IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS: Rabu, 6 April 2022

1. Mandoding Haleluya No. 207:1
Bere Ham ma hatorangan, hapentaran mangarusi hataMu
ampa mata na mangidah pakon uhur na mambotoh dalanMu.
Ase tongtong mandompakkon bohiMu hanai mardalan
ase igomgomi TonduyMu hanami.

 

2. Tonggo

 

3. Ayat Harian: Psalmen 25:15
“Sai mangkawah do matangku dompak Jahowa, ai Ia do paluahkon naheihu humbani siding.”

 

“Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.”

 

4. Renungan
Jemaat GKPS yang dikasihi Tuhan,
tidak setiap saat kita merasa senang. Ada saatnya kita merasa sedih. Tidak setiap saat kita menjadi seorang yang berani. Ada saatnya kita menjadi orang yang takut. Tidak setiap saat kita merasakan kesuksesan. Ada saatnya kita mengalami kegagalan. Begitulah yang dialami oleh raja Daud, seperti yang tertulis di dalam ayat harian bagi kita hari ini. Daud adalah seorang raja yang diurapi oleh Tuhan. Tapi tidak selamanya ia menerima jalan kehidupan yang lancar. Apa sebabnya? Ternyata anaknya, yang bernama Absalom, mengadakan kudeta. Dalam Alkitab, kudeta itu diistilahkannya sebagai “berbuat khianat” (Mazmur 25:3). Karena hal ini, raja Daud mengalami begitu banyak kekhawatiran. Ia khawatir mendapat malu (ay. 3); khawatir Tuhan mengingat-ingat dosanya lagi (ay. 7). Ia merasa sebatang kara dan tertindas (ay. 16).

 

Lalu, bagaimana raja Daud menghadapi itu semua? Bagaimana raja Daud bisa lepas dari kekhawatirannya itu? Ia melakukan seperti yang tertulis dalam ayat 1-2 pada pasal 25 ini, yaitu, “KepadaMu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; Allahku, kepadaMu aku percaya;” Tidak berhenti sampai di situ saja, raja Daud juga melakukan hal yang lain dalam menghadapi situasi akibat pengkhianatan itu, yaitu menantikan Tuhan (ayat 3), yang dalam bahasa Ibrani disebut “qawah” yang berarti: mengharapkan sesuatu yang pasti datang. Kekhawatirannya bisa diobati dengan memiliki pengharapan.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,
situasi seperti itu, bagi raja Daud, adalah situasi seperti terjepit atau terlilit, sehingga mustahil pergi mencari pertolongan, apalagi melarikan diri. Itulah yang dirasakannya, yang dalam ayat harian kita disebut seperti “terkena jaring.” Situasi ini membuat raja Daud membutuhkan pertolongan dari luar dirinya, yang mampu melepaskan jaring itu dari kakinya. Karena raja Daud sebatang kara dan tertindas (ayat 16), maka tidak ada sesamanya manusia yang dapat menolongnya dari jerat jaring itu. Itulah mengapa ia mengarahkan matanya hanya kepada Tuhan, dan Tuhanlah yang mengeluarkan kakinya dari jaring.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan, ada sedikit perbedaan antara “mengeluarkan kaki dari jaring” dengan “melepaskan jaring dari kaki.” Dalam ayat harian kita hari ini, yang Tuhan lakukan kepada raja Daud adalah “mengeluarkan kakinya dari jaring,” bukan “melepaskan jaring dari kakinya.” Ini bisa menandakan bagi kita bahwa Tuhan jauh lebih mementingkan keselamatan diri kita dari pada menghapuskan penderitaan/pergumulan di tengah-tengah hidup kita. Dalam ayat ini, pekerjaan Tuhan terfokus pada kaki yang terjaring, bukan pada jaringnya. Maka, ini jugalah yang menjadi keyakinan sekaligus pengharapan bagi kita. Bahwa, penderitaan dan pergumulan hidup, yang seperti jaring itu, tidaklah akan hilang atau alpa dari tengah-tengah kehidupan kita ini. Saat kita terjerat olehnya, arahkanlah mata kita tetap kepada Tuhan, dan Ia akan mengeluarkan kaki kita dari jaring itu. Tentu, tugas kita selanjutnyalah untuk memberitahukan dan mengingatkan sesama yang lain agar jangan masuk ke dalam jaring yang sama. Itu artinya, setelah kita diselamatkan oleh Tuhan, bagilah pengalaman diselamatkan oleh Tuhan tersebut kepada sesama kita yang lain. Amin.

 

5. Mandoding Haleluya No. 327:1
Marpangunsandeian bani Tuhan in,
puji sai pasangap ma GoranNi in.
monang halani Hatani Tuhan in,
mangarapkon parpadanan in.
sai mangarap bani padan ni Tuhanta Jesus Kristus.
Sai mangarap ma hita bai partobusonNi in.

 

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

 

Departemen Persekutuan GKPS

Updated: 5 April 2022 — 17:45