Ilustrasi gambar: https://www.halodoc.com/

MARAH ITU APA?

Marah adalah respon emosional yang kuat terhadap situasi atau stimulus yang dianggap sebagai ancaman, ketidakadilan atau pelanggaran terhadap nilai-nilai pribadi seseorang. Hal ini bisa mempengaruhi psikologis dan interaksi sosial seseorang (Desteno D. dkk, 2000).

Marah dan kemarahan bisa terjadi pada setiap pribadi, tidak dibatasi oleh usia, hanya cara mengekspresikan kemarahannya yang berbeda bagi setiap pribadi.  Marah merupakan suatu reaksi normal seseorang terhadap suatu kejadian. Namun jika kemarahan tidak dikelola dengan baik bisa merugikan, bagi pribadi seseorang dan bagi alamat kemarahan.

Kemarahan didefenisikan sebagai pikiran, perasaan, serta tindakan dan reaksi fisik yang dihasilkan dari provokasi fisik, emosional atau mental. Kemarahan merupakan emosi yang cenderung menjadi bahan bakar bagi kekerasan. Hal ini juga bisa terjadi pada diri seorang anak. Anak tantrum, perlu diperhatikan aspek fisik motorik, aspek nilai agama dan moralnya, aspek sosial ekonomi, emotional question, penting sekali seorang anak juga mengelola emosinya.

 

PENTINGNYA MENGELOLA EMOSI SEJAK DINI

Belajar mengelola emosi sejak dini penting untuk dilakukan. Anak-anak akan mengalami berbagai situasi dan pengalaman yang baru dalam pertumbuhkembangannya. Pengalaman ini akan berpengaruh terhadap emosi yang mereka miliki. Lewat pengajaranlah seorang anak mengetahui cara merespon sebuah hal dengan benar.

Semua orang tua pasti tidak menginginkan anaknya sampai tantrum, sedih, marah yang berlebihan bahkan sampai melakukan kekerasan ketika merespon emosi terhadap sesuatu. Untuk itulah maka sangatlah penting untuk memahami dan mengendalikan kemarahan anak dengan mengajarkan cara nya.

Kemarahan anak pada masa usia kecil tidaklah baik diabaikan atau diremehkan karena ini bisa menyebabkan efek psikologis yang berbahaya untuk perkembangannya. Efeknya bisa membekas dan berakibat pada masa mendatang. Apa yang disebut dengan life story nya akan mengulang di masa depannya jika tidak dikelola dengan baik. Tidaklah baik mengembalikan permasalahan anak kepada dirinya kembali. Disinilah peranan orang tua hadir memahami permasalahannya. Apa dampak yang bisa muncul dalam diri anak jika hal itu diindahkan oleh orang tua, anak bisa jadi suka berkelahi, melakukan perundungan, mudah terpancing emosi, kemarahan yang sulit dikendalikan.

 

CARA MENGAJARKAN ANAK MENGELOLA EMOSI

Anak diajar cara untuk menenangkan diri.

Berikan anak waktu untuk istirahat dan tenang untuk meredakan amarahnya, jika kemarahan anak masih dalam batas wajar. Ketika anak sudah mulai merasa tenang, maka bawalah anak untuk jauh dari hal yang membuatnya marah dan sampaikan kalimat yang membuat dia tenang. Biasanya hal yang disampaikan ialah hal yang disukainya. Namun jika anak bereaksi lebih agresif, maka harus segera menghentikannya. Suruhlah ia duduk selama 1-2 menit untuk mendinginkan pikirannya. Arahkan anak untuk menarik nafas beberap kali sampai dia tenang, sehingga bisa membicarakan dengan baik cara untuk menyelesaikan masalah yang membuat dia marah.

Anak diajarkan untuk mengungkapkan perasaannya.

Anak yang tidak diajarkan untuk mengungkapkan perasaannya akan cenderung berteriak, memukul, menendang dan menjerit ketika marah. Semua itu terjadi karena tidak tahu bagaimana mengekspresikan marahnya secara verbal. Ajarkan kata-kata emosi yang beda sesuai dengan suasana hatinya. Diajar untuk memberitahu apa yang dirasakan atau suasana hatinya. Misalnya, apa kata untuk mengungkapkan perasaan bahagia, takut, marah, kesal, gugup dan sebagainya.

Berikan pujian pada anak.

Salah satu cara untuk mengajarkan anak mengelola emosinya adalah dengan memberikan pujian. Walau dalam keadaan perasaan marah, kecewa atau sedih, upayakanlah menyampaikan sesuatu yang dapat dipuji dari dirinya, hal itu akan membuatnya lebih tenang. Kenapa ini penting? Karena bisa saja salah satu penyebab mereka marah karena ingin mendapat pujian atau apresiasi dari orang tua, yang sering terabaikan. Kecendrungan yang selalu terjadi orang tua hanya melihat kekurangan dan kelemahan seorang anak. Memang, pujian juga tidak boleh berlebihan, bisa berakibat buruk.

Berikan contoh yang baik.

Anak adalah pribadi yang suka meniru, dan hal itu paling mudah diterima dari orangtuanya. Makanya jika menginginkan anak dapat mengelola amarahnya, untuk itu orang tua harus memperlihatkan bahwa dirinya dapat juga mengelola emosinya. Bila orang tua mengajarkannya untuk mengelola amarahnya, tapi orang tua tidak mencontohkannya, maka akan sulit bagi anak menerapkannya. Boleh marah, tapi jangan berteriak penuh amarah, sampaikan perasaan dengan bijak, janganlah mudah marah. (bgs/hks)

 

Pdt. Erni J. Purba, M.Th