Renungan Mingguan Namoposo GKPS, Minggu 15 Juni 2025 (Trinitatis)
Nats : Kisah Para Rasul 3:1-10
Usul Doding :Haleluya No. 346:1-2
Tema : Petrus Menyembuhkan Orang Lumpuh
Tujuan : Agar Namaposo percaya bahwa Yesus berkuasa memakai hamba-Nya untuk menyembuhkan
SEORANG LUMPUH DISEMBUHKAN
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus, dengan membaca kitab Kisah Para Rasul ini secara keseluruhan, kita akan melihat bagaimana kehidupan para rasul dan jemaat mula-mula. Cara hidup yang mereka tunjukkan merupakan kunci pertumbuhan gereja hingga saat ini. Sebelum nas ini, tepatnya pada pasal 2:41-47 dijelaskan bagaimana cara hidup jemaat pertama hidup dalam kasih Yesus Kristus. Selain itu, diantara mereka Tuhan juga mengizinkan terjadi mujizat-mujizat yang dapat kita baca dalam kitab ini. Namun, yang unik, di antaramujizat dan tanda ajaib yang para rasul lakukan dalam kitab ini, hanya satu saja yang dijelaskan penulis kitab ini yaitu Lukas secara rinci, yaitu pada nas kita ini. Nas ini menunjukkan bahwa kuasa Tuhan berkuasa memakai hamba-Nya yang setia untuk menyembuhkan seorang pria yang lumpuh sejak lahir.
- Perduli Terhadap Kebutuhan Orang Lain (1-3)
Awal kisah dalam nas ini diceritakan bahwa pada suatu hari (pukul 3 petang), yaitu menjelang waktu sembahyang, Petrus dan Yohanes naik ke bait Allah. Tembok itu mempunyai beberapa pintu gerbang, di antaranya satu gerbang seluruhnya dihiasi dengan tembaga yang mahal-mahal dan oleh sebab itu dinamai “gerbang indah”. Dalam nas ini, di gerbang indah itulah ada seorang yang berbaring peminta-minta. Pakaiannya yang tua dan sudah compang-camping, sungguh tidak seimbang dengan gedung-gedung yang serba indah itu. Orang itu juga digambarkan seorang yang lumpuh, dan menurut peraturan orang-orang Farisi, seorang yang lumpuh tidak boleh masuk ke dalam ruang kudus. Peminta-minta yang lumpuh itu tidak boleh masuk ke dalam ruang kudus. Peminta-minta yang lumpuh itu melihat kepada Petrus dan Yohanes, lalu meminta sedekah.
Saudara-saudari terkasih, Petrus dan Yohanes walaupun sedang dalam perjalanan untuk beribadah, mereka menunjukkan keperdulian, kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Mereka tidak hanya sibuk dengan rutinitas mereka, tetapi mereka memperhatikan pria lumpuh itu yang dianggap tidak boleh memasuki ruang kudus itu, yang dianggap oleh orang lain tidak penting atau sebagai pengganggu. Namun, dalam situasi tersebut rasul tersebut melihat bahwa pria ini memiliki kerinduan, kebutuhan yang lebih besar daripada uang. Ia memerlukan kesembuhan dan perubahan dalam hidupnya. Peristiwa ini mengingatkan pemuda-pemudi saat ini supaya memiliki keperdulian kepada orang lain, tidak hanya mementingkan diri sendiri.
- Menghadirkan Kuasa Allah Melalui Iman (4-7)
Para rasul dengan iman berkuasa untuk memberikan kepada pria itu suatu pemberian yang lebih besar lagi melalui kuasa Yesus, yaitu kesembuhan. Petrus menatapnya dan mengatakan: “lihatlah kepada kami”. Dan ketika orang itu, yang belum mengerti apa yang diperbuat Petrus, menatap kedua rasul itu dengan penuh harapan. Tetapi Petrus berkata kepadanya: emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah! Petrus mengajak pria itu untuk percaya pada nama Yesus. Dengan kuasa Allah tersebut, pria itu mengalami mukjizat yang luar biasa, ia disembuhkan dan bisa berjalan dengan kekuatan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kuasa penyembuhan dan pemulihan ada dalam nama Yesus Kristus.
Saudara-saudari yang terkasih, selain itu, ketika Petrus mengatakan “apa yang kupunyai kuberikan kepadamu (ay. 6), ini menunjukkan gambaran hidup rasul-rasul. Mereka selalu sedia memberikan apa yang mereka punyai. Mereka hidup bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk memberikan segenap kekuatan, waktu dan kasih mereka kepada orang yang memerlukan. Gaya hidup demikian juga tidak hanya dilakukan oleh rasul-rasul, tetapi itu juga merupakan cara hidup jemaat yang pertama atau jemaat mula-mula dalam pasal sebelumnya. Mereka tidak mementingkan diri sendiri, orang-orang kaya memanggil orang-orang miskin makan bersama-sama. Di samping itu merekaa bersama-sama bertekun dalam doa (2:42).
- Menjadi saksi dari karya Allah (8-10)
Setelah orang lumpuh itu heran benar mendengar perkataan Petrus; Ia belum berani berdiri. Lalu Petrus memegang tangan kanannya dan membantu dia berdiri. Sebentar itu juga kakinya terasa tegap dan kuat. Begitu besar sukacita orang itu, sehingga itu mengikuti rasul-rasul itu ke dalam Bait Allah, melompat-lompat karena gembiranya dan memuji Allah. Dan orang-orang yang mengenal dia sangat takjub dan tercengang. Perubahan yang terjadi dalam hidup pria itu menjadi kesaksian yang kuat bagi orang lain yang melihatnya tentang kuasa Tuhan. Keajaiban ini bukan hanya untuk pria itu, tetapi juga untuk orang banyak yang menyaksikan dan mendengarkan berita tentang apa yang telah Tuhan lakukan. Demikian juga, Tuhan ingin agar kita tidak hanya menerima berkat-Nya, tetapi juga memberitakan keajaiban yang telah terjadi dalam hidup kita kepada orang lain. Kesaksian kita dapat membawa orang lain untuk mengenal Tuhan yang hidup.
Allah kita adalah Allah yang berinisiatif dan menjadi sumber dari segala yang baik. Segala kebajikan berasal dari Tuhan Allah sendiri Ia, Ia memberikan anugerahNya kepada manusia dan kemudian manusia bereaksi dan digerakkan. Setelah Petrus berkata demikian, dia memegang tangan pengemis itu dan membantu dia berdiri. Segera, kekuatan masuk ke kasi dan mata kaki orang tersebut, sehingga ia dapat berdiri, berjalan, bahkan melompat, melompat kesana-kemari sambil memuji dan memuliakan Tuhan yang maha Kuasa yang sudah memberi kesembuhan kepadaNya. Mukjizat ini terjadi seketika, tanpa proses pemulihan bertahap. Hal ini menunjukkan kuasa Ilahi yang melampaui logika manusia.
Ada pesan penting dari mukjizat yang terjadi, bahwa mukjizat itu bukan karena kehebatan seorang Petrus dan Yohanes, tapi melainkan karena otoritas nama Yesus. Nama Yesus yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan segala penyakit, memulihkan setiap yang lemah dan lelah, membawa kehidupan baru bagi setiap orang yang percaya. Seperti yang dikatakan dalam Filipi 2:10, “Supaya dalam nama Yesus bertekut lutut segala hal yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi”. Pengemis itu pun menunjukkan respon iman yang dimilikinya dengan menerima uluran tangan Petrus. Di dalam hidup kita ini, yang perlu kita ketahui adalah bahwa iman kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang menjadi kunci utama bagi kita untuk menerima segala berkat dari Tuhan dan janjiNya. Bagaimana reaksi orang banyak melihat mukjizat yang terjadi, yang diterima oleh seorang yang lumpuh tersebut? Mereka mengenal pria yang lumpuh itu sebagai pengemis yang sudah biasa duduk di gerbang Bait Suci. Orang banyak yang berada di Bait Allah itu sangat terheran heran dan orang banyak itu. Keheranan mereka menunjukkan bahwa mukjizat ini adalah sebagai kesaksian yang nyata tentang kuasa Tuhan yang luar biasa. Melalui mukjizat itu, nama Tuhan dimuliakan. Itu terlihat dari seorang pengemis yang lumpuh itu memuji dan memuliakan Tuhan setelah menerima kuasa Tuhan yang sudah menyembuhkannya. Mukjizat ini bukan untuk memuliakan nama Petrus dan Yohanes, tetapi memuliakan Tuhan Allah yang berkuasa. Melalui mukjizat ini juga, berita Injil sudah terberita. Petrus menggunakan momen ini untuk memberitakan Injil kepada orang orang yang banyak, yang pada saat itu hadir menyaksikan kuasa Tuhan yang menyembuhkan. Petrus dan Yohanes menjelaskan bahwa mukjizat yang terjadi itu adalah bukan karena perbuatan Petrus dan Yohanes sendiri, tetapi Petrus mengatakan bahwa itu adalah karena iman dan dalam Nama Tuhan Yesus. Petrus ingin orang orang banyak itu menjadi percaya dan beriman kepada Tuhan Allah.
Sahabat kaum muda yang terkasih, melalui perenungan ini ada beberapa hal yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu: percayalah akan kuasa Tuhan Yesus. Kisah ini mengingatkan kita bahwa nama Tuhan Yesus memiliki kuasa yang tidak terbatas. Dalam situasi ini, baik itu penyakit, masalah keuangan, atau pergumulan lain yang kita miliki, kita dapat bersandar kepada Tuhan Yesus, karena Dia adalah sumber kekuatan dan pemulihan kita. Selanjutnya, yang perlu kita aplikasikan adalah bahwa kita harus menjadi Alat Tuhan seperti Petrus dan Yohanes, kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kita mungkin tidak memiliki emas atau perak, tetapi kita memiliki Injil Yesus Kristus yang dapat membawa kehidupan kekal kepada orang orang yang ada disekitar kita. Mari kita membuka mata hati kita untuk melihat kebutuhan orang orang yang ada di sekitar kita, bahkan di lingkungan kita, marilah untuk menjangkau mereka dengan mengasihi mereka dengan kasih Tuhan. Seperti seorang pria miskin yang lumpuh itu disembuhkan, mari juga kita memuji Tuhan dengan sukacita dan menunjukkan kepada dunia betapa besar kasih dan Kuasa Tuhan yang tetap memberi berkat dan kasihnya kepada setiap umatNya yang membutuhkan. Dalam kehidupan kita ini, mari kita menggunakan kesempatan kita untuk bersaksi bagi semua umat, untuk segala berkat dan kesetiaan Tuhan yang selama ini sudah kita terima dan rasakan. Marilah kita dalam kehidupan kita untuk tetap memuliakan Tuhan melalui kehidupan kita. Setiap mukjizat dan berkat yang kita terima dari sang Maha Kuasa adalah kesempatan untuk kita memuliakan Tuhan. Ketika Tuhan melakukan sesuatu yang luar biasa dalam kehidpan kita, janganlah ragu untuk bersaksi dan menyampaikannya kepada orang orang yang ada disekitar kita. karena melalui kesaksian kita itu, kita dapat menjadi alat bagi orang lain untuk mengenal Yesus dan menerima keselamatan.
Saudara-saudari yang terkasih, melalui kisah dalam Kisah Para Rasul 3:1-10 ini, mengajarkan kita kaum muda bahwa kuasa nama Tuhan Yesus tidak pernah berubah. Nama-Nya akan tetap memilki kuasa untuk menyembuhkan kita, memulihkan setiap kehidupan kita, memberikan harapan yang penuh kepada kita. Oleh karena itu janganlah mudah berputus asa. Mari kita menaruh iman percaya kita kepada kuasaNya dan menjadi alatNya untuk membawa terang bagi dunia ini. Melalui perenungan ini, namaposo GKPS semakin disadarkan bahwa Yesus berkuasa memakai hamba-Nya untuk menyembuhkan. Seperti Petrus, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi dunia ini, memperkanalkan mereka pada Yesus yang menyembuhkan dan mengubah hidup. Amin.