Jl. Pdt. J. Wismar Saragih Pematangsiantar
+62622 23676
info@gkps.or.id

IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS Kamis, 29 Juli 2021

GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN

IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS Kamis, 29 Juli 2021

Ibadah Harian Keluarga GKPS
Kamis, 29 Juli 2021

1. Kidung Pujian: “Bapa Sorgawi”

Bapa sorgawi ajarku mengenal betapa dalamnya kasih-Mu
Bapa sorgawi buatku mengerti betapa kasih-Mu padaku
Semua yang terjadi, di dalam hidupku, ajarku menyadari Kau sertaku
B’ri hatikku s’lalu bersyukur pada-Mu, karna rencana-Mu indah bagiku

2. Tonggo

3. Ayat Harian: Sakaria 7: 10

Ulang odoh-odoh na mabalu, na so marinang, na so marbapa, pakon panginsolat atap na musil; anjaha ulang ma adong humbannima na mamingkirhon na jahat dompak hasomanni ibagas uhurni.
Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing.

4. Renungan

Jemaat Tuhan
Nas kita hari ini sangat terkait dengan ayat-ayat sebelumnya, dengan menekankan bahwa dalam kondisi bangsa Israel yang berbuat dosa, maka mereka menerima konsekuensi dari dosa itu. Mereka datang kepada Allah untuk meminta pengampunan dari Allah, dan salah satu hal yang dilakukan bangsa itu adalah dengan melaksanakan ibadah melalui tradisi puasa, berharap hati Allah melunak. Dalam hal ini Allah melalui Zakharia yang diangkat menjadi nabi bagi bangsa Israel dan sebagai perantara Allah untuk menyatakan kehendak Allah bagi umat-Nya, melihat dan mengkritisi apa yang dilakukan oleh bangsa Israel. Allah mengakui bahwa mereka melakukan ibadah dengan berpuasa (ay.5), tetapi persoalannya apakah mereka berpuasa untuk Allah? Dan ketika mereka makan dan minum, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan daging mereka saja. Bukan ibadah yang seperti ini yang diinginkan Allah. Allah melalui Zakharia menyampaikan kritikannya bahwa perlu melihat kembali apa yang menjadi motivasi dari peribadatan bangsa Israel dalam konteks mereka meminta kelunakan hati Allah terhadap mereka.

Jemaat Tuhan
Allah tidak hanya mengkritik model ibadah bangsa itu, tetapi Ia menyampaikan apa yang harus dilakukan oleh bangsa itu sehingga hati Allah kembali kepada mereka. Sangat menarik bila Allah menyoroti tentang bagaimana bangsa itu hidup dengan harmonis dan menjalankan prinsip keadilan kepada sesama. Maka nas kita menekankan kelompok yang mendapat perhatian khusus dari Allah, yaitu janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin. Adalah hal yang menyenangkan Allah bila umat-Nya melakukan kebaikan kepada setiap orang dan dalam hal ini khususnya kepada kelompok yang dituliskan di atas. Esensi dari ibadah itu terletak pada saat seseorang mampu menyatakan kebaikan kepada sesama, jadi bukan hanya persoalan puasa, tetap lebih kepada perbuatan apa yang dilakukan sebagai wujud ibadah kepada Tuhan. Berbuat baik, tidak semena-mena, mampu memperlihatkan dan menyajikan keadilan kepada setiap orang. Di situlah hakikat ibadah itu sendiri dan hal itulah yang dapat melunakkan hati Allah. Allah tidak menginginkan adanya praktek kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan yang sering diterima oleh janda, anak yatim, orang asing, dan orang miskin. Sebegitu seriusnya Allah, bahkan sampai merancang kejahatan dalam hatimu pun dilarang oleh Allah. Karena sejatinya kemarahan dan kebencian dalam hati terhadap sesama sangat jelas dilarang. Iman dan kesalehan harus berjalan berdampingan. Agama tanpa moralitas adalah sia-sia dan merupakan suatu penghinaan; moralitas tanpa agama yang benar atau tanpa kesalehan berarti tidak memiliki landasan yang tepat dan hanya bersifat sementara. Hal ini yang diharapkan Allah kepada umat-Nya.

Jemaat Tuhan
Tentu nas ini tidak hanya ditujukan kepada bangsa Israel, tetapi kepada kita saat ini, bahwa Allah menginginkan kita dalam memperlihatkan keimanan kita kepada-Nya melalui kepekaan kita terhadap sesama. Kita mampu berbuat baik, kita mampu tinggal dan hidup dalam harmoni yang dirancang Allah untuk umat-Nya. Dia ingin kita menghidupi keseimbangan antara moral dan agama, karena itulah ibadah yang sejati bagi umat-Nya. Sehingga akhirnya tidak ada yang tertekan dan menekan, tidak ada yang tertindas dan menindas, tetapi semua hidup dalam harmoni yang indah. Itulah ibadah yang sejati. Amin.

5. Doding Haleluya No. 216:1+3 “ Tonggor ma Jenges ni in”

Tonggor ma jenges ni in, ganup na sauhur in,
Parpambaenan na bujur, ‘ge hata-Ni pe botul.

Ai usih bai namur do, mangarbahi hajojojor.
Jenges ni parsaoraniin, ganup na sauhur in.

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa kami

Departemen Persekutuan GKPS