Suasana pertemuan antara Pimpinan Sinode dengan mitra dari Federation of Evangelical Lutheran Churches in Malaysia and Singapore (FELCMS), pada Jumat (17/7/2026) pagi. (Foto: Bryand Sinaga)
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID–Suasana hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti Balai Harungguan Kantor Sinode GKPS pada Jumat (17/7/2026) pagi. Pimpinan Sinode GKPS menerima kunjungan penting dari Federation of Evangelical Lutheran Churches in Malaysia and Singapore (FELCMS). Pertemuan ini menjadi tonggak sejarah baru dalam mempererat hubungan dan menyatukan visi pelayanan sesama keluarga besar Lutheran di Asia Tenggara.

Bukan sekadar silaturahmi, kunjungan ini membawa misi strategis untuk menjajaki berbagai potensi kerja sama pelayanan di masa depan. Salah satu fokus utama FELCMS dalam kunjungan ini adalah mengenal lebih dalam program Women Crisis Center (WCC) GKPS. Program ini menarik perhatian karena dinilai sukses menjadi garda terdepan GKPS dalam pelayanan diakonia dan pemberdayaan perempuan.
Membangun Jejaring Lutheran se-Asia
Agenda internasional ini diinisiasi langsung oleh Pdt. Dr. Rospita Siahaan (LWF Regional Secretary for Asia) bersama Pnt. Tetty Aritonang (Regional Officer for Asia). Kehadiran mereka merupakan bagian dari rangkaian safari FELCMS ke berbagai gereja Lutheran di Indonesia untuk memperkuat jejaring, membangun persaudaraan, serta mengembangkan kolaborasi pelayanan yang nyata di kawasan Asia.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini dipandu oleh Pdt. Rim Saragih selaku Kepala Bidang Oikumene GKPS. Pada kesempatan tersebut, Pdt. Rim turut memperkenalkan jajaran pimpinan dan pelayan GKPS yang hadir, di antaranya: Ephorus GKPS Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc, Kepala Biro Administrasi Pdt. Jan Sudiaman Sinaga, Kepala Departemen Pembinaan Pdt. Ariamsah Purba, Kepala Departemen Persekutuan Pdt. Manes Purba, Koordinator WCC GKPS Pdt. Agnes Saragih.
Dalam sambutan pembukanya, Pdt. Rim Saragih menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan ini. Beliau menegaskan bahwa GKPS selalu terbuka untuk berkolaborasi demi memperluas dampak pelayanan yang berakar pada kasih Kristus.
Disambung Pdt. Rim Saragih, pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari surat resmi FELCMS pada awal Mei 2026 lalu.
“Atas nama pimpinan dan seluruh warga GKPS, kami mengucapkan selamat datang. Kami berharap pertemuan ini menjadi awal dari kemitraan yang semakin erat, kokoh, dan berkelanjutan,” ujar Pdt. Rim Saragih hangat.
Mengenal GKPS dan Gerakan Parjumatanganan
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus) Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc, yang sekaligus memaparkan profil singkat GKPS. Di hadapan para tamu, Ephorus menjelaskan peta pelayanan GKPS saat ini, mulai dari pertumbuhan jumlah jemaat, luasnya cakupan wilayah pelayanan, kesiapan para pelayan gereja, hingga berbagai program strategis yang tengah berjalan.
Satu hal yang mencuri perhatian adalah pengenalan program besar GKPS bernama “Parjumatanganan”. Program ini dirancang khusus untuk membangun gereja yang lebih dewasa, mandiri, dan mampu menjadi berkat nyata bagi masyarakat. Melalui “Parjumatanganan”, GKPS fokus pada peningkatan kualitas pelayanan, pembinaan intensif warga jemaat, serta penguatan peran aktif gereja di tengah sosial kemasyarakatan.
Sesi kemudian berlanjut dengan perkenalan dari delegasi FELCMS. Adapun para tamu kehormatan yang hadir dalam kunjungan ini adalah: Bishop Low Kok Chan (Thomas), Lutheran Church in Malaysia (LCM), Malaysia; Bishop Steven Lawrence, Evangelical Lutheran Church in Malaysia (ELCM), Malaysia; Bishop Wong Fui Kong, Basel Christian Church of Malaysia (BCCM), Sabah, Malaysia; Bishop Christopher Ogodong, The Protestant Church in Sabah (PCS), Sabah, Malaysia; Bishop Anthony Loh Kah Choon, Lutheran Church in Singapore (LCS), Singapura; Rev. Dr. Wilfred John Samuel (Direktur LSC Sabah); dan Rev. Calvin Chong (Rektor Sabah Theological Seminary/STS).
Sementara itu, perwakilan dari Indonesia yang turut hadir adalah: Pdt. Dr. Rospita Siahaan (Sekretaris Regional LWF untuk Asia); dan Pnt. Tetty Aritonang (Petugas Regional untuk Asia).
Belajar Konsep Parjumatanganan dan Pelayanan Sosial
Usai sesi perkenalan, suasana diskusi mencair sambil menikmati kudapan hangat. Pertemuan lalu berlanjut menjadi ruang sharing dan tukar pikiran yang mendalam mengenai konteks pelayanan gereja di masing-masing negara.
Rombongan FELCMS mengaku sangat tertarik dengan konsep “Parjumatanganan” yang diterapkan oleh GKPS. Sistem penggembalaan ini dinilai sangat intens dan mampu membangun kedekatan emosional yang kuat dengan jemaat.
Perwakilan FELCMS mengungkapkan bahwa di Malaysia dan Singapura, melakukan kunjungan rumah (visitasi) atau mengumpulkan keluarga adalah tantangan yang sangat berat. Faktor kesibukan kerja yang tinggi serta jarak geografis yang jauh menjadi kendala utama. Oleh karena itu, mereka melihat program Parjumatanganan GKPS-di mana seorang penatua (sintua) membimbing kelompok keluarga secara spesifik-sebagai strategi jitu yang patut dicontoh untuk menjangkau jiwa secara lebih efektif.
Meninjau Program Inovatif WCC GKPS
Agenda kunjungan kemudian bergeser ke kantor Women Crisis Center (WCC) GKPS yang masih berada di lingkungan kompleks Kantor Sinode. Di sana, rombongan mendengarkan presentasi komprehensif dari Pdt. Agnes Saragih selaku Koordinator WCC.
Pdt. Agnes memaparkan beberapa program unggulan yang sedang berjalan, antara lain:
- Ladang PerManTif: Program pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan lahan pertanian demi kesejahteraan kelompok Perempuan Mandiri Tangguh berIman dan kreatiF.
- Sopou Learning (Rumah Belajar): Pusat bimbingan belajar di Tanjung Pinggir yang menyediakan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu.
Program-program sosial yang menyentuh akar rumput ini memikat perhatian serius para delegasi FELCMS. Mereka melihat adanya potensi besar untuk menjalin kerja sama strategis di masa depan, khususnya dalam mendukung program-program yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Pertemuan lintas negara ini ditutup dengan komitmen bersama. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah langkah awal yang konkret untuk membangun hubungan persaudaraan yang lebih erat, suportif, dan berdampak luas bagi pelayanan Lutheran di Asia Tenggara. (hks/bgs)
Pewarta: Pdt. Rim Glory Saragih
Foto: Bryand Sinaga