarian sambil tertawa berbaris di depan kelasnya, tidak tertib seperti pramuka atau tentara, tapi hari ini mereka mengajarkanku tentang Manjemen Konflik, Tautkan Jempol. (pp)

Konselor Anak GKPS

GKPS MEMILIKI KONSELOR ANAK

Peserta Retreat Konselor Anak

Peserta Retreat Konselor Anak

Tiga puluh orang Guru Sekolah Minggu GKPS se-Distrik VII Angkatan I telah dilatih dan dididik secara profesional untuk menjadi Konselor Anak di jemaat masing-masing. Training Konselor Anak yang diperuntukkan bagi Guru Senior (melayani di atas 3 tahun) tersebut dilakukan secara rutin selama 3 (tiga) kali pertemuan dalam memperdalam ilmu konseling anak.

Pertemuan ke-1

          Pertemuan perdana dibuka oleh Pdt. John Harapan Purba (Praeses GKPS Distrik VII). Pada awal pembukaan training ini, para Konselor diajak mendalami Konseling Kristen yang didasarkan pada teologia, menjunjung Alkitab sebagai standar kehidupan orang beriman, dan menyerahkan proses konseling pada kuasa Roh Kudus. Ibu Melati Tan (Pembicara/Praktisi Konseling Anak) mengajak para Konselor berdiskusi mengenai berbagai persoalan anak yang dihadapi akhir-akhir ini sebagai bahan kasus dalam pertemuan-pertemuan berikutnya. Langkah-langkah awal konseling pun mulai dilakonkan bersama-sama. Dengan proses pendidikan konseling anak ini, para Konselor Anak diharapkan dapat memampukan anak untuk mengatasi masalah emosional, untuk memiliki pandangan positif tentang dirinya, untuk menerima kekuatan dan kelemahan dirinya, serta untuk mengubah perilaku yang dampaknya negatif. Dalam pertemuan sehari penuh ini, Konselor dididik untuk memiliki paradigma: “Saya ada untuk kamu”, “Saya mendengarkanmu”, “Saya mengerti kamu”, dan “Saya peduli kamu”.

 Pertemuan ke-2

          Tidak kalah menariknya, pada pertemuan di awal Januari 2013 ini, para Konselor mulai mempraktekkan berbagai teknik konseling anak, seperti menggunakan boneka, boneka binatang kecil, bak pasir dan lambang-lambang, bermain lilin (playdough), menggambar, bercerita, menulis, roleplay, dan games. Tentu saja, berbagai teknik tersebut disesuaikan dengan usia dan kasus yang dialami sang anak. Ibu Melati Tan menambahkan bahwa proses play/art therapy tersebut digunakan untuk mengizinkan anak bebas berekspresi tentang perasaannya. “Perlu diingat bahwa para Konselor Anak tidak memburu-buru proses konseling.  Proses tersebut merupakan sesuatu yang berkembang setahap demi setahap” tuturnya.

 Pertemuan ke-3

Di akhir bulan Februari, para Konselor dipertemukan kembali untuk belajar secara khusus tentang remaja. Ibu Daesy Sanger (Pembicara/Praktisi Konseling Remaja) mengingatkan bahwa proses konseling adalah hubungan timbal balik antara konselor yang  berusaha menolong/membimbing dengan konseli yang membutuhkan pengertian untuk mengatasi persoalah hidupnya  berdasarkan kebenaran Firman Allah. Para Konselor dilatih mendampingi anak remaja yang memiliki berbagai permasalahan, seperti remaja yang tidak percaya diri (PD), cemas, prestasi belajar rendah, sering melakukan pencurian, dan lainnya.

 Retreat Konselor Anak

          Mengasingkan diri. Memberi kesempatan Allah bicara. Ya, benar! Demikianlah esensi retreat yang dijalani para Konselor Anak di Gunung Pancar, Sentul Bogor pada tgl. 12-14 April 2013. Pada ibadah pembukaan, Pdt. Sariaman Purba (Pendeta Sekolah Minggu GKPS Distrik VII) menegaskan agar para Konselor Anak benar-benar bisa mengerti peran dan tanggung jawabnya, terutama sebagai hamba (doulous). “Bukan hal yang mudah, tapi harus kita lakukan” tegasnya. Di sesi awal, Ibu Melati Tan mengajak para Konselor untuk berdiskusi mengenai film konseling yang telah ditayangkan sebelumnya. Di sesi-sesi berikutnya, para Konselor didorong untuk semakin banyak berlatih dalam beberapa studi kasus yang disiapkan. Tanpa terasa, latihan ini ternyata meningkatkan rasa sensitivitas para Konselor terhadap persoalan anak. Di akhir retreat, Pdt. John Harapan Purba memimpin ibadah minggu dan Perjamuan Kudus. Benar-benar mempersatukan para Konselor dengan tubuh dan darah Kristus.

 

Inilah nama-nama Konselor Anak tersebut:

NO.

NAMA

JEMAAT

NO.

NAMA

JEMAAT

1.

Sy. Sonly Saragih

Cempaka Putih

16.

Kartini Sumbayak

Lubang Buaya

2.

Pdt. Enny Purba

Cempaka Putih

17.

Zulisa Purba

Lubang Buaya

3.

Christiana Sinaga

Salemba

18.

St. Ferijason Girsang

Cipayung

4.

Elly Erlina Girsang

Salemba

19.

Sy. Ronselina Saragih

Tangerang

5.

Rita Saragih

Salemba

20.

Yesa Alfa Nova Pinem

Tangerang

6.

Olansons Girsang

Salemba

21.

Esterlina Sembiring

Tigaraksa

7.

Dorty Aprilina Purba

Ancol

22.

Jeremia Purba

Bogor

8.

Evi Mariati Saragih

Ancol

23.

Hotmaonda Saragih

Bogor

9.

Verawaty Damanik

Ancol

24.

Nursaida Sinaga

Depok

10.

Sy. Masliana Saragih

Cikoko

25.

Rosdianta Tarigan

Cibinong

11.

Arina Irene RG Sinaga

Cijantung

26.

Sindaria Damanik

Surabaya

12.

Marina Saragih

Cijantung

27.

Betty Juliani Turnip

Bekasi

13.

Wanmasdin Sinaga

Cijantung

28.

Merry Rosanty Damanik

Bekasi

14.

Evamita Girsang

Pamulang

29.

Sanri F. Simanjuntak

Bekasi

15.

Joseph P. Sinaga

Pamulang

30.

Risma Saragih

Bekasi

 

 

 Mari sama-sama kita doakan para Konselor tersebut agar benar-benar berdampak bagi anak-anak Sekolah Minggu GKPS sehingga  Anak Sekolah Minggu bertumbuh semakin dewasa dalam iman dan dimampukan menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya. (sesuai dengan Matriks Rencana Strategis GKPS 2010-2030). Semoga 10% dari jumlah GSM di masing-masing jemaat dapat menjadi Konselor Anak. Semoga. Immanuel.

 Catatan:

Dilaporkan oleh:

Olansons Girsang

(Korwil Sekolah Minggu GKPS Distrik VII)