IBADAH HARIAN KELUARGA GKPS: Kamis, 16 Juni 2022

1. Mandoding “I Lobei-Mu Tuhan”
I lobei-Mu Tuhan talar do haganup, seng dong na lingot.
I lobei-Mu Tuhan tangkas do haganup, seng do na sungkot.
Pangabak, panlakkah, parsahap ‘ge parlahou,
lang dong pasangapkon goran-Mu. Lang dong pamalaskon uhur-Mu.
Tonduy-Mu ma na marsora bai uhurhon, mangajari, mamodahi au.
Paubah, paubah Ham Tuhan, bere uhur na bayu.
Holong-Mu ma, na manggoki goluhkon, mangajari ganup pikkirankon.
Paubah-paubah Ham Tuhan, bere uhur na bayu.

 

2. Tonggo

 

3. Ayat Harian: Psalmen 51:3
“Maidop ma uhur-Mu bangku, Ham Naibata, romban hubani dear ni layak-Mu, sasap Ham ma panlanggaronku romban hubani buei ni idop ni uhur-Mu.”

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!”

 

4. Renungan
Jemaat Tuhan,
setiap kita pernah melakukan kesalahan, dan setiap kita mempunyai cara untuk menyatakan dan mengekspresikan kesalahan kita, karena sejatinya rasa bersalah itu adalah sebuah kondisi perasaan yang tidak bahagia, tidak merasa damai, tidak tenteram, dan tidak nyaman, yang membuat seseorang yang melakukan kesalahan merasa gagal, malu, tidak berharga karena kesalahan yang dilakukannya. Para psikolog berpendapat bahwa perasaan bersalah itu muncul karena kegagalan-kegagalan untuk mencapai standar perilaku yang telah kita tetapkan sendiri. Saat kita mengecewakan atau menyakiti hati orang lain, itu merupakan perilaku buruk atau dosa. Maka menjadi sebuah hal yang wajar bila setiap orang mempunyai cara untuk mengekspresikan perasaan bersalahnya tersebut.

 

Jemaat Tuhan,
nas kita hari ini menuliskan tentang kisah pemazmur yang juga mengalami dan merasakan perasaan bersalah. Apa yang telah dilakukan Raja Daud sebagai penulis Mazmur ini adalah diawali ketika ia melakukan strategi yang “epik” yang dianggapnya cerdas, yaitu dengan memerintahkan Uria untuk pergi ke medan perang dan menjadi pemimpin pasukan yang berdiri di depan, dengan harapan bila Uria gugur di medan perang, maka istri Uria akan diambil Daud menjadi istrinya. Strategi yang “epik dan soft” itu membuahkan hasil, karena Uria gugur, dan rencana Raja Daud untuk mengambil Batsyeba menjadi istrinya terwujud nyata. Raja Daud merasa semua berjalan sesuai dengan rencananya, bahkan tidak ada yang mengetahui alur cerita yang telah dirancangnya. Tetapi Daud lupa bahwa Allah mengetahui segalanya, dan hal ini yang dilakukan oleh nabi Natan, yang dipakai Allah untuk datang dan menegur Raja Daud atas dosa yang telah dilakukannya. Bahwa Allah mengetahui apapun yang dilakukan oleh Raja Daud. Allah menanti pengakuan dan pertobatan Raja Daud. Proses yang dilakukan oleh Allah dengan mengutus nabi Natan membuka kesadaran Raja Daud atas apa yang telah dilakukannya. Daud mengaku salah dan dosanya kepada Tuhan di hadapan nabi Natan. Dan proses itu membawa Daud kepada sebuah pengakuan bahwa hanya Allah yang dapat mengasihi dan menghapus segala pelanggaran yang telah dilakukannya. Mengapa hanya Allah? Karena hanya Allah yang memiliki kasih setia dan rahmat yang besar. Dengan kesesakan hati yang dirasakannya, pemazmur mengungkapkan rasa berdosa, rasa bersalah; dan memohon belas kasih, pengampunan dan kerelaan hati-Nya untuk membersihkannya dari dosa. Allah dengan kasih setia-Nya (khesed-cinta dan belas kasihan Allah terhadap umat manusia), dan dengan rahmat-Nya (rahim-belas kasih) yang besar.

 

Jemaat Tuhan,
tidak ada seorangpun yang sempurna, karena sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Sang Kehidupan, dan setiap orang tidak ada yang luput dari dosa dan kesalahan. Siapapun kita memiliki sejarah dalam hal melakukan kesalahan dan dosa. Kisah yang dialami oleh Daud agaknya menjadi sebuah pengalaman bagi kita, bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan, karena Ia adalah Allah yang Maha Tahu. Sebaik apapun kita menyembunyikan kesalahan kita, Ia akan dan pasti tahu semua, sehingga adalah merupakan pekerjaan sia-sia jika bersembunyi di balik dosa kita. Bagi kita umat-Nya yang telah melakukan salah dan dosa, seharusnya kita memohon kepada-Nya, menyatakan dengan pengakuan kita atas apa yang telah kita lakukan sebagai bentuk penyesalan dan pertobatan kita. Memohon keampunan dan belas kasih-Nya, sehingga setiap kita memperoleh rahmat-Nya yang besar. Bahwa Allah adalah Maha Pengampun, tetapi tanggung jawab kita sebagai umat yang telah memperoleh keselamatan dari-Nya adalah ketika kita mengaku pelanggaran yang telah kita lakukan, karena hanya Ia yang mampu mengampuni dan menghapuskan segala pelanggaran kita. Maka bila kita melakukan kesalahan, ekspresikanlah rasa bersalah itu dengan datang pada Allah, menyatakan kesalahan kita, dan memohon ampun kepada-Nya. Amin.

 

5. Mandoding Haleluya No. 113:1+3
Asal rap ampakon Tuhan Jesus au.
Sadokahni mangiankon tanoh hasunsahan au.
Sonang do uhurhu, ai hubotoh Jesus hasomanku.

 

Sonang do uhurhu rapkon Jesus in.
Ai isasap do dousangku, ipatorang langkahkin.
Ase ulang magou tonduyhin bahenon ni pangagou.

 

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

 

Departemen Persekutuan GKPS

Updated: 15 Juni 2022 — 14:16