IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS: Jumat, 25 Februari 2022

1. Mandoding Haleluya No. 11:1-2
Na ijon do au Tuhanku namanombah hu Bamu.
Ganup iluh ni matangku, hu sombahkon hu Bamu.
Uhur-Mu mando hubangku, na masihol au Bamu.

Pardimata Ham uhurhu, rajai Ham ma diringkon.
Ham do tong pangarapanku, sipagoluh tonduyhon.
Uhur-Mu na mando bangku, bangku Ham Bamu au on.

2. Tonggo

3. Ayat Harian: Amos 5:6
“Pindahi nasiam ma Jahowa, ase manggoluh nasiam, ase ulang idorab rumah ni si Josep marhasoman apuy, bois ipangan, anjaha sahalak pe lang adong na mangintopi i Betel.”

“Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.”

4. Renungan
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Clive Staples Lewis (C.S. Lewis), seorang penulis, teolog (Kristen) awam dan pakar sastra Britania Raya pernah menulis demikian, “Penderitaan seringkali dimaksudkan sebagai pengeras suara dari Allah untuk dunia yang tuli. Melalui kesakitan dan keputusasaan Allah sedang mengundang banyak orang untuk kembali kepada diri-Nya.” Ketika Allah melakukan suatu tindakan kepada umatNya, maka sebenarnya seluruh sifat dan karakter Allah itu berjalan beriringan. Tidak ada satupun yang dikorbankan. Karena kekudusan dan keadilan-Nya, Allah tidak mau berkompromi dengan dosa. Karena kasih-Nya, Ia menawarkan pengampunan. Karena kuasa-Nya, Ia mampu menyelamatkan dan memulihkan yang terhilang. Dengan demikian seluruh tindakan Allah menunjukkan bahwa Ia adalah Pribadi yang penuh kasih karunia dan kebenaran.

Gambaran seperti inilah yang terlihat dari ayat harian ini. Allah menunjukkan murka-Nya atas bangsa Israel. Ia memberikan ancaman serius yang akan ditimpakan-Nya atas mereka (Amos 5:1-3). Pada saat yang bersamaan Ia juga menawarkan jalan keluar dari situasi yang sangat mengerikan tersebut. Ia mengundang bangsa Israel untuk mencari-Nya (Amos 5:4-6). Apa yang akan dilakukan oleh Allah sudah jelas dan tegas. Kehancuran tinggal menunggu waktu saja karena ulah dan perbuatan dosa yang dilakukan umatNya. Walaupun demikian, Allah masih memberikan kesempatan kepada bangsa Israel untuk keluar dari tragedi ini. Ia sendiri memberikan solusi. Cara yang disediakan Allah adalah: Pertama, mencari Allah bersifat personal. Allah tidak berkata, “Carilah Yerusalem” (pusat ibadah di kerajaan Israel selatan pada masa itu), melainkan ditegaskan lagi, “Carilah TUHAN” (ayat 6). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa inti dari ibadah yang benar adalah relasi, bukan lokasi. TUHAN yang menciptakan segala tempat dan lebih besar daripada semua tempat bisa ditemui di segala tempat. Yang penting adalah hati yang ditautkan kepada hati Allah. Pesan ayat ini merupakan kritikan tajam bagi sebagian orang Kristen yang seringkali mencari tempat ibadah yang nyaman. Mereka perlu mengingat bahwa kenyamanan dalam ibadah tidak selalu berarti perjumpaan dengan Allah.

Kedua, mencari Allah bukan opsional. Ada resiko yang akan menimpa jika tidak dilakukan. Dalam ayat 6b disebutkan, “supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.” Resiko ini sangat serius. TUHAN bukan mengirimkan api, tetapi Ia sendiri akan datang sebagai api yang menghanguskan. Jika ini yang terjadi, kehancuran yang ditimbulkan tidak akan bisa ditanggulangi oleh siapapun. Keseriusan ancaman ini sesungguhnya adalah menunjukkan keseriusan kasih Tuhan. Ia yang tidak butuh apa-apa sangat menginginkan kita. Ia tidak segan-segan melakukan apapun untuk mendapatkan kita kembali menjadi milik-Nya. Oleh karena itu, mari masuk ke dalam relasi yang lebih dalam dengan kasih Tuhan. Jangan kita merasa diri berkuasa dan menganggap hidup baik-baik saja. Ini yang seringkali menjadi penghalang kita datang kepada Tuhan dan dipulihkan. Kasih dan kuasa Tuhan yang sepenuhnya tidak akan kita alami sepenuhnya jika kita tidak menyerahkan diri secara penuh kepada Tuhan. Hidup kita yang hancur memang dapat dibereskan oleh Tuhan, tapi kita harus menyerahkan semua serpihannya, bukan hanya sebagian. Marilah terus mencari kehendak Tuhan dalam hidup, karena itulah kehidupan yang dikehendakiNya. Amin.

5. Mandoding Lagu Rohani “Hanya Yesus Jawaban Hidupku (Kala Kucari Damai)”
Kala kucari damai, hanya kudapat dalam Yesus.
Kala kucari ketenangan, hanya kutemui di dalam Yesus.
Tak satupun dapat menghiburku, tak seorangpun dapat menolongku.
Hanya Yesus jawaban hidupku.
Bersama Dia hatiku damai, walau dalam lembah kekelaman.
Bersama Dia hatiku tenang, walau hidup penuh tantangan.
Tak satupun dapat menghiburku, tak seorangpun dapat menolongku.
Hanya Yesus jawaban hidupku.

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

Departemen Persekutuan GKPS

Updated: 24 Februari 2022 — 14:58