IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS Kamis, 17 September 2020

Ibadah Harian Keluarga GKPS
Kamis, 17 September 2020

1. Doding Haleluya No 394:1+4

Sai pasada Ham ma Tuhan, haganupan kuria-Mu.
Ase tong irahut bani holong-Mu, janah sipangihut bai aturan-Mu

Ham do pangamudi Tuhan, pambobai na gogoh tumang.
Na gabe haposan, tiang na gogoh, sonang au mardalan ‘ge gilumbang roh.

2. Tonggo

3. Ayat Harian: Mateus 7:1

Ulang hanima manguhum-uhumi, ase ulang hona uhum hanima
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

4. Renungan

Jemaat Tuhan…
Leo Tolstoy (sastrawan dan novelis Rusia) pernah berkata: “Banyak orang yang berambisi ingin mengubah dunia, mengubah hidup orang lain, tetapi terlalu sedikit orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”. Sepintas kita pasti menyetujui pernyataan ini, karena faktanya pernyataan itu memiliki nilai kebenaran. Seperti yang dituliskan dalam nas hari ini (kelanjutan dari khotbah di bukit) Yesus dengan tegas mengajarkan pola hidup yang seharusnya dilakoni oleh setiap orang, perilaku yang selayaknya dipraktekkan, baik terhadap Allah maupun manusia. Bukan tanpa alasan Yesus mengajarkan hal ini, karena sejatinya Yesus ingin memberi teguran bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, yang kecenderungannya suka menghakimi orang lain dan membenarkan diri.

Melalui nas ini Yesus mengajarkan sikap yang tepat dalam membangun relasi dengan sesama. Kalimat, “Jangan menghakimi” seharusnya dipahami dengan kerangka berfikir bahwa Yesus bukan anti pada sikap menegur kesalahan orang lain, anti pada nalar kritis yang dapat membedakan mana yang benar, mana yang salah, tetapi Ia mengecam orang yang menilai dengan cara yang keliru. “Jangan menghakimi!” bukan juga dipahami sebagai sikap tidak peduli dan menutup mata dengan kesalahan orang lain, tetapi dilihat dengan cara seseorang melihat dosa/kesalahan orang lain dengan agresif, tetapi toleran dengan dosanya sendiri, suka mencari kesalahan orang lain, tetapi tidak mau melihat kesalahannya. Menghakimi berarti menggambarkan sikap pihak lain bersalah sementara dirinya tidak bersalah, menganggap bahwa dirinya lebih layak dibandingkan dengan orang lain, sehingga dia memiliki “kewenangan untuk menghakimi orang lain”.

Jemaat Tuhan..
Kelanjutan dari kalimat di atas yaitu “supaya kamu tidak dihakimi”. Kalimat ini harus dipahami sebagai sebuah ajaran Yesus yang menyatakan bahwa Ia sendiri yang menjadi hakim, dan hanya Dia yang berwenang untuk menghakimi. Artinya bila kita menghakimi orang lain, sebenarnya kita telah “merampas” kewenangan-Nya sebagai Hakim yang Agung bagi manusia. Dalam membangun relasi dengan sesama, seyogianya relasi itu dibangun dengan berlandaskan sikap saling menopang, tidak menjatuhkan. Tidak seorangun sempurna yang tidak melakukan kesalahan dalam kehidupannya, tetapi dalam relasi dengan sesama sebaiknya biarkan Allah yang menjadi hakim atas dia dan atas kita yang berbuat dosa, tanggunjawab kita adalah tetap membangun nalar kritis kita untuk semakin sempurna dalam hal membedakan mana yang benar, mana yang salah, sembari mencoba melihat keberadaan kita secara jujur. William Barclay pernah menyatakan: “Salah satu disiplin rohani yang sangat terabaikan pada masa kini adalah evaluasi diri (self-evaluation).” Maka ini saatnya bagi kita untuk menata relasi lebih kokoh dengan tidak merampas kewenangan-Nya dan tetap menata hidup kita menuju lebih sempurna. Amin.

5. Doding Haleluya No. 372:1

Sai pasiat Tuhan Jesus, roh hubagas uhurmin,
Tarpaimaima Jesus bogei panuktuk-Ni in,
Sai pasiat Tuhan Jesus, das hubagas uhurmin,
nuan ari paridopan, ulang sompat salpu in.

6. Tonggo Ham Bapanami / Doa Bapa kami

Departemen Persekutuan GKPS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.