Bahan Renungan Mingguan/PA Namaposo GKPS, 28 Juli 2024 (IX Dob Trinitatis)
Nas: Pengkhotbah 1:12-18
Usul Doding: Haleluya no. 207:1-2
Tema: Membulatkan Hati untuk Memahami Hikmat Tuhan
Tujuan: Agar Namaposo Memberi Diri dan Fokus untuk Memahami Hikmat yang dari Tuhan
Hikmat Allah dalam Laku Hidup
Tim Penulis
Teman-teman yang terkasih di dalam Yesus Kristus, Sang Teladan Hikmat yang hidup. Jikalau kita ditanya “apakah masa muda kita sudah hidup dengan hikmat? Apakah kita menjalani laku hidup kita sehari-hari dengan penuh hikmat?” Pertanyaan ini mungkin akan sulit terjawab. Mengetahui hidup yang penuh dengan hikmat atau tidak, pada dasarnya kita harus mengetahui arti dari hikmat itu sendiri dan laku hidup seperti apa yang dikategorikan penuh hikmat? Hikmat sendiri tentu terbagi dalam dua versi: hikmat dari Allah dan hikmat manusia sendiri.
Hikmat adalah sebuah kemampuan dari seseorang untuk menilai sesuatu, baik terhadap orang lain, benda-barang, kejadian atau situasi. Hikmat Allah pada dasarnya adalah kemampuan kita untuk menilai berbagai hal berdasarkan maksud tujuan dan kehendak dari Allah. Kemampuan ini dimiliki oleh seseorang dari relasi yang intim yang dibangunnya bersama dengan Allah. Di dalam Alkitab, kita dapat belajar banyak tentang hikmat dari tokoh-tokoh Alkitab yang sikap, perilaku, bahkan pengambilan keputusan hidupnya didasarkan pada kehendak Allah. Akan tetapi, kontra dari hikmat Allah ini adalah hikmat yang berasal dari diri kita sendiri. Hal ini berarti kemampuan yang kita miliki untuk menilai dan berperilaku didasarkan pada keinginan dan kehendak diri sendiri.
Setiap manusia, termasuk kita namaposo sering kali mengalami kesulitan untuk memaknai hidup kita, apakah sudah berjalan sesuai dengan hikmat Allah atau tidak. Hal itu didukung dari realitas psikologi-kejiwaan bahkan perilaku kita sebagai kaum muda yang masih rentan melakukan kehendak diri sendiri dalam proses pencarian-pembentukan jati diri. Tidak sedikit pemuda kristiani, termasuk namaposo GKPS, yang tampak luarnya sering beribadah, aktif dalam kepengurusan-kepanitiaan gerejawi, tetapi sisi lain yang tidak ditunjukkannya telah berlawanan dari laku hidup seorang Kristen. Hal ini nyata terlihat dari banyaknya kasus di sekitar kita, pemuda Kristen yang terjebak dalam pergaulan bebas. Selain daripada itu, saat ini tingkat keaktifan namaposo GKPS dalam persekutuan-persekutuan telah mengalami penurunan. Hal tersebut sedikitnya dipengaruhi oleh pilihan-pilihan kebebasan di sekitar kita yang semakin banyak dan luas. Tidak sedikit juga kita yang memiliki rasa malu untuk tidak ikut serta dalam persekutuan-persekutuan, dan/atau mengikutinya berdasarkan keterpaksaan. Tergerusnya semangat namaposo dalam komunitas pemuda Kristen sejalan dengan perkembangan zaman hedonisme, materialisme, dan bahkan dalam perkembangan teknologi.
Kita mungkin sering mengalami atau menjumpai orang lain-sesama namaposo yang mempertanyakan “apa pentingnya persekutuan? Bukankah keimananku itu adalah urusan pribadiku dengan Tuhan? Apa keuntungan jika aku aktif ikut persekutuan-persekutuan yang hanya membuang-buang waktu dan melelahkan?” Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin saja tidak secara frontal diungkapkan kepada yang lain, tetapi telah banyak namaposo yang sudah memiliki perspektif seperti ini di dalam dirinya yang menjadikannya tidak memiliki beban-kejanggalan atau ketidaknyamanan ketika tidak mengikuti persekutuan-persekutuan (pemuda) Kristen. Apakah di antara kita ada yang sedang menggumuli hal serupa? Atau apakah di antara kita ada yang pernah memiliki perspektif sedemikian?
Ya, singkatnya spiritualitas-pemaknaan iman kita kepada Allah berada di ruang personal kita masing-masing, akan tetapi sikap individualis-apatis terhadap persekutuan komunal Kristen juga bukan pilihan yang dikehendaki oleh Tuhan. Bentuk dari kualitas spiritualitas personal kita pada dasarnya harus diwujudkan dengan memberikan diri turut serta dalam persekutuan komunal itu. Kita semua diundang oleh Allah untuk secara bersama-sama mensyukuri hidup dan memuji Dia atas kuasa-Nya dalam hidup kita. Perilaku inilah yang menjadi salah satu tanda dari hidup yang dijalankan berdasarkan hikmat dari Tuhan. Hikmat untuk memiliki kemampuan memberikan diri secara bersama-sama berpartisipasi dalam persekutuan Kristen. Ini adalah dasar hikmat yang harus kita miliki dalam lingkup relasi rohani kita, sehingga kita semakin memiliki hikmat dalam relasi sosial kita masing-masing.
Dengan kata lain, relasi iman kita akan diwujudnyatakan dalam relasi sosial di laku hidup kita sehari-hari. Acuan laku hidup namaposo Kristen tidak lagi didasarkan pada pengertiannya sendiri, akan tetapi selalu didasarkan pada kehendak Allah atau nilai-nilai iman yang dipahami dan dirasakannya. Hikmat dalam laku hidup sehari-hari bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari dengan mengandalkan pikiran sendiri, akan tetapi secara bersamaan muncul berdasarkan pemaknaan hubungannya dengan Tuhan. Hal inilah yang ditekankan oleh Pengkhotbah pada nas renungan kita saat ini.
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus, Pengkhotbah menekankan tentang ‘hikmat’ yang dia pahami adalah kesia-siaan layaknya menjaring angin. Usaha untuk mempelajari hikmat dengan akal dan pikiran adalah kehampaan dan hanya melelahkan hati dan jiwa. Hikmat yang dipelajari tersebut pada dasarnya hanya difokuskan pada dirinya sendiri dan untuk terlihat ‘baik’ di mata manusia yang lain. Melalui ini kita memahami bahwa hikmat pada dasarnya bukan untuk ‘meninggikan’ manusia di mata yang lain, akan tetapi ditujukan untuk kemuliaan Allah itu sendiri. Setiap kita namaposo GKPS yang masih dalam proses pencarian jati diri, hal untuk meninggikan diri sendiri masih sangat rentan terjadi. Oleh sebab itu, Pengkhotbah melalui nas renungan kita hari ini mengingatkan kita untuk senantiasa membangun relasi yang intim terlebih dahulu bersama Allah untuk kemudian menjalani hidup penuh dengan hikmat yaitu semata-mata untuk memuji dan memuliakan Allah. Sudahkah kita memiliki relasi yang intim dengan Tuhan? Tentu ke-intim-an relasi setiap kita dengan Tuhan bukanlah sesuatu untuk dipamerkan kepada orang lain, tetapi marilah kita mempertanyakan dan menjawabnya di dalam hati kita masing-masing melalui refleksi atas laku hidup yang kita lakukan sejauh ini.
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus, bagaimanapun juga Tuhan itu adalah Maha Pengampun dan Maha Kasih. Tidak satu pun di antara kita yang lepas dari kasih pengampunan dan pertolongan Tuhan. Akan tetapi, melalui renungan kita hari ini senantiasa kita diajarkan untuk takut akan Tuhan, memiliki hikmat daripada-Nya, melalui hubungan yang erat dengan-Nya. Hal itu dapat kita mulai-lanjutkan sejak saat ini untuk semakin tekun membaca-renungkan Firman Tuhan. Kita melakukannya melalui persekutuan-persekutuan atau dengan meluangkan waktu tersendiri untuk melakukannya secara mandiri. Oleh sebab itu, melalui hikmat dari Tuhan, kita diharapkan untuk memiliki sikap yang rendah hati, kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, begitu pun bersikap adil dan murah hati. Kerendahhatian yang terbangun akan memudahkan kita menerima kebenaran, kesediaan untuk belajar dan mengambil pelajaran hidup dari orang lain, termasuk tidak merendahkan atau menyepelekan orang yang kita jumpai. Hikmat melalui sikap adil dan murah hati ini juga akan menolong kita untuk merasakan suasana hati yang damai. Memaknai diri sebagai utusan dan perpanjangan tangan Tuhan di dunia akan meringankan tangan kita untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Bukan karena rasa kasihan tetapi pada dasarnya kita merefleksikan pertolongan Tuhan yang kita rasakan yang harus kita lanjutkan untuk juga menolong orang lain.
Saudara-saudara sadarkah kita bahwa suasana hati yang damai karena hidup penuh hikmat tersebut akan menjauhkan kita dari rasa stres, keputusasaan, dan kejenuhan hidup di tengah-tengah kompleksitas situasi yang kini terjadi? Ada begitu banyak orang yang melakukan perilaku ‘menyimpang’ yang dianggap menyenangkan atau menenangkan. Hal ini marak terjadi misalnya menggunakan narkoba, obat-obatan terlarang, pergi ke club malam, atau minum-minuman beralkohol, bahkan tidak sedikit juga yang melakukan bunuh diri. Ada begitu banyak kasus-kasus ini yang dapat kita searching melalui internet. Tentu kita tidak bermaksud untuk menyepelekan setiap masalah yang mereka alami dan juga tidak untuk men-judge, tetapi saudara-saudara yang terkasih, hikmat yang dari Tuhan diharapkan memberi kita kedamaian dalam hati, menuntun kita dalam penguasaan diri, kebijaksanaan menilai dan mengambil sikap atas apa yang kita alami. Perilaku yang tampak terkadang tidak memberi gambaran sepenuhnya atas apa yang kita rasakan.
Oleh sebab itu saudara-saudara, melalui renungan kita hari ini kita diajar untuk terlebih dahulu memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, meminta hikmat kebijaksanaan, dan kita diharapkan dapat mewujudkan hikmat melalui sikap-perilaku hidup kita sehari-hari. Melaluinya kita juga dapat hadir sebagai penolong terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Semoga kita dapat menjadi pelaku kasih Allah, meneladani hikmat Yesus Kristus, melalui pertolongan Roh Kudus. Amin.