Sumber gambar: https://siapnikah.org/komunikasi-dalam-keluarga-kunci-hubungan-yang-harmonis/
PENDAHULUAN
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang berperan penting dalam membentuk individu dan mempengaruhi lingkungan sosial. Menurut Salvicion dan Celis (1998): di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah hubungan perkawinan atau pengangkatan.
Berdasar Undang-Undang 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bab I pasal 1 ayat 6, keluarga diartikan sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau suami (kepala keluarga), istri dan anaknya yang di sebut dengan rumah tangga atau dengan sebutan lainnya ialah keluarga kecil; sedangkan yang disebut dengan keluarga besar selain suami, istri dan anak-anaknya dirumah tangga tersebut terdapat orang tua atau disebut ayah dan ibu dari pihak suami dan juga terdapat anak-anaknya orang tua yang lain termasuk orang tua dari ayah (kakek dan nenek).”
Dalam keluarga seseorang belajar tentang kasih sayang, pengertian, dan kebersamaan. Secara kekristenan kita memahami bahwa kehidupan berkeluarga adalah inisiatif Tuhan Allah, yang didalamnya ada mandat kepada umat manusia.
Dalam kitab Kejadian 1:28 dituliskan: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Dan dalam Kejadian 2:24 dituliskan “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
Dari uraian di atas, maka kita memahami bahwa keluarga terdiri dari beberapa individu yang diikat dalam sebuah ikatan, dimana Tuhan yang telah mempersatukan. Lalu, dalam perbedaan karakter individu-individu tersebut, tidak jarang muncul kesalahpahaman yang memicu pertengkaran. Dalam kondisi seperti ini, dialog menjadi salah satu cara untuk menjaga keharmonisan keluarga. Dan tulisan ini mencoba untuk melihat bagaimana peran dialog dalam membentuk dan membangun harmoni dalam sebuah keluarga.
PENJELASAN
- Makna Dialog
Dialog adalah percakapan timbal balik antara dua orang atau lebih, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, yang memiliki tujuan untuk saling memahami dan menyampaikan informasi.’
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “dialog” memiliki dua pengertian, yakni: 1) Percakapan dalam sandirawa atau cerita; 2) Karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan (ini mencakup teks yang ditulis dengan kalimat langsung, biasanya dilengkapi dengan tanda petik untuk menunjukkan percakapan).
Menurut etimologi, “dialog” berasal dari bahasa Yunani yaitu dia dan logos yang mempunyai arti bicara antara dua pihak atau dwicara. Sehingga dialog merupakan percakapan antara dua orang atau lebih guna mencapai tujuan yang hendak dicapai.
Dialog berupaya untuk memberikan pemahaman dan pengertian tentang ajaran dan kehidupan. Dialog mempunyai tujuan untuk menciptakan kerukunan, pembinaan toleransi dan kesejahteraan bersama, membudayakan keterbukaan, mengembangkan rasa saling menghormati, saling mengerti, membina integrasi, berkonsistensi diantara berbagai perbedaan. (G. Edwi, Menjadi Pribadi Religius., 58).
Dalam dialog hal-hal yang kerap muncul dan terjadi adalah; bahwa dialog melibatkan dua pribadi atau lebih dalam percakapan, yang memungkinkan muncul tanya jawab di antara pribadi yang terlibat dalam dialog tersebut, yang dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga akhirnya dalam dialog itu, ditemukan kesepamahaman, dan kesepengertian antara pribadi yang berdialog, atas sesuatu yang menjadi topik dialog mereka.
- Makna Harmoni
Harmoni dalam bahasa Yunani berasal dari kata “harmonia” yang berarti terikat dan serasi, yang mencakup aspek kehidupan, termasuk seni, musik, dan interaksi sosial.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “harmoni” diartikan sebagai keselarasan, kesesuaian, dan keseimbangan dalam berbagai aspek. Harmoni juga memiliki beberapa pengertian, antara lain:
- Keselarasan: harmoni merujuk pada keadaan di mana berbagai elemen salig mendukung dan tidak bertentangan satu sama lain.
- Kesesuaian: Istilah ini juga mencakup kesesuaian antara berbagai komponen dalam suatu sistem atau konteks.
- Keseimbangan: Harmoni mencerminkan keseimbangan yang baik antara berbagai unsur, baik dalam music, sosial, maupun aspek lainnya.
Manusia sebagai mahluk sosial yang selalu terinteraksi dengan orang lain, yang semestinya hidup dan tinggal dalam sebuah harmoni sosial. Dengan membangun harmoni sosial membuka peluang untuk hidup terbebas dari konflik, meskipun berada diantara kepelbagaian dan masyarakat yang majemuk. Membangun dan memelihara harmoni juga akan menciptakan energi positif yang dapat membantu seseorang tumbuh dalam keseimbangan emosional yang baik, sehingga hidup dalam hubungan yang sehat dengan yang lain dan tinggal dalam interaksi yang saling menghormati dan mendukung.
Lalu bagaimana wujud keluarga yang harmoni? Harmoni dalam keluarga adalah suatu keadaan dimana anggota keluarga penuh dengan ketenangan, ketenteraman, terjalin kasih sayang, saling pengertian, dialog dan kerjasama yang baik antara anggota keluarga. Hal ini tentu diawali dan berdasarkan pada adanya tanggungjawab untuk bersama-sama menciptakan keluarga yang saling menghormati, saling menerima, menghargai, saling mempercayai dan saling mencintai. Setiap anggota keluarga terinteraksi dalam jalinan kasih sayang, pengertian, dan saling memahami.
Beberapa penulis mendefenisikan Keharmonisan Keluarga sebagai berikut:
- Menurut Gunarsa (2002), keharmonisan keluarga adalah bila mana seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh berkurangnya ketegangan, kekecewaan, dan puas terhadap seluruh keadaan dan keakraban dirinya (eksistensi aktualisasi diri) yang meliputi aspek fisik, mental, emosi dan sosial.
- Menurut Qaimi (2002), keharmonisan keluarga adalah keluarga yang penuh dengan ketenangan, ketentraman, kasih sayang, keturunan dan kelangsungan generasi masyarakat, belas-kasih dan pengorbanan, saling melengkapi, dan menyempurnakan, serta saling membantu dan bekerja sama.
- Menurut Walgito (1991), keharmonisan keluarga adalah berkumpulnya unsur fisik dan psikis yang berbeda antara pria dan wanita sebagai pasangan suami istri, dilandasi oleh berbagai unsur persamaan; seperti saling dapat memberi dan menerima cinta kasih tulus dan memiliki nilai-nilai serupa dalam perbedaan.
- Menurut Daradjad (2009), keharmonisan keluarga adalah suatu keadaan dimana anggota keluarga tersebut menjadi satu dan setiap anggota menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing, terjalin kasih sayang, saling pengertian, dialog dan kerjasama yang baik antara anggota keluarga.
Dari defenisi yang di atas, maka semakin jelas bahwa sejatinya keluarga harus dibangun dengan sebuah dasar bersama, sehingga harmoni itu dapat dirasakan dan dinikmati oleh anggota keluarga tersebut.
- Dialog Kunci dalam Keluarga
Pada bagian pendahuluan telah dituliskan apa dan siapa yang masuk dalam unsur keluarga, sehingga secara sederhana dapat dikategorikan bahwa keluarga adalah pertemuan atau persekutuan dari beberapa pribadi yang berbeda, yang mau tidak mau membuka peluang bagi keluarga untuk tetap berdialog. Dialog bukan sekadar berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati. Ketika setiap anggota keluarga mau saling mendengar dan memahami perasaan satu sama lain, hubungan akan terasa lebih hangat dan penuh rasa percaya.
Masalah-masalah dalam keluarga sebenarnya muncul bukan karena persoalannya terlalu besar, melainkan karena kurangnya komunikasi dan dialog yang baik. Orang tua yang terbuka dan mau mendengar anak-anak akan menciptakan suasana rumah yang nyaman. Demikian sebaliknya, anakpun akan merasa dihargai dan tidak takut menyampaikan pendapat atau masalah yang dihadapinya, bila orangtua memberikan ruang untuk mendengar dan berdialog dengan anak-anaknya. Anak yang diberi ruang untuk berdialog di tengah-tengah keluarga, akan membentuk anak yang sopan kepada orang tua juga menunjukkan rasa hormat dan kepedulian terhadap keluarga.
Dialog adalah proses interaksi yang dilakukan dengan 2 (dua) arah, dan dalam dialog yang baik sebaiknya dilakukan dengan sikap tenang, jujur, dan saling menghargai. Menghindari nada tinggi, kata-kata kasar, atau menyalahkan akan membantu percakapan menjadi lebih positif. Bahkan ketika terjadi perbedaan pendapat, dialog tetap dapat menjadi jalan untuk menemukan solusi terbaik tanpa harus melukai perasaan. Selain menyelesaikan masalah, dialog juga mempererat hubungan emosional antar anggota keluarga. Sehingga dapat dikatakan bahwa dialog adalah salah satu cara untuk membangun hubungan yang sehat di tengah-tengah keluarga, sehingga terbangun harmoni dalam keluarga.
- Dialog dalam Keluarga Kristen
Sebagai umat percaya, yang berada dalam satu komunitas yang telah dipersatukan oleh Tuhan, dan yang disebut sebagai keluarga, tentu kita juga masuk dalam sebuah situasi yang selalu terinteraksi satu dengan yang lain. Maka umat Kristen harus menghidupi proses interaksi itu dalam sudut pandang Alkitab.
Secara sederhana dapat disebutkan bahwa dialog dalam keluarga Kristen berpusat pada kasih, komunikasi yang membangun, saling menghormati, pengampunan, dan pengajaran firman Tuhan. Sehingga dalam berdialog, tetap tidak melupakan aspek pengajaran firman Tuhan.
Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Korintus dan mengajarkan hakikat dari dialog/komunikasi di tengah-tengah jemaat tersebut. Bahwa dalam 1 Korintus 13:4–7 mengajarkan bahwa kasih itu sabar, murah hati, tidak kasar, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Itu berarti bahwa dalam sebuah komunitas kasih mendasari segala sesuatunya. Dengan dan berdasarkan kasih, maka setiap anggota keluarga mampu berbicara dengan lembut, mendengarkan satu sama lain, tidak mudah marah, dan saling mendukung.
Dalam berdialog juga secara tidak langsung ada pengajaran yang dilakukan, maka dalam Ulangan 6:6-7 menggariskan bahwa komunikasi keluarga bukan hanya tentang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga tentang menanamkan nilai iman dan firman Tuhan kepada anak.
Dalam Efesus 4:29 dituliskan: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun.” Hal ini mengajarkan kepada keluarga Kristen untuk membangun harmoni keluarga yang diwujudnyatakan dengan dialog dengan menggunakan kalimat untuk menguatkan, bukan melukai, dan menghindari hinaan dan kemarahan berlebihan. Dalam membangun harmoni alam keluarga juga sangat dibutuhkan kesiapan dan kesabaran untuk dapat mendengar.
Maka dalam Yakobus 1:19 dituliskan “Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.” Unsur saling mendengar, tidak memotong pembicaraan, mengendalikan emosi saat berdiskusi adalah bagian dari membangun harmoni dalam keluarga.
Kita tidak mengabaikan bahwa dalam sebuah keluarga akan ada gesekan, perpedaan pendapat, atau bahkan sampai kepada titik konflik. Namun keluarga Kristen sejatinya keluarga yang mampu hidup dalam sabar dan mampu mengampuni (Kolose 3:13). Sikap mengampuni dan melakukan rekonsiliasi bila ditemukan konflik dalam keluarga Kristen adalah salah satu upaya untuk membangun harmoni dalam keluarga. Dengan memperhatikan hal-hal yang tersebut di atas, maka kehidupan keluarga Kristen adalah kehidupan yang saling membangun dan menopang untuk mencapai dan menciptakan harmoni dalam keluarga yang berdasarkan pada firman Tuhan.
- Tantangan Membangun Dialog
Hari ini, berhadapan dengan kehidupan modern dan di era digital, kehidupan yang individualis, egois, dan hanya berfikir tentang dirinya sendiri menjadi fakta dan realita di tengah-tengah kehidupan keluarga Kristen. Makna dialog, seolah-olah tergerus dengan dunia yang semakin maju, sehingga tidak mengherankan bila dialog itu menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan. Tuntutan pekerjaan dan kesibukan menjadi sebuah alasan yang kuat untuk tidak menciptakan dialog di tengah-tengah keluarga. Pendidikan iman yang sejatinya menjadi pondasi yang kokoh untuk pertumbuhkembangan iman anak-anak bukanlah menjadi sebuah prioritas. Dan tentu ini mempengaruhi pertumbuhan anak-anak yang kurang memperhatikan nilai-nilai spiritual.
Selain itu, kehadiran teknologi dan media digital menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi sarana edukatif dan komunikasi yang efektif. Namun, jika tidak dikelola dengan bijak, teknologi dapat mengurangi interaksi langsung dalam keluarga. Ketergantungan pada media sosial, permainan daring (online gaming), dan hiburan digital lainnya sering kali mengalihkan perhatian anggota keluarga dari relasi yang lebih mendalam dan bermakna. Fenomena ini berdampak pada lemahnya keterlibatan anak-anak dalam kehidupan rohani dan kegiatan keagamaan. Tentu hal ini dapat diantisipasi dengan partisipasi seluruh anggota keluarga dengan perspektif dan orientasi yang sama, bahwa setiap anggota keluarga mempunyai tanggungjawab untuk membangun harmoni dalam keluarga. Bahwa ada tantangan yang akan dihadapi, tetapi dengan pemahaman yang sama bahwa mandat Allah bagi umat-Nya harus dinyatakan dalam kehidupan keluarga Kristen, tentu tantangan itu bukan menjadi penghalang untuk membangun keharmonisan dalam keluarga Kristen.
PENUTUP
Keluarga adalah Ecclesia Domestica atau Gereja rumah tangga. Diharapkan melalui insiatif Allah yang menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sebuah komunitas keluarga, maka setiap umat-Nya mampu memelihara mandat Allah dengan mewujudnyatakan harmoni di dalam keluarga. Bahwa tugas gereja saat ini adalah menopang setiap keluarga dari warganya, sehingga dapat bertumbuh di dalam dialog yang membawa dan mendorong setiap keluarga bertumbuh di dalam harmoni. Meskipun keluarga yang harmonis bukanlah keluarga tanpa masalah, tetapi keluarga yang harmonis adalah keluarga yang mampu menghadapi masalah dengan komunikasi yang terwujud dalam dialog yang baik. Dengan membiasakan dialog yang berdasarkan kepada Firman Allah dalam kehidupan sehari-hari, suasana rumah akan menjadi lebih damai, penuh kasih, dan membahagiakan bagi semua anggota keluarga, sehingga terbentuklah harmoni keluarga. (hks/bgs)
Pdt. Putri Saragih
Kepala Departemen Kesaksian GKPS
Daftar Pustaka
Gunarsa, D.S. 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, Y.S. 1994. Asas-Asas Psikologi Keluarga Idaman. Jakarta: Gunung Mulia.
Qaimi, Ali. 2002. Keluarga dan Anak Bermasalah. Bogor: Cahaya.