Pemimpin dan Penulis Besar Bung Karno dan Raja Salomo Oleh : Jannerson Girsang*)
Sedemikian banyak dan sedemikian lamanya sudah terdengar keluhan kita atas kurangnya minat baca dan minat tulis di negara ini, menggelitik saya untuk menulis tulisan ini di malam pergantian 16-17 Agustus 2009. Saya malah ingin mengkritisi para pemimpin kita yang minat tulisnya (bacanya) yang semakin jauh dari para pemimpin sebelum kita. Dan ini terjadi hampir di semua level kepemimpinan. Dulu ada yang disebut dengan memori jabatan, di saat seseroang mengakhiri masa jabatannya, inipun, sudah sering terlupakan. Memori kadang hanya dibuat sebagai sebuah persyaratan, tanpa makna dan perenungan mendasar dan benar. Tulisan tentang kisah seorang pemimpin bangsa atau institusi yang ditulis sendiri oleh para pemimpin akan menjadi jembatan antar generasi dan penyambung lidah bagi generasi sekarang, serta sangat kuat menciptakan rasa kecintaan kepada bangsa dan institusi itu. Kisah atau tulisan seorang pemimpin institusí juga sangat memberikan citra yang kuat atas institusi yang mereka pimpin, termasuk tokoh-tokoh di dalamnya. ”Semenjak dulu, para pemimpin, guru, pembicara hebat telah mengetahui kekuatan pengisahan cerita. Dua ribu tahun lalu, Yesus menceritakan perumpamaan yang sangat universal dalam makna dan daya tariknya sehingga masih relevan hingga sekarang,”kata Evelyn Clark dalam bukunya ”Around the Corporate Camfire (2007).
Kurangnya minat baca dan minat tulis, justru jarang di arahkan kepada para pemimpin sebagai salah satu penyebab mengapa kita sekarang dijuluki ”rabun baca dan lumpuh menulis” oleh Taufik Ismail, seorang penyair terkemuka negeri ini. Kondisi yang membuat bangsa ini sering tidak memahami cerita tentang bangsanya atau institusi dimana mereka bernaung. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 64 ini, tulisan ini ingin menghimba agar para pemimpin merasa berdosa kalau tidak menuliskan apa yang dilihatnya, gagasan-gagasannya, apa yang dilakukannya dan sekaligus memberikan pemaknaan yang benar kepada orang-orang yang dipimpinnya dan generasi sesudahnya. Soekarno dan Salomo! Soekarno dan Salomo (mungkin ada yang lain, tapi ini yang saya banyak baca) adalah dua orang yang sangat menginspirasi kami membaca kisah para pemimpin, sekaligus menuliskan kisah-kisah kehidupan. Yang satu adalah pendiri negara ini dan yang satu adalah orang yang menjadi pedoman saya dalam kehidupan beragama dan kepemimpinan. Mereka hidup jauh di belakang saya. Sukarno meninggal saat saya masih di kelas tiga Sekolah Dasar, sedangkan Salomo meninggal ribuan tahun sebelumnya. Keduanya saya kenal melalui karya-karya tulis, renungan-renungan mereka akan bangsanya dan akan Tuhan. Ditambah dengan bacaan dari buku-buku tentang ulasan-ulasan orang lain tentang mereka. Bung Karno dengan buku yang ditulisnya sendiri ”Dibawah Bendera Revolusi”, mampu mengispirasi saya mencintai bangsa ini, mengenal Bung Karno, membaca gagasan-gagasannya, cita-citanya, kegiatannya tahun demi tahun, sejak 1926 bahkan jauh sebelumnya. Bung Karno mencatat dengan baik apa yang dilakukan sejak ia terlibat dalam pergerakan kemerdekaan. Bahkan setelah menjadi presiden, pidato-pidatonya yang berapi-api, dapat dibaca dalam dua jilid buku tebal yang dicetak dengan luks. Mungkin kini buku itu sudah langka, dan hanya dimiliki beberapa orang di Indonesia ini. (Bahkan buku saya satu jilid terbawa seorang anggota pemuda GKPS dan mudah-mudahan mau membacanya). Seorang pemimpin besar di dalam kitab Perjanjian Lama, orang terkaya di dunia, Raja Salomo, mewariskan sekumpulan karya gemilang, seperti kitab Amsal (yang bisa dibaca setiap hari sesuai tanggal bulan yang memiliki 31 hari—karena tiga puluh satu ayat). Buku ini juga diulas ribuan bahkan jutaan orang, dan menjadi sumber inspirasi miliaran penduduk bahkan para pemimpin dunia saat ini. Sebuah warisan fundasi kehidupan dan kepemimpinan yang tidak ada duanya hingga kini. Salomo mengajarkan kita kepada kehidupan dan kepemimpinan yang sempurna. Kesalahan atau keingkaran kita kepada perintah Tuhan adalah awal dari kejatuhan kita.. Rasanya, saya tidak pernah bertemu dengan keduanya, apalagi bertatap muka. Tetapi saya seolah mengenal mereka secara dekat. Mengenal kecintaan mereka kepada bangsanya. Mengenal perjuangannya dalam memperjuangkan bangsanya. Seolah mengalami apa yang mereka alami. Membuat saya begitu mengagungkan mereka sekaligus mampu melihat kesalahan-kesalahan yang mereka akui sendiri. Dan itu hanya kecil dibanding milai yang mereka sumbangkan bagi bangsa dan dunia ini. Sampai-sampai saya bisa mengatakan Right or wrong he is my hero, wright or wrong Sukarno and Salomo my leader. Yang baik dipetik sebagai sebuah pedoman dan yang salah tidak diulangi lagi. Saya tidak membabibuta memberikan penilaian, tidak hanya melihat mereka dari sisi negatif. Saya seolah mengenal dan meraskan apa yang dirasakan Raja Salomo, ketika dia sedang di atas singgasananya dan bagaimana dia jatuh oleh pelanggaran yang dilakukannnya sendiri, serta bagaimana dia memaknai tindakannya dan memberikan nasehat kepada generasi sesudahnya. Sebuah pelajaran refleksi atas kepemimpinannya, kehidupannya!. Para Pemimpin, Tulislah Apa yang Anda Kerjakan!. Kini dalam dunia modern dengan manajemen modern, muncul kesadaran atas menuliskan proses unggul (excellent process).”Tuliskan apa yang anda kerjakan dan kerjakan apa yang anda tuliskan”. Kalimat yang terus melekat di kepala kami ketika mengerjakan sebuah proses meraih pengehargaan ISO 9000 pada perusahaan tempat kami bekerja pertengahan dekade 1990-an. Menuliskan apa yang dilakukan dan mengerjakan apa yang dituliskan, sama seperti yang dilakukan Bung Karno sebagai pemimpin tertinggi negeri ini, sama seperti yang dilakukan Salomo ribuan tahun lalu. Sesuatu usaha di tengah-tengah kesibukan mereka sebagai pemimpin. Suatu kerinduan seorang pemimpin akan pentingnya warisan yang mengedepankan keagungan, ketimbang apa yang kelihatan secara fisik. Tugas yang kini banyak diabaikan para pemimpin yang hidup pada masyarakat ”buta baca dan lumpuh menulis”, istilah yang diberikan Taufik Ismail atas situasi generasi kita sekarang ini Pewarisan pengalaman dan karya kepada generasi sekarang dan di masa yang akan datang, tidak kalah pentingnya dengan capaian-capaian para pemimpin pada jamannya. Kurangnya catatan para pemimpin atas apa yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah jemaat (bagi pemimpin gereja) selama ini mungkin merupakan sebuah sebab mengapa para anak-anak muda tidak begitu memahami bila sesuatu terjadi. Tidak ada pedoman yang cukup untuk memaknai sesuatu. Andaikata gagasan, renungan dan cita-cita Bung Karno dan Raja Salomo tidak terdokumentasi, tentu pemahaman akan sesuatu yang begitu bernilai, tidak mungkin kita peroleh saat ini. Jalan pikiran seorang pemimpin melalui tatap muka dan pidato tentu hanya bisa ditangkap dan dipahami sejauh mereka yang terlibat di sana. Kemudian diceritakan dengan sedikit reduksi atau penambahan dan tidak sebagaimana mereka alami sendiri. Saya tidak mungkin mengetahui sedalam dan seintensif membaca jalan pikiran Bung Karno dan Raja Salomo yang tertulis dalam buku-buku dan dokumentasi. Saya bisa belajar dari mereka kapan dan dimana saja, demikian juga generasi-generasi sesudah saya dan kita yang hidup sekarang ini. ”Kita telah memasuki era baru dalam manajemen bisnis—sebuah masa dimana para pemimpin menjadi penjaga sejarah sekaligus masa depan organisasi”, ujar Clark Evelyn. Mungkin statemen di atas belum seluruhnya bisa diterima para pemimpin saat ini, tapi semoga kealpaan para pemimpin kita tidak menimbulkan masalah yang akan kita hadapi kelak, ketika suatu saat kita generasi sesudah kita tidak memiliki pemaknaan yang benar atas perjalanan bangsa atau perjalanan sebuah organisasi dimana kita bernaung. Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-64.! *)Mantan Perutusan Synode Bolon GKPS (1998-2003) dan kini Wakil Pengantar Jemaat GKPS Simalingkar |