1. Doding: Haleluya No. 303:1-2
Na Pansing Na Pansing Tuhan parkuasa,
ari on hanami mamuji Naibata.
Na Pansing Na Pansing janah marjumbalang
Sitolu sada na sangap tumang.

Na Pansing Na Pansing hotakMu i surga,
halak na mapansing manrogop hu Bamu.
Haganup malekat sai mamuji Tuhan,
Raja na sangap sadokah ni in.

 

2. Tonggo

 

3. Ayat harian: Psalmen 95:6
“Masuk ma hita, manrogop anjaha marsombah; manrogop ma hita i lobei ni Jahowa, Sitompa hita.”

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita.”

 

4. Renungan
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
sebagai orang yang berbudaya dan bermartabat, kita diajarkan tentang bagaimana cara memperlakukan orang lain. Cara kita memperlakukan sahabat tentu saja berbeda dengan orang yang baru saja kita kenal. Kita diingatkan juga untuk berbicara dengan sopan dan pantas terhadap orang lain. Dinamika dan nada suara kita terhadap orang yang sudah tua renta tentu saja berbeda dengan anak balita. Tidak berhenti sampai di situ, kita juga diajarkan tentang menjaga sikap saat berkunjung atau bertamu ke rumah orang lain. Tingkah laku kita saat berkunjung ke rumah kakek dan nenek tentu saja berbeda dengan tingkah laku kita saat berkunjung ke rumah atasan kita. Semua itu menandakan bahwa kita tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain, serta bagaimana kita memosisikan diri kita di hadapan orang lain.

Hal tersebut juga berlaku bagi Tuhan. Sebagai manusia ciptaanNya, kita diingatkan dan diajarkan tentang bagaimana cara yang pantas saat berhadapan dengan Tuhan. Salah satu ayat dalam Alkitab yang bisa mengajarkan kita tentang hal itu adalah ayat harian kita hari ini. Tuhan adalah Pencipta kita. Lalu, bagaimana cara kita memperlakukanNya? Pertama, menghormati Dia. Kedua, menaati Dia. Lalu, bagaimana cara kita mengolaborasi keduanya? Ayat hari ini menjadi jawaban untuk itu, yaitu dengan sujud menyembah dan berlutut di hadapanNya.

Sikap bersujud, menyembah, dan berlutut adalah sikap berserah dan merendahkan diri. Inilah hal yang harus kita ketahui dalam memosisikan diri kita di hadapan Tuhan, dan dalam memperlakukan Tuhan di dalam hidup kita. Tidak ada celah sedikit pun bagi kita untuk meninggikan diri, apalagi merendahkan Tuhan dalam hidup kita. Kita adalah ciptaanNya. Artinya, kita tidak akan ada di alam semesta ini jika bukan karena Tuhan. Dengan sikap bersujud, menyembah, dan berlutut itu juga kita memperlihatkan bahwa kita menaruh keberlangsungan hidup kita di tanganNya. Jika kita telah melihat kebesaran, kemuliaan, dan kekuasaan Tuhan dalam hidup kita, maka tidak sulit untuk merendahkan diri kita di hadapanNya, karena kita menjadi teringat dengan segala kekecilan, kelemahan, kemunafikan, serta dosa-dosa kita di hadapanNya. Marilah kita bawa segala keberadaan kita apa adanya ke hadapan Tuhan. Tidak ada artinya bagi kita untuk meninggikan diri di hadapanNya. Dia adalah Tuhan yang memang layak untuk disembah oleh manusia. Amin.

 

5. Doding: Haleluya No. 275:1+6
Martuah do na marhaposan, bai Naibata Bapanta in.
Ai in do dapot pangapohon, bai ganup sitaronon in.
Seng horsik be onjolan ni na mangkaposi Tuhan in.

Urah do anggo bai Tuhanta, marguru bai rosuhNi in.
Na bayak boi pasombuhonNi, janah bayak na sombuh in.
Longang magira uhurmin, mangidah pambaenanNi in.

 

6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

 

Departemen Persekutuan GKPS