Teks. : Lukas 22:47-53
Thema : Yesus Ditangkap
Tujuan : Supaya Remaja dapat:
- Menghubungkan pesan nas dan thema
- Memberi komentar terhadap Tindakan Yesus saat ditangkap.
Hal mencium atau cipika-cipiki adalah hal sering kita lihat dilakukan oleh orangtua kita, khususnya kaum ibu ketika berjumpa dengan sahabatnya yang sama-sama kaum ibu. Demikian juga ketika kita bertemu dengan anak yang berusia balita misalnya, kita juga sering mencium. Hal tersebut menunjukkan sebagai tanda kasih sayang dan persahabatan. Namun ada teman atau sahabat menghianati persahabatan walaupun dalam pertemuan kelihatan akrab dan bersahabat. Sama seperti Yudas yang tega mencium Yesus Kristus dengan maksud mengkhianti-Nya untuk menyerahkan kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua. Kita tidak sepatutnya mencontohi cara Yudas yang menjual Yesus Kristus dengan tiga puluh uang perak (Matius 26:15).
Perikop Lukas 22:47-53 menceritakan peristiwa atau kejadian penangkapan Yesus Kristus dengan tujuan untuk diadili oleh Mahkamah Agama. Ketika Yesus Kristus sedang berbicara, datanglah serombongan orang untuk menangkap-Nya. Mereka tidak langsung menangkap-Nya, tetapi melalui proses Yudas memberi tanda dengan mencium-Nya. (Ayat 47) Suatu ciuman yang tidak tulus dan penuh dengan kemunafikan serta penghianatan dari seorang murid Yesus Kristus. Biasanya mencium sesama adalah merupakan perasaan suka dan bahagia karena hubungan yang akrab. Namun tidaklah demikian yang dilakukan oleh Yudas terhadap Yesus Kristus. Yudas mencium sebagai tanda bahwa orang yang diciumnya adalah orang yang harus ditangkap. Yesus Kristus memasrahkan diri-Nya dan tidak sedikitpun melawan. Bahkan Yesus berkata: Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” (Ayat 48) Yesus Kristus tahu apa maksud jahat Yudas untuk menangkap-Nya. Yesus Kristus dapat saja menggunakan kuasa-Nya, namun Ia tahu bahwa Ia harus menjalaninya demi terwujudnya kerajaan Allah melalui kematian diri-Nya di kayu salib.
Reaksi orang-orang yang bersama Yesus Kristus ingin membela-Nya dengan mengatakan: Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang? (Ayat 49). Suasana menjadi lebih tegang karena seorang di antara yang bersama Yesus Kristus menyerang seorang hamba Imam Besar dengan pedang sehingga putuslah telinga kanannya. (Ayat 50) Akan tetapi Yesus Kristus menenangkan mereka supaya tidak terjadi kegaduhan yang lebih parah dengan mengatakan “Sudahlah itu.” Artinya tidak perlu lagi dipersoalan karena semua bisa selesai dengan Yesus Kristus menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya. Yesus Kristus menunjukkan kuasa mujizat-Nya walaupun serombongan orang itu tetap tidak percaya. “Yesus Kristus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? (Ayat 52) Sangkamu Aku ini penyamun atau diartikan sebagai perampok mengambil harta orang lain dengan menggunakan cara kekerasan atau mengancam pemilik harta dengan senjata dan terkadang disertai dengan pembunuhan. Bahkan dengan menangkap seorang saja yaitu Yesus Kristus mereka datang dengan membawa pedang dan pentung.
sAdek-adek remaja sekalian sepertinya mereka menggangap Yesus Kristus akan lari dari kenyataan dan mungkin akan terjadi perlawanan dari pengikut-Nya. Kendati Yesus Kristus tidaklah demikian, namun mereka memperlakukan-Nya dengan kasar dan tidak sopan. Bahkan saat disalibkan Yesus Kristus disamakan dengan kedua orang penyamun yang disalib bersama-sama dengan-Nya. (Lukas 23:33).
Yesus Kristus memberikan pernyataan bahwa mereka telah mengenal-Nya dan pelayanan-Nya karena mereka berada bersama Yesus di Bait Allah. Akan tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk menangkap-Nya. Karena memang sudah saatnya Yesus Kristus menyerahkan diri untuk di tangkap dengan mengunakan kuasa kegelapan yang dilakukan oleh Yudas dan rombongan orang itu. Inilah saatnya dan inilah kuasa kegelapan itu. Betapa berat rasanya Yesus Kristus harus berhadapan dengan perbuatan seperti ini, namun Dia menerima-Nya demi ketaatan-Nya kepada Bapa d i sorga.
Sebagai orang Kristen, dalam menghayati minggu sengsara yang ke lima ini, marilah kita jalin persahabatan yang baik dengan sesama kita. Kita saling mendoakan, mendukung dan mengasihi satu dengan yang lain. Jangan berprasangka buruk kepada sesama manusia. Sering ada orang yang berprasangka buruk terhadap orang yang tidak melakukan kesalahan dan mempraktikan iman yang benar, namun orang tidak mempercayainya. Mungkin ia akan merespons seperti Sang Guru, dengan mengatakan sangkamu aku ini penyamun atau sangkamu aku ini perampok atau sangkamu aku pencuri, atau sangkamu aku ini “pendusta”. Jadi betapa pentingnya saling mempercayai satu dengan yang lain dengan mengutamakan karakter Kristen yang berdasarkan kasih Yesus Kristus. Walaupun dalam kasih Yesus Kristus kita harus peka dan berhati-hati terhadap saudara, teman dan kerabat yang berperilaku seperti Yudas. Amen