Minggu, 17 Maret 2024 (Judika)

Nas                  : Lukas 21:1-4

Tema              : Persembahan yang terbaik kepada Tuhan

Tujuan            : Agar namaposo belajar memberi diri dan memprioritaskan Tuhan

Usul Doding   : 234:1-2 “Tandai Ham ma au”

SUDAHKAH KITA MENGETAHUI APA YANG TERBAIK BAGI TUHAN

Menurut tradisi Bapa-bapa Gereja, Injil Lukas ditulis oleh seorang Rasul yang bernama Rasul Lukas teman sekerja Rasul Paulus. Rasul Lukas merupakan seorang Yahudi dan Lukas merupakan seorang tabib, dan ini tampak dari isi tulisan Injil Lukas yang menekankan penyembuhan tentang orang sakit yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus (Lukas 431-41; 5:12-26,66 11, dan lain-lain), dan Lukas juga memperhatikan tradisi-tradisi Yahudi seperti: hari Sabat, kitab Perjanjian Lama (Lukas 4:16 19: kitab nabi Yesaya), posisi perempuan (Lukas 10:38-42: Maria dan Marta), dan lain-lain. Dan kitab Lukas ini diperkirakan ditulis pada tahun 80-85 Masehi.

Dan khotbah kita pada hari ini ialah dari Injil Lukas 21:1-4 “Persembahan seorang janda miskin ” Khotbah kita hari ini, dituliskan bahwa Yesus sedang menyampaikan pesan yang khusus kepada murid-muridNya mengenai iman seseorang, dan juga tentang Bait Allah di Yerusalem maupun penyesatan yang akan terjadi. Yesus melihat orang-orang kaya dan seorang janda miskin memberikan persembahan. Yesus memuji janda miskin tersebut dalam hal persembahannya. Kenapa hanya ya perempuan tersebut yang dipuji oleh Yesus? Penjelasannya karena perempuan tersebut memberikan persembahannya dengan kekurangannya dari  kehidupannya (apa yang dia miliki) yaitu hanya dua peser saja. Apa yang dia miliki satu-satunya dia dipersembahkan untuk Tuhan (1 Raja 17:8-16). Mengapa perempuan tersebut mau mempersembahkan hanya milik satu-satunya? karena dia sadar akan tanggung jawabnya kepada Tuhan, karena dia yakin bahwa Tuhan akan memelihara hidupnya dan akan memberikan keselamatan baginya. Dia tidak kuatir terhadap masa depannya, tidak takut menjadi miskin dan melarat. Dia yakin bahwa Tuhan mampu memelihara hidupnya dengan kasih setianya yang kekal (Mzm. 118:1-2).

Munculnya antikristus, atau para penyesat ini akan memakai nama Yesus untuk kepentingannya sendiri bukan bagi Tuhan. Para murid menjadi takut dengan nubuatan Yesus ini, tapi Yesus meneguhkan hati mereka supaya tetap setia di jalan Allah walaupun apa yang terjadi, karena Allah akan memberikan keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Apa pembelajaran bagi kita melalui khotbah pada hari ini:

  1. Memberi tanpa kuatir karena Allah akan memberikan keselamatan dan pemelihara hidup kita.

Dalam Perjanjian Lama persembahan merupakan kewajiban yang dilakukan oleh setiap orang. Tuhan menghendaki setiap umat-Nya untuk memberikan persembahan. Jenis-jenis Persembahan seperti persembahan korban sajian (Kej 4:3-4), korban bakaran (Kej 8:20), korban sembelihan (Kej 31:54), dan ada persembahan perpuluhan (Maleakhi 3:10) dan lainnya. Untuk itu, mari kita melihat apa yang Tuhan Yesus ajarkan tentang persembahan dari seorang janda miskin di Bait Allah, sehingga kita dapat belajar makna dan motivasi memberikan persembahan yang benar melalui pelayanan kita di hadapan Tuhan. Yesus memberikan pelajaran tentang bagaimana Allah menilai pemberian.

  1. Pemberian seseorang ditentukan bukan oleh jumlah yang ia berikan, tetapi oleh jumlah pengorbanan yang terlibat dalam pemberiannya. Pemberian yang di berikan seorang janda miskin ialah pemberian dia dengan hati yang tulus seorang janda ini tidak menuntut segalanya daripada-Nya. la memberi sebanyak-banyaknya yang dapat diberikannya.
  2. Prinsip ini dapat diterapkan pada segala pelayanan kita bagi Yesus. la menilai pekerjaan dan pelayanan kita tidak berdasarkan ukuran atau pengaruh atau keberhasilannya, tetapi berdasarkan kadar pengabdian, pengorbanan, iman, dan kasih yang tulus yang terlibat di dalamnya.

Bila kita berada di Bait Allah pada saat itu, pasti kita akan menyaksikan suatu pemandangan yang kontras pula: di antara orang-orang kaya yang memberikan persembahan, ada seorang janda miskin yang memasukkan hanya dua peser ke dalam peti persembahan! Pecahan uang paling kecil pada masa itu. Tetapi justru persembahan si janda miskinlah yang menyenangkan hati Yesus. Meskipun jumlahnya sama sekali tidak signifikan untuk dipuji, namun di mata Tuhan persembahannya bernilai lebih besar dibandingkan persembahan orang-orang kaya itu. Yang Tuhan lihat adalah hati yang memberi bukan nilai banyaknya  uang yang di berikan si janda miskin. Itulah jumlah uang yang dimilikinya untuk melanjutkan hidupnya, la percaya bahwa Allah akan memelihara hidupnya dan memenuhi kebutuhannya, la meletakkan kepercayaannya pada Allahnya, bukan pada uangnya! Kemiskinan bukanlah alasan baginya untuk tidak memberi persembahan pada Allah! Si janda miskin memberikan persembahan dengan mengorbankan hidupnya untuk menghormati Allah. Inilah persembahan yang disukai Tuhan!

Jika berbicara mengenai pemberian, pasti di dalam pikiran kita ialah melulu tentang memberikan uang dan uang. Ada bermacam-macam bentuk pemberian dan tidak selalu harus memberi dalam bentuk uang atau materi yang berwujud nyata. Setiap orang pasti mampu memberi. Jika umat Tuhan berkekurangan, maka berilah apa yang dimiliki, entah itu kebaikan hati untuk selalu mau menolong jika dibutuhkan, memberi tenaga, waktu, perhatian dan bakat-bakat lainnya. Makna sesungguhnya dari setiap persembahan mengalir dari hati kita. Yesus ingin umat-Nya belajar dari janda miskin tersebut dalam memberi. Dengan kata lain: Berilah seluruh dirimu kepada Tuhan dan gunakan itu untuk menyenangkan hati Tuhan. Sebab dalam diri setiap umat-Nya, Tuhan sudah memperlengkapinya dengan kecukupan yang berlimpah. Biarlah Tuhan sendiri yang akan menyempurnakan apa yang diberi umat-Nya dari kekurangannya. Untuk itu diperlukan ketulusan hati dalam memberi, bukan adanya maksud tertentu. Aku memberi supaya di lihat orang aku adalah orang kaya, aku memberi sedikit karena masih banyak lagi keperluanku yang lain atau bahkan ada pula yang berpikiran aku tidak usah ke gereja atau partonggoan karena aku tidak bias memberi apa-apa kepada Tuhan, tentu ini ialah pemikiran yang keliru dan sangat-sangat tidak di sukai oleh Tuhan. Tuhan mengetahui apa-apa saja motivasi kita dalam memberikan persembahan, oleh karena itu berikanlah persembahan yang terbaik kepada Tuhan, dan jadikanlah Tuhan adalah Prioritas seperti yang dilakukan seorang janda yang miskin di dalam firman Tuhan ini.

Dari perikop ini kita mendapat suatu pengajaran, sebagaimana Yesus juga mengajarkan pada murid-muridnya. Bagaimana dalam hal memberi persembahan dengan hati, seperti janda miskin itu. Dalam kekurangannya dia mampu memberi yang terbaik dari hidupnya untuk Tuhan. Kita harus percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan, kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan, sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin.

 

Yesus Kristus sudah memberikan dirinya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita  juga marilah memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. sama seperti Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan kita dan membaharui komitmen kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus. (I Yoh 3:16-18).

Mari kita renungkan, apakah kita sudah memberi yang terbaik bagi Tuhan? Atau kita masih berhitung untung rugi. Tuhan begitu luar biasa mengasihi kita, Dia selalu memberi yang terbaik kepada kita, rencana yang Dia sediakan adalah yang terbaik untuk menatap hari depan yang penuh harapan. Oleh karena itulah kita seharusnya sadar posisi kita, dan memuliakanNya dengan segala yang terbaik dari diri kita. Bukan hanya persembahan dalam bentuk uang, tapi justru yang terpenting adalah diri kita sendiri. Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1).

Yesus memikirkan yang Ilahi (abadi), tetapi para murid memikirkan yang fana (dunia). Para murid belum sepenuhnya memahami misi Kristus di dunia ini, sehingga mereka condong memikirkan dunia ini sama halnya dengan pandangan mereka tentang kemewahan bait Allah dari segi bangunan/fisiknya. Yesus tidak mau manusia dan para murid-muridnya terlena hanya oleh kemewahan dunia/fisik, bahkan cenderung untuk ‘mendewakan’ yang dunia. Pada saat ini banyak gereja-gereja yang memoles bangunannya sedemikian indah, akan tetapi pertumbuhan rohaninya tidak terjaga. Banyak jemaat yang mendewakan gedung gerejanya, bahkan membuatnya seperti berhala. Hal inilah yang di amanatkan Yesus bagi kita saat ini, supaya jemaat Tuhan tidak dibutakan oleh pandangan dari dunia saja, yang menutup mata rohani kita. Kita harus selalu waspada saat ini terhadap para penyesat, karena si iblis bukan saja datang dari luar, tetapi dapat berupa wujud manusia, wujud malaikat penolong, tetapi menyesatkan. Nubuatan Yesus bukan hanya teori saja, namun hal itu sudah terbukti hingga saat ini, dimana banyak muncul pertikaian di gereja bukan oleh orang luar, tetapi oleh mereka sendiri yang selalu menganggap dirinya benar.

  1. Memberikan dengan ihklas kepada Tuhan bukan hanya selalu menutut balas

Sama halnya dengan seorang janda miskin yang memberikan persembahannya kepada Tuhan dengan tidak menuntut balasan, hanya satu yang ia tahu yaitu rasa syukur. Bersyukur karena Tuhan masih memberikan kehidupan, kesehatan dan sukacita walaupun di dalam kekurangan dan keterbatasan. Maka dari itu kita namaposo hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Tuhan tidak butuh pemberian atau pelayanan yang dilakukan dengan terpaksa atau tanpa kerelaan hati.  Dia hanya menerima pemberian dan pelayanan yang dilakukan dengan sukacita. Tuhan kita Yang Maha Memberi ingin pengikut-Nya memiliki hati yang suka memberi dengan ikhlas, dengan sukacita, dan dengan motivasi yang benar. Orang yang memberi dengan tulus takkan mengeluh, tidak hitung-hitungan, tidak mengharapkan balasan, dan tidak setengah-setengah. Tidak pula mencari pujian yang sia-sia atau hanya ingin terlihat baik.

Kita juga diajarkan  melalui firman Tuhan  Dalam Lukas 14:12-14, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk tidak mengundang para sahabat, saudara, kerabat, atau tetangga yang kaya dalam jamuan makan mereka, karena mereka pasti mampu membalasnya. Sebaliknya, Yesus meminta mereka mengundang orang-orang yang miskin dan cacat. “Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Lukas 14:14. Ya, Yesus menantang para pengikut-Nya untuk memberi kepada mereka yang tidak sanggup membalas pemberian tersebut, karena upah kita datang dari Allah. Jadi, meskipun pemberian atau pelayanan kita tidak mendapat balasan yang kita  harapkan ucapan terima kasih, penghargaan, penghormatan, atau pengakuan kita dapat tetap berbahagia. Mengapa? Karena, Tuhan sendiri yang akan membalasnya.