IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS Selasa, 10 November 2020

Ibadah Harian Keluarga GKPS
Selasa, 10 November 2020

1. Doding Haleluya No. 497:1

Holong ni Jesus manggomgom ganup kuria
Na patotapkon hasadaonta in.
Damei-Ni in ma manrahut paruhuranta,
Idop uhur-Ni batar-batarta in
Damei-Ni in ma manrahut paruhuranta,
Idop uhur-Ni batar-batarta in.

2. Tonggo

3. Ayat Harian: Epesus 4:29

Ulang ma luar hata na mabutak humbani pamangannasiam, tapi na madear ma, na boi pauli-ulihon na hurang, ase dapotan ulih, na mambogeisi.
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4. Renungan

“Mulutmu adalah harimaumu”, adalah ungkapan klasik yang sangat relevan dengan nas kita hari ini. Mulut adalah asal dari perkataan manusia yang dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baik dan indah dan yang sangat mengesankan. Perkataan juga sering dipakai untuk memenangkan suatu perdebatan atau untuk mempertahankan pendapat dan diri sendiri. Akan tetapi kita juga dapat memakai perkataan untuk berbohong dan menipu. Kata-kata dapat dipergunakan untuk melakukan banyak hal, namun Allah menginginkan kita mempergunakan perkataan kita untuk memberkati. Oleh karena itu, ketika kita berbicara, jika kata-kata kita tidak memberi berkat dan manfaat bagi orang yang mendengarnya, kemudian adalah lebih baik kita tidak mengatakan sesuatu apapun. Nasihat para leluhur kita sangat benar, bahwa “Jika kamu tidak mampu mengatakan sesuatu yang baik dan indah, lebih baik jangan katakan sesuatu apapun.” Yesus juga mengingatkan bahwa: “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:11).

“Perkataan kotor” yang disebut nas ini, dalam bahasa aslinya dapat juga diterjemahkan dengan “perkataan jahat”. Perkataan jahat adalah perkataan yang bersifat korosif, sebagaimana kita ketahui bahwa segala yang korosif cepat atau lambat akan menghancurkan dan menggerogoti apapun yang ada padanya. Kadangkala kerusakan atau karat yang diakibatkannya dapat terlihat dan sering juga tidak kelihatan. Demikianlah “perkataan kotor atau jahat “ dapat menghancurkan. Dia dapat meruntuhkan orang sedikit demi sedikit. Kadang kita dapat melihat apa yang diakibatkannya namun di waktu yang lain efeknya tidak terlihat secara kasat mata. Seseorang mungkin berkata: “Kan orang yang saya ceritakan tidak mengetahui apa yang saya katakan tentang dia?” Bisa saja. Namun kita harus juga menyadari akibat dari perkataan kita bagi orang yang mendengarkan apa yang kita katakan tentang orang lain tersebut. Tidakkah kita sadar bahwa kata-kata kebencian, cacian, kecemburuan, kemarahan, cemohan akan menjadi sesuatu yang korosif bagi orang yang mendengar apa yang keluar dari mulut kita? Walaupun tidak secara langsung diarahkan kepada orang yang kita ceritakan, namun semua perkataan kita dapat merusak orang-orang yang mendengarkannya.

Perkataan kita dapat memberi akibat bagi orang di sekitar kita baik positif maupun negatif. Seberapa seringkah kita terlebih dahulu memikirkan akibat dari perkataan kita sebelum kita utarakan? Seringkali lebih mudah langsung berbicara dulu baru kemudian memikirkan apa akibat dari perkataan kita. Mulut lebih cepat daripada otak, bahkan saat ini jari lebih cepat daripada otak. Ungkapan kuno mengatakan: “Aktifkan terlebih dahulu otakmu sebelum menggerakkan mulutmu” dan pepatah Simalungun bila diterjemahkan dikatakan: “Jilat terlebih dahulu bibirmu baru kemudian berkata-kata.” Mulut atau jari kita sering lebih berkuasa sementara otak tidak kita libatkan selain sebagai penonton atau pendengar saja. Sebaliknya, bila perkataan dan tulisan kita dikritik orang, maka serta merta kita membela diri dan mempertahankan pendapat kita. Meski reaksi cepat tidak selalu yang terbaik. Karena yang terbaik adalah, sebelum berkata atau merespon mari terlebih dahulu kita pikirkan apakah perkataan atau respon kita benar-benar membangun, memberikan kebaikan dan kasih karunia bagi orang lain. Selaku orang percaya, mari hindarilah perkataan yang korosif dan respon yang menambahkan ‘minyak ke dalam api’ dari mulut kita. Amin.

5. Doding Haleluya No. 5:6

O Jesus, GoranMu uhirhon, bagas, torang bai uhurhon,
Ase tarsurat ilobeihu holongni ateiMu tongtong,
Hatangku ampa parlahouhu, ningon ipuji do GoranMu.

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa kami

Departemen Persekutuan GKPS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

© 2021: GKPS | KABBO Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress