|
There are no translations available.
100 TAHUN INJIL DI NAGASARIBU DIRAYAKAN
25 Oktober 2009 lalu, jemaat di sekitar Nagasaribu merayakan Seratus Tahun Injil Nagasaribu dirayakan dalam sebuah Kebaktian Minggu yang dipimpin Ephorus GKPS, Pendeta Belman P Dasuha, STh.
Sebelum acara kebaktian dilakukan acara prosesi dari bekas Lopou dan Bale. Garis start prosesi adalah bekas Lopou, tempat pertemuan dimana guru Naik Sitompul memulai tugasnya sebagai guru Zending, pada 1907. Dua tahun sesudah guru Naik memulai kegiatan mengajar di Lopou, dilakukan baptisan (pandidion) pertama atas Maria boru Girsang pada 20 September 1909. (Buku Kenanangan Jubileum 75 Tahun GKPS Nagasaribu, 1984). Barisan dijejer dari belakang berturut-turut--anak-anak, remaja, pemuda para orang tua. Di depan mereka terlihat rombongan pendeta, seperti Pendeta Belman P. Dasuha (Ephorus GKPS), Pendeta Junisman Saragih, STh, Pendeta Jimmie Sinaga, STh, Pendeta Rosmaladewi br Munthe, STh, dan para penginjil wanita, para perantau seperti St SN Girsang (Medan), Jahmada Girsang SH (Jakarta) serta barisan rombongan musik tiup di barisan paling depan. Tiupan lima orang pemain terompet dan dentuman suara yang ditabuh pemain drum memecah keheningan kampung dan bergerak melintasi jalan yang membelah kampung menuju gereja GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), Pamatang Nagasaribu. Beberapa saat kemudian, rombongan tiba di gerbang gereja. Rombongan yang dipimpin Pendeta Belman P Dasuha, Ephorus GKPS disambut kalungan bunga dari Ir Santra Girsang, Ketua Umum Panitia Perayaan Jubileum 100 Tahun Injil di Nagasaribu. Enam orang perempuan mengenakan bulang dan suri-suri menampilkan Tortor Somba, sebuah simbol orang Simalungun mengucapkan selamat datang kepada tamu.
Ruangan gereja dengan dilengkapi altar berkapasitas 600 orang itu tidak mampu menampung para jemaat yang hadir termasuk dari gereja tetangga di sekitar desa itu, serta para perantau. Anak-anak memenuhi altar gereja, para orang tua duduk bersila di tikar dan sebagian duduk di kursi yang disediakan terbatas. Di luar gereja, di samping sebelah kanan dan Barat, dipasang taratak yang mampu menampung sekitar 200 orang. Momen Marhira Di hadapan sekitar 800 jemaat, Ephorus GKPS Pendeta Belman P Dasuha dalam khotbahnya yang diambil dari Josua 1:6-9, mengatakan bahwa peraaan 100 Tahun Injil di Nagasaribu adalah sebuah momen marhira (berhitung) bagaimana Tuhan telah mengenalkan dirinya melalui Injil 100 tahun yang lalu. Terang Injil tersebut telah membuka mata iman dan pengetahuan penduduk. ”Selama seratus tahun penduduk kampung Nagasaribu telah berkembang tidak hanya di kampung itu sendiri tetapi penduduk yang berasal dari kamung ini sudah berkarya di berbagai bidang dan di berbagai tempat. Semuanya harus terus ditingkatkan,”ujarnya. Kini, seratus tahun kemudian, jumlah jemaat GKPS di sana sudah mencapai 4632 jiwa dan tersebar di berbagai jemaat, yakni GKPS Tigaraja (384 jiwa), GKPS Pamatang Nagasaribu (1012 jiwa), GKPS Mardingding (1274 jiwa), GKPS Sippan (475 jiwa), GKPS Sinar Nagamaria (588 jiwa), GKPS Bandarsaribu Sukadame (453 jiwa) dan GKPS Nagabaru (384 jiwa). Selain itu, penduduk yang berasal dari kampung ini telah tersebar di seluruh wilayah nusantara. Mereka telah mengalami kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan. ”Keadaan ini harus disyukuri sebagai berkat Tuhan,”lanjut Ephorus GKPS yang di era 1980 pernah menjadi pendeta Resort di Nagasaribu. Usai kebaktian, Ephorus menandatangani prasasti Peringatan 100 Tahun Injil di Nagasaribu. Prasasti ini akan ditempel di depan gereja sebagai pertanda bagi generasi mendatang. Selain itu, Panitia menyerahkan cendera mata kepada mereka yang pernah melayani di sana, seperti para pendeta, pengantar jemaat serta penginjil. Pendeta Armencius Munthe (mantan Ephorus GKPS) adalah salah seorang pendeta yang pernah melayani di Nagasaribu. Ephorus GKPS sekarang, Pendeta Belman P Dasuha juga pernah melayani di jemaat itu di era 1980-an, turut mendapat cendera mata. Demikian pula dengan puluhan orang tua yang berusia lansia atau dikenal sebagai ”Parminggu Na Matua, juga menerima bingkisan. Kebaktian dihadiri oleh Para Pengantar Jemaat (Vorhanger) GKPS di sekitar GKPS Pamatang Nagasaribu, seperti Sippan, Tigaraja, Nagabosar, para perantau asal daerah itu yang bermukim di berbagai kota di Indonesia, serta Camat Kecamatan Pamatang Silima Kuta, Pendeta Resort Nagasaribu, Pendeta Jimmie Sinaga STh, Penginwil Wanita Rosdamenni Purba. Dalam sambutannya St Drs SN Girsang mewakili undangan mengatakan bahwa para perantau seperti dirinya tetap merasakan ikatan yang kuat dengan jemaat di Nagasaribu. ”Saya mendapat pendidikan di kampung ini. Sekolah kami di Saba Bolak, ketika itu masih sebuah gubuk. Kami mengenal pengajaran pengetahuan dan awal pengetahuan tentang Kristen di sekolah itu”, ujarnya, didampingi salah seorang anaknya Rudy Girsang yang kini mengkhusukan dirinya bekerja di pelayanan jemaat dan sedang menekuni pendidikan teologia. Kegiatan Menyambut Perayaan Sebelum puncak perayaan 25 Okotber 2009 itu, dilaksanakan serangkaian kegiatan seperti kebaktian di jemaat jemaat, kunjungan pastoral kepada jemaat yang sedang menderita sakit, pembinaan Majelis Jemaat, pertandingan olah raga dan penanaman pohon, Kebaktian Penyegaran Iman dan Napak Tilas. Untuk mendukung program pemerintah dalam penanaman pohon di sekitar desa, jemaat juga melakukan penanaman pohon. Sore hari 24 Oktober 2009, tahap awal penanaman 20 ribu pohon dimulai di sekitar pekarangan gereja. ”Penanaman pohon ini akan dilanjutkan secara bertahap,”ujar Ir Santra Girsang. Bibit pohon seluruhnya dibanti oleh Pelpem GKPS. Pertukaran pengalaman antar jemaat juga digelar malam Minggu menjelang perayaan. Sekitar 35 orang anggota Seksi Bapa GKPS Simalingkar, Medan melaksanakan Kebaktian Penyegaran Iman bersama dengan seksi Bapa GKPS Nagasaribu dan seluruh jemaat di Nagasaribu dan kampung sekitarnya. Kebaktian yang berlangsung malam hari itu mewarnai keceriaan jemaat. Pada kesempatan itu Pembimbing Bapa Drs Juniansen Sipayung dan Ketua Bapa GKPS didampingi dan Pengantar Jemaat GKPS Simalingkar St Amer Saragih menyerahkan bahan Koor Bapa untuk mendorong kegiatan Bapa di jemaat-jemaat di Resort Nagasaribu.
Seksi Publikasi Panitia |