Jl. Pdt. J. Wismar Saragih Pematangsiantar
+62622 23676
info@gkps.or.id

IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS Kamis, 16 September 2021

GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN

IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS Kamis, 16 September 2021

IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS
Kamis, 16 September 2021

1. Doding Haleluya No. 497:1-2 “Holong ni Jesus Manggomgom”

Holong ni Jesus manggomgom ganup kuria, na patotapkon hasadaonta in. Damei Ni in ma manrahut paruhuranta, Idop uhur Ni batar-batar ta in
Damei Ni in ma manrahut paruhuranta, Idop uhur Ni batar-batar ta in.

Porsaya ma hita bai tonahni Ambilan, In ma hata Ni Tuhanta Jesus in
Na sai mangarap bai Tuhan simada tuah, Jumpahan damei sonang totap ijin
Na sai mangarap bai Tuhan simada tuah, Jumpahan damei sonang totap ijin

2. Tonggo

3. Ayat harian: Psalmen 130:3

Anggo ikira Ham ganup dousa, ale Jahowa, ise ma na tahan jongjong, ale Jahowa?
Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?

4. Renungan

Jemaat Tuhan
Syair lagu yang menuliskan ungkapan penyairnya dengan kalimat “Aku tanpamu butiran debu”, agaknya sebuah refleksi yang dituangkan dengan menekankan bahwa keberadaan penyair tanpa seseorang yang dimaksudkannya dalam lirik tersebut, adalah sama seperti debu. Butiran debu adalah gambaran ketidakberdayaan, kelemahan, bahkan ketiada-gunaan. Maka dapat kita bayangkan betapa sangat tergantung dan sangat berharapnya sang penyair kepada seseorang yang disebutnya dalam lirik di atas. Bahwa tanpanya, penyair hanya serupa dengan butiran debu.

Jemaat Tuhan
Agaknya pemazmur 130 ini memiliki masa lalu yang suram dan yang sulit untuk dilupakan. Hal itu dinyatakan dalam ay.1 ketika pemazmur mengungkapkan “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku!”. Pemazmur menggambarkan kondisinya berada pada jurang yang dalam. Jurang yang mencerminkan keterpurukan, kejatuhan, keterpisahan dengan yang lain, dan kedalaman jurang itu membuat pemazmur tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan untuk mengeluarkan dirinya sendiri, dia hanya mampu berharap pertolongan orang lain dan dia berseru kepada Tuhan, karena Tuhan sajalah yang mampu mengeluarkannya dari jurang tersebut. Lalu nas kita ini semakin membawa kita pada kondisi pemazmur, yang menyatakan bahwa secara tidak langsung pemazmur mengakui bahwa dia memiliki kesalahan-kesalahan masa lalu, dan bila dibandingkan dengan kesalahannya tersebut, sepertinya pemazmur tidak mempunyai peluang untuk keluar dari jurang itu. Tetapi dalam situasi seperti itu justru pemazmur menyatakan refleksinya akan Tuhan Allah, bahwa Allah adalah Allah yang mendengar seruan orang-orang yang datang memohon kepada-Nya, bahwa Allah juga penuh kasih yang tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan orang yang datang dan memohon ampun di hadapanNya, karena bila kesalahan itu diperhitungkan, maka pemazmur tidak layak menerima pertolongan-Nya, hingga akhirnya dia hanya seperti butiran debu.

Jemaat Tuhan
Tentu ada satu masa dalam kehidupan ini kita merasakan terpuruk ke dalam sebuah jurang yang dalam, yang membuat kita tidak berdaya, lemah, dan tidak berguna. Dalam kondisi seperti itu, maka semestinya kita sampai kepada sebuah refleksi seperti yang dalami dan dinyatakan oleh pemazmur, bahwa hanya kepada Dia saja pemazmur berseru dan memohon, walaupun dia memiliki banyak kesalahan, tetapi Allah adalah Allah yang perduli dan mengampuni. Sehingga dalam segala keadaan, walaupun kita dipenuhi kesalahn, sepatutnya kita hanya datang kepada-Nya, meminta pertolonganNya untuk mengeluarkan kita dari keterpurukan kita, karena tanpa-Nya, kita hanyalah butiran debu. Amin.

5. Doding Haleluya No. 142:3 “Buei ope na siat in”

Pardousa ho, ninuhurmin, na so talup be dihut?
Na dong halani dousamin mambaen na sundat bongkot. Ai domma sahei dousamin, igalar Tuhan Jesus in. Sahei, sahei, salosei utangmin.

6. Tonggo Ham Bapanami / Doa Bapa kami

Departemen Persekutuan GKPS