Minggu, 24 Maret 2024 (Palmarum)

Nas                  : Matius 21:1-11

Tema              : sambutlah Tuhan dalam hatimu

Tujuan            : Agar namaposo membuka hati untuk menerima pribadi Kristus

Usul Doding   : Hal. No. 372:1-2 “Sai Pasiat Tuhan Jesus”

 

SAI PASIAT TUHAN JESUS

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan. Setiap orang pasti berdebar- debar menyambut sang idola. Sang idola itu bisa saja artis favorit, keluarga tersayang dan bisa juga si “jantung hati” Ada kemungkinan yang menyambut itu sampai lupa diri karena senangnya atau semangatnya. Bertemu dengan yang kita sayangi itu ibarat berada di sorga, demikian ungkapan Bryan Adam dalam lagunya yang berjudul Heaven Bagi orang percaya, tidak ada yang lebih berbahagia selain menyambut kedatangan sang Juruselamat dan hidup bersamanya menikmati berkat-berkat-Nya.

Perasaan seperti inilah yang dialami orang-orang di Yerusalem menyambut kedatangan sang Raja Damai. Sebuah harapan yang akan memberikan berkat bagi seluruh umat manusia dan diyakini bahwa Dialah yang datang di dalam nama Tuhan. Sebagian perikop ini sudah tercantum dalam Zakharia 9:9 dalam hal menyambut keselamatan dari Tuhan. Spirit menyambut kedatangan tidak bisa membendung hati yang penuh harap sehingga apa yang dimilikinya akan diserahkan di bawah kemuliaan sang Pembawa damai.

Keempat penulis Injil (Matius 21:1, Markus 11:1, Lukas 19:28, Yohanes 12:12) mencatat dengan cermat perikop yang menggambarkan bagaimana Yesus dielu-elukan saat memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai, lima hari sebelum kematian-Nya. Hari Paskah jatuh pada hari keempat belas di bulan itu, sedangkan waktu itu baru hari kesepuluh, yaitu saat untuk mengambil domba Paskah dan memisahkan domba itu untuk dikorbankan, seperti yang telah ditetapkan dalam hukum Taurat (Kel. 12:3). Oleh karena itu, Kristus, Domba Paskah yang akan dikorbankan bagi kita, dipertunjukkan di hadapan khalayak ramai hari itu juga. Dengan demikian, peristiwa itu menjadi titik awal penderitaan-Nya. Sebetulnya, sejak beberapa waktu sebelumnya, Dia telah menetap di Betania, yaitu sebuah desa yang tak jauh dari Yerusalem, tempat di mana Maria mengurapi kaki-Nya pada waktu mereka sedang makan malam bersama sehari sebelumnya (Yoh. 12:3). Kedatangan Yesus dalam konteks perikop ini adalah dalam rangka membawa kedamaian bagi seluruh umat dunia Dan Dia dihormati karena diturunkan penuh berkat, Itu sebabnya orang-orang di Yerusalem berseru: “Diberkatilah Dia yang datang di dalam nama Tuhan Yang bukan hanya si Pembawa tapi juga yang menerima kedatangannya. Lalu apa respon umat yang penuh berkat? Dalam hal ini namaposo GKPS diajarkan agar dapat menjadi namaposo yang membuka hatinya untuk menerima Yesus di dalam hidupnya, maka sambutlah Tuhan di dalam hati namaposo semua, agar hidup boleh terarah dan tetap berjalan dalam takut akan Tuhan.

Saudara/ saudari yang terkasih Yesus ialah Penggenapan nubuatan. Kedatangan-Nya bukan untuk melawan orang Romawi, melainkan untuk membawa damai. Dia bukan datang dengan membawa senjata, melainkan kasih. Yesus memakai Keledai muda. bukan kuda perang, sebagaimana orang Israel mengharapkan Mesias politik, yang memimpin mereka untuk berdemonstrasi, memberontak dan revolusi melawan penjajah Romawi. Inilah yang dibaharui Yesus, Benar, la talah Mesias, yang kedatangan-Nya memerdekakan manusia dari penjajah dosa dan kuasa iblis, la datang penuh kemudahan, yang penuh makna bagi orang-orang lemah kau maskin. Penggenapan inilah yang menjadi jaminan bagi kita hahwa pemeliharaan Allah tidak pernah berhenti. Keledai muda  menjadi simbol kerendahan hati dan kelemah-lembutan. Dalam hal ini, Yesus hendak mengatakan bahwa keselamatan yang la kerjakan tidak dicapai melalui  kekerasan, perang dunia, tetapi dengan memberi Diri-Nya menjadi korban pendamaian.

Sesampainya Yesus di Yerusalem, secara spontan mereka menyambut Yesus dengan meletakkan daun palem serta karpet untuk dilalui Yesus, seperti sedang menyambut panglima perang yang pulang dari medan tempur membawa kemenangan. Benar, Yesus adalah panglima perang, yang mengalahkan kuasa dosa dan iblis la masuk ke markas besar iblis yaitu kematian (kuburan) “turun ke dalam kerajaan maut dan di sana Yesus mengalahkan iblis. Oleh sebab m kematian tidak lagi untuk ditakuti, justru kematian itu telah diubah menjadi gerbang masuk ke dalam kehidupan kekal. Dari nas ini kita seluruhnya terkhusus namaposo GKPS kita disuguhkan beberapa gaya kepemimpinan Yesus untuk kita teladani bersama, yaitu: Pertama, Yesus menaiki keledai, itu artinya Dia bukan menggunakan kuasa tetapi pemimpin yang rendah hati. Sampai saat ini (bahkan mungkin semakin menjadi-jadi) kalau seseorang memiliki kuasa, ia cerderung arogan dan otoriter terhadap bawahannya atau pembantunya. Bahkan istri/suami dan anaknya sekalipun ia perlakukan seperti seorang budak dengan sesuka hati melampiaskan amarah, memukul, menghina, melecehkan, karena berlagak bos. Padahal, gaya kepemimpinan demikian sudah ketinggalan zaman, justru yang diminati banyak orang zaman modern ini adalah seperti Yesus yang rendah hati, lemah lembut, ramah dan sederhana Pemimpin yang mau rendah hati akan memacunya berburu mutu dan itulah kunci keberhasilan jangka panjang, Kedua mau berkorban. Yesus memberi diri sebagai tebusan bagi dosa manusia,  itulah pemimpin sejati (Yoh. 10:11). Bukan pemimpin yang candu “menghisap darah” orang lain. Pemimpin sejati mengutamakan kesejahteraan dan keselamatan anggotanya.

Sebelum Yesus memasuki Yerusalem, la menyuruh murid Nya untuk menjemput keledai ke kampung yang tidak jauh di depan mereka untuk la duduki. Dan inilah pesan Yesus, “Dan jikalau ada menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. la akan segera mengembalikannya” (ay. 3). Dan benar, saat murid-Nya mengatakan demikian ke pemilik Keledai, lalu ia memberikannya. la mau memberi miliknya, karena dibutuhkan oleh Tuhan, untuk mewujudkan rencana-Nya. Sesungguhnya seperti itulah yang sudah mengenal berkat- berkat Tuhan, memberikan apa yang ia miliki untuk Tuhan. Kalau Tuhan meminta sesuatu kepadamu, dan Ia berkata kepada hamba-hamba-Nya (pelayan): Tuhan memerlukannya, apa jawabanmu? Bukankah suatu kehormatan bagimu, bila Tuhan menggunakan hartamu, bakat/talentamu, waktumu, suaramu menjadi alat-Nya untuk mewujudkan karya-Nya bagi dunia ini? Mungkin, yang sering terjadi ialah, bila Tuhan meminta, kita hanya melihatnya dari segi kerugian. Lalu kita mencari berbagai macam alasan untuk membenarkan diri kita untuk tidak memberi. Atau, kita sudah kehabisan tenaga dan waktu hanya untuk mencari harta dan kesenangan dunia? Sehingga yang kita beri kepada Tuhan adalah sisa- sisa. Atau, mungkinkah roh Kapitalis sudah merasuki Gereja di mana segala sesuatu ujung-ujungnya adalah uang? Masihkah segala pekerjaan kita untuk keperluan Tuhan? Atau sudah lebih banyak untuk perkara-perkara dunia? Bukankah Allah sumber segala berkat? Bukankah Tuhan sanggup mengembalikannya dengan berlipat ganda? Dan itu pasti.

Dengan tulus murid itu melakukan perintah Yesus, untuk mengambil Keledai orang yang tidak tahu bertahan di mana dan siapa pemiliknya. Tetapi mereka tidak mencari-cari alasan, mereka tidak ragu melakukan perintah Yesus, tidak memakai hitung-hitungan matematik dan tidak memakai logika. Tetapi mereka dengan tulus dan yakin akan selamat karena Yesus memerlukannya. Janganlah kita seperti yang diberitakan di Matius 21:28-30, “Seorang mempunyai dua anak laki-laki. la pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini di kebun anggur. Jawab anak itu: baik, bapa, tetapi dia tidak pergi. Lalu orang itu pergi ke anak yang kedua. Dan anak itu menjawab: aku tidak mau.Tetapi kemudian dia menyesal lalu pergi juga”. Maka kita seharusnya “kalau ia mengatakan ia, dan jika tidak, berbicaralah dengan baik-baik”.

Yesus adalah harapan masa depan kita. Orang banyak mengelu-elukan Yesus “Hosanna…” “Hosanna…” berasal dari kata Ibrani Hosyi’ahna, yang terdiri dari dua kata YASHA yang artinya “menyelamatkan”, dan NA’ artinya “permohonan atau doa”. Secara harfiah maka artinya: aku berdoa: Selamatkanlah aku sekarang. Kata Hosanna terkait dengan hari raya Pondok daun, doa permohonan kepada Tuhan (Maz.118: 25), pujian atau penghormatan (21:9). Yesuslah yang dinantikan itu. Ia dinantikan untuk menyelamatkan orang percaya dan yang memberi hidup sejahtera dan kekal.