Sebelum bertolak ke Pematangsiantar, Pimpinan Sinode GKPS berfoto bersama dengan Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Dolok Matiur dan Fulltimer GKPS Resort Tiga Dolok, pada Rabu, 15 Juli 2026. (Foto: Vik. Pdt. Dian L. Damanik)
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID – Komitmen untuk menjaga dan memelihara aset gereja kembali ditunjukkan oleh Pimpinan Sinode GKPS. Pada Rabu (15/7/2026) pagi, selaku Pimpinan Sinode, Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pdt. Dr. Janhotner Saragih, yang turut di damping Praeses Distrik I GKPS, Pdt. Jhon Winsyah Raja Saragih, M.Th., melakukan kunjungan pastoral sekaligus peninjauan lapangan ke GKPS Dolok Matiur, Resort Tiga Dolok.
Kunjungan ini merupakan wujud nyata kepedulian sinode terhadap dinamika pelayanan di tingkat jemaat, khususnya dalam mengelola aset berharga yang diwariskan oleh para pendahulu.
GKPS Dolok Matiur sendiri memiliki nilai historis yang kuat. Berdiri dan melayani sejak tahun 1970, jemaat di tempat ini mengelola sebidang tanah hibah dari masyarakat seluas 5.895,3 meter2 yang kini digunakan sebagai lokasi bangunan dan halaman gereja.
Kehadiran Sekjend dan rombongan disambut dengan penuh sukacita oleh keempat Pimpinan Majelis Jemaat (PMJ) Dolok Matiur, St. Imran Purba (Pengantar Jemaat), St. Serta br. Sinaga (Wakil Pengantar Jemaat), St. Roh Tuah Sinurat (Sekretaris), dan St. Lenni br. Haloho (Bendahara), Pendeta GKPS Resort Tiga Dolok, Pdt. Ardelina Purba, S.Th., Vikar Pdt. Dian Lasmauhur Damanik, S.Th, St. Hotma Taruli Silalahi, Retman H. Parulian Manihuruk, serta St. Parulian Silalahi.
Asal-usul Nama “Matiur”
Dialog yang akrab dan hangat terbangun saat rombongan berbincang di ruang konsistori gereja. Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Janhotner Saragih, melontarkan sebuah pertanyaan pemantik yang menarik. “Mengapa gereja kita ini diberi nama GKPS Dolok Matiur? Dan apa makna ‘Matiur’ yang dimaksud?” tanya Pdt. Janhotner.
Menanggapi pertanyaan tersebut, salah satu sintua, St. Hotma Taruli br. Silalahi, menjelaskan sekelumit sejarah lokal. Ia mengisahkan bahwa sekitar satu kilometer dari lokasi gereja saat ini, dulunya terdapat sebuah kampung bernama Dolok Matiur yang menjadi asal tempat tinggal mereka. Kata ‘Matiur’ sendiri memiliki arti ‘Terang’.
Pada masa awal berdirinya gereja, mayoritas warga yang datang beribadah memang berasal dari kampung tersebut. Atas dasar itulah, para pendiri jemaat sepakat menyematkan nama GKPS Dolok Matiur. Nama ini bukan sekadar identitas geografis, melainkan pengingat historis atas awal mula pertumbuhan iman jemaat di sana.
Pemanfaatan Lahan untuk Kemandirian Gereja
Usai bertukar cerita, Sekjend dan rombongan bersama seluruh PMJ, Fulltimer dan Majelis Jemaat bergerak menuju area lahan milik gereja.
Di atas lahan tersebut, jemaat memanfaatkan dengan menanam pohon kelapa sawit. Dalam perencanaan lahan dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan untuk dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan mandiri bagi gereja. Hasil panennya kelak akan digunakan untuk menopang berbagai program pelayanan jemaat. Langkah strategis ini menjadi contoh nyata bagaimana aset gereja dapat dikelola secara produktif dan ekonomis, tanpa mengesampingkan fungsi utamanya sebagai sarana pelayanan jemaat.
Kunjungan pastoral ini diakhiri dengan sesi foto bersama di area gereja untuk mengabadikan momen kebersamaan antara Pimpinan Sinode, Distrik, Resort, dan Majelis Jemaat setempat. Sebelum bertolak meninggalkan lokasi, rombongan kembali ke ruang konsistori. Sekjend kemudian memimpin doa penutup, memohon berkat bagi kelangsungan pelayanan, perlindungan atas seluruh aset tanah, serta kesejahteraan bagi segenap jemaat GKPS Dolok Matiur. (hks/bgs)
Pewarta: Vik. Pdt. Dian Lasmauhur Damanik, S. Th