1. Doding Haleluya No. 341:1
Ari na madear tumang lao marayakkon Tuhan in.
Hubaritahon Ham Tuhan bujur au mandalankon in.
Tuahkin ari in sanggah isasap dousangkin.
Ai ipatalar dalankin, janah iungkap uhurhin.
Tuahkin ari in sanggah isasap dousangkin.

 

2. Tonggo

 

3. Ayat Harian: Parambilan 3:7
“adong panorang manrigati, anjaha dong panorang manjarumi; adong panorang sipsip, anjaha dong panorang marsahapi;”

“ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;”

 

4. Renungan
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
pernahkah Anda melihat gambar bibir dengan jari telunjuk tepat di depan bibir tersebut, disertai tulisan “Ssttt…”? Kira-kira di mana gambar semacam ini sering muncul? Ya, tepat sekali, di layar bioskop. Penayangan gambar itu di layar bioskop sudah tentu ada maksud dan tujuannya. Ya, apalagi jika bukan untuk memberitahukan kepada para penonton untuk diam atau tidak berisik saat film berlangsung, sehingga tidak mengganggu kenyamanan penonton yang lain. Penulis kitab Pengkhotbah mengamati kehidupan di bawah langit dan kita diminta untuk menggunakan hikmat yang benar karena segala sesuatu ada waktunya. Bahwa kita hidup di dunia yang berubah-ubah. Peristiwa dan keadaan hidup manusia sangat berbeda satu sama lain, tetapi semua terjadi tanpa pandang bulu. Kita terus melewati dan melewatinya lagi, seperti perputaran hari dan tahun. Dalam perputaran roda kehidupan (Yak. 3:6) terkadang suatu jari-jari berada di tempat teratas dan tidak lama kemudian sebaliknya, selalu ada naik dan turun, tinggi dan rendah. Dari satu ujung ke ujung yang lain, dunia seperti yang kita kenal sekarang selalu berubah, dan akan terus berubah.

Secara khusus dalam ayat harian ini disebutkan tentang merobek dan menjahit, serta berdiam diri dan berbicara. Dalam tradisi Yahudi, waktu merobek pakaian itu adalah untuk menggambarkan berada dalam dukacita besar, dan ada waktu untuk menjahitnya kembali, sebagai tanda bahwa kesedihan itu sudah berlalu. Ada waktu untuk membatalkan yang kita lakukan, dan ada waktu untuk melakukan kembali yang telah kita batalkan. Pengalaman kehidupan orang Yahudi dalam perjalanan sejarah juga pernah mengalami seperti “tersobek” karena kehidupan mereka yanga kacau dan tercerai berai. Tetapi ada juga masa yang mereka jalani, yaitu masa untuk “menjahit” kembali kehidupan sebagai sebuah bangsa dan umat Tuhan yang dipimpin oleh Tuhan. Tentu ketika masa itu disebutkan dalam ayat harian ini, dapat kita lihat juga dalam kehidupan kita. Ada pengalaman kehidupan yang mungkin sudah “robek” karena kecewa, sakit hati, putus asa, disakiti orang lain, mengalami kerugian, mengalami bencana bahkan menglaami kedukaan. Tetapi Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh berdiam dalam keadaan tersebut. Kita juga harus mempunyai waktu untuk menjahit. Kita diberi kesempatan untuk “menenun” kembali kehidupan kita dengan mengampuni, memperbaiki relasi, bangkit dari keterpurukan, bekerja untuk kehidupan yang lebih baik dan tentu saja hidup seturut Firman Tuhan sebagai cara menenun kembali kehidupan supaya berkenan kepada Tuhan.

Kita juga diingatkan bahwa ada waktu ketika sudah sepatutnya, dan memang bijaksana serta diwajibkan, bagi kita untuk berdiam diri, yaitu ketika waktu itu adalah waktu yang jahat (Am. 5:13). Ketika kita berbicara pada “waktu yang jahat” tersebut, sebenarnya perkataan kita sama saja dengan melemparkan mutiara kepada babi, atau ketika kita kemungkinan akan salah bicara (Mzm. 39:3). Akan tetapi, ada juga waktu untuk berbicara, untuk memuliakan Allah dan untuk meneguhkan orang lain. Kita tidak dapat berdiam diri ketika ada orang yang membutuhkan penghiburan dan nasehat. Ketika kita diam dalam suasana tersebut, itu sama saja dengan mengkhianati kebenaran. Pada saat ini kita diminta untuk terus berbicara dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Untuk menjelaskan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dan menyampaikan kabar baik dari Tuhan kepada semua orang. Itulah hikmat yang dikehendaki Tuhan bagi kita, terutama menjelang akhir tahun, sehingga kita akan semakin bijaksana dan menjadi pribadi yang “menjahit” kehidupan, sehingga berkenan kepada Tuhan dan berbicara kebaikan. Maka dengan itu, damai sejahtera Tuhan semakin nyata. Amin.

 

5. Doding Kidung Jemaat No. 427:1
‘Ku suka menuturkan cerita mulia,
cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya.
‘Ku suka menuturkan cerita yang benar,
penawar hati rindu, pelipur terbesar.
‘Ku suka menuturkan, ‘ku suka memasyhurkan
cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya.

 

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

 

Departemen Persekutuan GKPS