Gambar ilustrasi: https://www.createekit.com/blogs/news/quality-time-and-why-it-needs-to-be-priority

Membangun Relasi

Salah satu upaya membangun relasi yang baik dalam hubungan pasangan suami istri (pasutri) adalah dengan menjalin komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik maksudnya adalah berkomunikasi yang jujur (apa adanya), dialogis (saling, bukan mendominasi pembicaraan), sehat (tidak emosional) dan konstruktif (tidak saling menyerang). Oleh sebab itu dalam membangun relasi yang baik ini dibutuhkan “waktu khusus” bahkan “pengorbanan waktu” supaya dapat tercipta hubungan (rapport) yang saling memahami, memaklumi dan mengasihi.

Lantas, apakah yang bakal terjadi bila salah satu atau kedua pasangan itu tidak memiliki banyak waktu untuk membangun relasi melalui komunikasi? Apa yang bakal terjadi bila setiap pasangan “sibuk sendiri” dengan urusannya (business) di luar rumah sehingga jarang sekali bertegur sapa dan berseda gurau? Bagi yang memiliki anak (-anak), apa jadinya penilaian dan perasaan mereka tentang orangtuanya jika selalu berada “di luar sana” dan minim sekali dalam memperhatikan kehidupan rumah tangga dan anak (-anaknya)? Tentu beberapa hal inilah yang menjadi perenungan dalam menyikapi masalah “kesibukan” orangtua (suami-istri) dalam kehidupan sehari-hari.

 

Memprioritaskan Keluarga

Membangun rumah tangga berarti membangun sebuah keluarga melalui sebuah lembaga pernikahan. Maka, perkawinan merupakan pertemuan dua “sisi hidup” yang saling menyesuaikan. Nah, sekali lagi, dalam upaya “penyesuaian” ini dibutuhkan waktu yang intens dan berkualitas supaya tercipta pemahaman dan kecocokan seperti yang diharapkan. Ketika seseorang menikah, sebenarnya di dalamnya sudah termaktub sebuah tekad dan keputusan untuk mengutamakan atau memprioritaskan kehidupan rumah tangganya. “Bisnis pribadi” semestinya hilang, atau paling tidak dikuranngi atau diminimalisir dan digantikan dengan “bisnis bersama” atau “bisnis keluarga”. Segala gerak langkah setiap pasutri harus terpicu dan terpacu oleh semangat “bisnis keluarga” ini. Dan, bisnis keluarga yang paling hakiki adalah urusan domestik, yang menyangkut kebersamaan (togetherness) hidup antara suami dan istri (serta anak-anak). Suami dan istri yang terikat dalam pernikahan harus menyatu (cling to) dalam satu bisnis bersama, seperti firman Tuhan yang mengatakan, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Persatuan pasutri adalah “kesatuan daging” yang tak terpisahkan, dan relasinya berlangsung secara jujur dan terbuka sebab “keduanya telanjang” tetapi mereka tidak merasa malu (Kejadian 2:25).

Pasutri yang menyatu dalam sebuah pernikahan pastilah memiliki sebuah cita-cita yang luhur, yakni hidup berbahagia, “sehidup semati sampai maut memisahkan kita”. Cita-cita bersama ini tentunya harus diupayakan dan diraih bersama oleh kedua belah pihak (suami dan istri), oleh karenanya keduanya harus mencurahkan waktu, perhatian dan aksi nyata untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut. Tegasnya, “kesibukan” tidak boleh menjadi alasan terbengkalainya atau terlupakannya cita-cita luhur pernikahan ini. Pekerjaan dan “bisnis lainnya” seharusnya menjadi pendukung dalam hal raihan cita-cita tersebut.

 

Bahaya “Married Single”

Salah satu “penyakit” atau kecenderungan “bapak-bapak atau ibu-ibu muda” adalah kembalinya mereka ke “komunitas atau kebiasaan lamanya”. Misalnya, seorang bapak muda yang kembali merapat kepada teman-temanya ngumpul-ngopi (ngongkow) dengan menghabiskan banyak waktu hingga larut malam dan melupakan istri (dan anak-anak) di rumah yang (juga) lebih membutuhkan waktu perhatian dari seorang suami dan ayah di rumah tangganya. Setelah sekian lama masa pernikahan, dan “romantisme perkawinan” sudah berlalu, dan tatkala rumah tangga dirasakan memberi rasa pengap, gerah dan membosankan, maka pelariannya adalah “ngumpul” dengan teman-teman lama, teman semasa single dulu.

Kecenderungan ini diistilahkan dengan pola married single¸ yakni sebuah pola tingkah laku orang yang sudah menikah namun berperilaku seperti masih bujangan. Sekali lagi, biasanya pola ini sebagai bentuk pelarian dari relasi dengan pasangan yang sedang terganggu. Pelarian ini bisa terwujud dalam bentuk “maniak hobi”, yakni memberikan seluruh perhatiannya tertuju kepada kesukaan dan kegemarannya, atau aktif di kegiatan sosial atau keagamaan. Lalu, ada juga yang mewujud dengan menjadi “gila kerja” (workaholic), dan ada juga suami dan atau istri yang berlomba untuk mengejar karir dan prestasi dalam dunia kerja. Jadi dalam kasus married single ini, pekerjaan dan kegiatan lainnya dilakukan bukan karena tanggung jawab dan panggilan batin semata, melainkan sebagai suatu upaya untuk menghindari interaksi dengan pasangan. Pastilah pola ini mengindikasikan adanya relasi suami-istri yang kurang baik dalam keluarga tersebut. Sebenarnya, bukan bentuk aktivitas (pelariannya) yang berbahaya, tetapi motivasinyalah yang membahayakan relasi. Sebab, married single membuat orang membangun benteng pertahanannya sendiri sehingga pasangannya tidak bisa masuk.

Sebuah studi menunjukkan bahwa pola married single bagi pasangan di perkotaan banyak dipicu oleh kesibukan kerja (70%) dan kegiatan sosial keagamaan (30%). Sedangkan di daerah pedesaan (Simalungun), banyak dipicu oleh pencurahan perhatian pada kegiatan hobi atau kegemaran.       

 

Tekad Bersama: Menyediakan Quality Time

Menghargai dan mengisi waktu dengan baik adalah tindakan terpuji. Waktu adalah pemberian Tuhan. Waktu sebagai sebuah kairos (kesempatan) harus dipergunakan dengan baik. Perjalanan waktu dalam satu hari (kronos) adalah 24 jam. Kairos dan kronos yang telah berlalu tidak dapat diulangi kembali, seperti kata orang bijak: “ada tiga hal yang tak pernah kembali, yakni waktu, perkataan, dan kesempatan”. Maka, pakailah waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin untuk menata rumah tangga melalui upaya membangun relasi-komunikasi yang dialogal dalam rumah tangga. Memang ada waktu bekerja, ada waktu istirahat, ada waktu untuk penyaluran hobby, ada waktu untuk urusan sosial. Tetapi, dari semuanya itu, jangan lupa mempersiapkan waktu bersama secara regular untuk keluarga (family time): bersama istri dan anak (-anak), serta waktu khusus berdua yang berkualitas (quality time) bagi pasutri. Ciptakan waktu spesial bagi kedua “mantan pengantin” (pasutri) sebagai upaya merawat cinta, membangun relasi yang lebih intim dan harmonis, demikianlah dilakukan sampai matua bei, dan akhirnya maut (kematian) memisahkannya. Shalom. (bgs/hks)

 

Pdt. Albert H. Purba, M.Th

Pendeta GKPS Resort Cengkareng Jakarta Barat