BAHAN PA NAMAPOSO 21 DESEMBER 2025
Teks: lukas 2:8-20
Tema: gembala di padang saksi kelahiran Yesus
Tujuan: agar Namaposo bersukacita dan menjadi saksi kelahiran Yesus dalam hidupnya
Kisah mengenai gembala yang pergi menuju ke Betlehem sesudah malaikat Tuhan berdiri memberikan kabar sukacita mengenai kelahiran Kristus mungkin sudah sering sekali kita lihat di perayaan Natal melalui drama atau fragmen. Sangkin seringnya, bahkan kita sudah hafal tentang apa yang akan ditampilkan di tiap scene dan kalimatnya. Tetapi apakah kita pernah bertanya apakah malaikat benar-benar menyuruh mereka ke Betlehem? Atau ketika kita melihat drama itu, apakah pesannya bisa kita dapatkan?
Di dalam budaya Yahudi di zaman Yesus, mereka masih mengenal sistem kelas sosial. Dan gembala adalah salah satu kelas yang berada di paling bawah tatanan tersebut. Gembala sering sekali disamakan dengan budak, perempuan, atau bahlan janda. Artinya adalah gembala di dalam perspektif budaya adalah orang-orang yang terpinggirkan, terasing, dan tidak dianggap. Tetapi melalui teks ini , ditunjukkan bahwa justru kelompok yang terasingkan ini lah yang “dipakai” oleh malaikat Tuhan untuk menjadi saksi kelahiran sang Juru Selamat manusia. Kisah ini ingin menunjukkan satu pesan yang sangat jelas bahwa sebenarnya Yesus yang kita rayakan kelahiran-Nya di hari Natal ini adalah Tuhan yang memihak terhadap orang-orang yang terpinggirkan, yang keberadaannya sering sekali tidak dianggap oleh masyarakat.
Secara tekstual, malaikat Tuhan tidak pernah secara eksplisit menyuruh atau memberi perintah kepada para gembala untuk datang ke Betlehem. Kata yang paling dekat dengan menyuruh adalah “kamu akan menjumpai seorang bayi” ay12. Artinya adalah, keberangkatan para gembala menuju Betlehem untuk menyakskan kelahiran Kristus adalah hasil dari inisatif mereka. Ini adalah pesan yang kedua melalui teks kita pada minggu ini. Iman harus ditunjukkan melalui aks, tindakan yang dilandaskan oleh rasa suka cita. Kelahiran Yesus Kristus sang Juru Selamat adalah bukti bahwa Tuhan sangat mengasihi kita manusia sebagai ciptaan-Nya. Maka kita juga harus menunjukkan hal yang sama agar di setiap proses hidup kita, marilah kita dengan rendah hati dan suka cita menerima kasih itu yang dibuktinyatakan melalui sikap dan tindakan kita.
Di momen natal ini, namaposo kembali diingatkan bahwa salah satu pesan utama dari perayaan Natal adalah kesederhanaan. Yesus lahir dengan sederhana, dan dia juga memakai orang yang terpinggirkan. Maka namaposo juga harus sanggup bersikap demikian. Menjadi tetap sederhana di tengah-tengah hedonism yang sudah semakin mengakar di zaman ini. Namaposo juga harus meneladani sikap para gembala yang senantiasa bekerja, dan bertindak menunjukkan imannya tanpa bersungut-sungut. Di tengah-tengah kehidupan mereka yang susah, terpinggirkan, dan tidak dianggap, Tuhan memakai mereka.