Skip to content

SINODE GKPS

Primary Menu
  • Beranda
  • TENTANG GKPS
    • KANTOR SINODE GKPS
    • PIMPINAN SINODE GKPS
    • VISI GKPS 2011-2030
    • STRUKTUR ORGANISASI KANTOR SINODE
    • TATA GEREJA DAN TATA LAKSANA GKPS
    • PERATURAN RUMAH TANGGA GKPS
  • LOGO TAHUN GKPS
    • LOGO TAHUN 2008
    • LOGO TAHUN 2009
    • LOGO TAHUN 2010
    • LOGO TAHUN 2011
    • LOGO TAHUN 2012
    • LOGO TAHUN 2013
    • LOGO TAHUN 2014
    • LOGO TAHUN 2015
    • LOGO TAHUN 2016
    • LOGO TAHUN 2017
    • LOGO TAHUN 2018
    • LOGO TAHUN 2019
    • LOGO TAHUN 2020
    • LOGO TAHUN 2021-2025
    • LOGO JUBILEUM 120
    • LOGO TAHUN 2026-2030
  • DEPARTEMEN-BIRO
    • DEPARTEMEN PERSEKUTUAN
    • DEPARTEMEN KESAKSIAN
    • DEPARTEMEN PELAYANAN
      • PELAYANAN RBM
      • PELAYANAN BKM
      • PELAYANAN WCC
    • DEPARTEMEN PEMBINAAN
    • BIRO ADMINISTRASI
    • BIRO KEUANGAN
    • BIRO LITBANG
    • SATUAN PENGAWAS INTERNAL
    • BIRO HUKUM
    • BIRO USAHA
  • Download
    • VIDEO
    • DOWNLOAD TATA IBADAH
    • DOWNLOAD TONAH
    • DOWNLOAD DODING HALELUYA
  • PARMAHAN NA MADEAR
    • PARMAHAN NA MADEAR (BAHASA SIMALUNGUN)
      • JANUARI BAHASA SIMALUNGUN
      • FEBRUARI BAHASA SIMALUNGUN
      • MARET BAHASA SIMALUNGUN
      • APRIL BAHASA SIMALUNGUN
      • MEI BAHASA SIMALUNGUN
      • JUNI BAHASA SIMALUNGUN
      • JULI BAHASA SIMALUNGUN
      • AGUSTUS BAHASA SIMALUNGUN
      • SEPTEMBER BAHASA SIMALUNGUN
      • OKTOBER BAHASA SIMALUNGUN
      • NOVEMBER BAHASA SIMALUNGUN
      • DESEMBER BAHASA SIMALUNGUN
    • PARMAHAN NA MADEAR (BAHASA INDONESIA)
      • JANUARI BAHASA INDONESIA
      • FEBRUARI BAHASA INDONESIA
      • MARET BAHASA INDONESIA
      • APRIL BAHASA INDONESIA
GKPS CHANNEL
  • Home
  • ARTIKEL
  • Keluarga Di Tengah Arus Perubahan Zaman
  • ARTIKEL
  • DEPARTEMEN KESAKSIAN
  • Rubrik Pastoral

Keluarga Di Tengah Arus Perubahan Zaman

Admin 26 Maret 2026
WhatsApp Image 2026-03-26 at 22.59.24

Ilustrasi keluarga di tengah arus perubahan zaman.

Pendahuluan

Ada lirik lagu yang mengatakan “harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga, puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga”. Lirik ini menyatakan bahwa keluarga lebih bernilai daripada kekayaan materi seperti uang, rumah, atau perhiasan, sebab dalam keluarga ditemukan kasih sayang, kesatuan, dan kebahagiaan yang tidak ternilai.

Dalam Alkitab, keluarga dipahami bukan hanya sebagai ikatan komunitas sedarah, tetapi juga sebagai komunitas iman. Artinya, keluarga merupakan tempat pembentukan karakter dan iman yang berpusat pada Allah, yang diajarkan, diparaktikkan dan diwariskan. Dengan demikian, tiap generasi yang lahir melalui dan di dalam keluarga terbentuk menjadi generasi yang kuat, beriman, dan berkarakter.

Namun, saat ini keluarga kita berada di sebuah “zaman baru”. Yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan globalisasi. Kehadiran teknologi, khususnya digital dan internet, membawa perubahan yang sangat fundamental dalam tatanan sosial masyarakat. Teknologi menjadi faktor utama yang membentuk cara manusia bekerja, berkomunikasi, belajar, berpikir, dan berelasi.

Kehadiran teknologi banyak menolong manusia di berbagai bidang kehidupan, namun di lain pihak memunculkan sejumlah ketakutan dan kekhawatiran, khususnya di tengah-tengah keluarga. Selain itu, pengaruh globalisasi juga memberikan efek ganda bagi peradaban manusia.

Keterbukaan dan keterhubungan informasi membuat individu-individu dalam keluarga memiliki kesempatan dan peluang untuk lebih maju dan berkembang. Namun, keterbukaan dan keterhubungan informasi membuat kebudayaan dan kebiasaan dari berbagai penjuru dunia saling memengaruhi, sehingga muncul berbagai ideologi yang membentuk standar nilai-nilai dan norma-norma yang baru.

Pertanyaannya adalah bagaimana keluarga kita menghadapi perubahan arus zaman ini? Tulisan ini memberikan sebuah refleksi teologis sebagai navigasi bagi keluarga untuk terus berjalan setia dan kuat dalam arus zaman yang serba berubah dan cepat ini.

Krisis Ideologis: Sekulerisme dan Relativisme

Keterbukaan informasi membuat kebudayaan dan kebiasaan dari berbagai wilayah saling memengaruhi, termasuk di dalamnya ideologi. Salah satu ideologi yang menonjol sekarang ini adalah ideologi sekularisme yang menekankan pemisahan antara agama dan ruang publik.

Agama dipahami hanya berada di ruang privat dan tidak berada di ruang publik, karena ruang publik adalah tempat yang terpisah dari dimensi spiritualitas dan agama. Sekularisme juga berhubungan dengan cara pandang yang lebih menekankan pada logika, pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan adanya sekularisme, norma-norma moral dan etika tidak sepenuhnya berakar pada prinsip-prinsip ajaran agama, melainkan lebih pada pola pikir logis dan pengalaman manusia. Contohnya, masalah-masalah seperti hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kebebasan individu sering didiskusikan dalam konteks sekular, di mana dasar etikanya tidak tergantung pada Alkitab, tetapi berlandaskan pada prinsip-prinsip logis dan universal. Akibatnya, keputusan-keputusan besar dalam keluarga, seperti pendidikan, parenting (pola asuh), keuangan, tanggung jawab, sering kali dibuat dan tidak mengakar pada iman Kristen.

Selain itu, keberadaan ideologi relativisme juga sangat besar di zaman ini. Sebuah ideologi yang menggagas “ketidakadaan kebenaran absolut secara universal”. Sebuah kebenaran dipahami bergantung pada subjek dan konteks budaya tertentu. Dengan demikian, nilai-nilai moral dan etika tidak ada yang benar secara universal; mereka hanya benar dalam konteks lokus tertentu.

Pemahaman yang menekankan “semua benar tergantung pada sudut pandang” perlahan akan menggeser pemahaman iman Kristen selama ini yang berkaitan dengan pernikahan, seksualitas, moralitas, dll. Akibatnya, terjadi kebingungan moral, etika, dan nilai. Mana yang benar dan mana yang salah, siapa otoritas  penentu kebenaran dan salah akan membuat orang semakin bingung. Akhirnya, manusia tidak punya pegangan kokoh, tapi terombang-ambing.

Disrupsi Teknologi dan Media Sosial

Perkembangan teknologi digital telah menyebabkan perubahan signifikan dalam cara keluarga berhubungan dan berinteraksi. Ponsel pintar serta platform media sosial menawarkan kenyamanan dalam berkomunikasi dan menjaga hubungan antar anggota keluarga. Namun, kenyamanan ini juga menimbulkan tantangan baru, seperti berkurangnya interaksi langsung, menurunnya kohesi, dan meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi.

Rendahnya kohesi dalam keluarga mengakibatkan masalah dalam regulasi emosi anak, terutama saat mereka menggunakan ponsel pintar. Ini menunjukkan bahwa perkembangan digital dapat merusak dasar psikologis keluarga jika tidak dibarengi dengan pola komunikasi yang positif dan adaptif.

Penggunaan teknologi di dalam rumah tidak hanya sekadar mengubah cara komunikasi; ia juga memengaruhi struktur, fungsi, dan keseimbangan emosional antar anggota keluarga. Kehadiran perangkat di ruang interaksi keluarga sering kali menimbulkan gangguan yang mengurangi kualitas kehadiran emosional. Situasi ini dapat menciptakan fenomena technoference, yakni gangguan interaksi yang diakibatkan oleh penggunaan teknologi yang berlebihan atau tidak pada tempatnya (Bastian et al. 2026, 45). Jika ini terus berlanjut, ikatan emosional serta empati dalam keluarga berisiko melemah, sehingga keseimbangan psikologis rumah tangga menjadi lebih rentan terhadap konflik dan penurunan kesejahteraan emosional.

Teknologi juga menimbulkan tekanan mental yang secara perlahan merusak kualitas hubungan antar anggota. Dalam jangka panjang, gangguan teknologi mengurangi rasa kepemilikan dan kepercayaan di antara anggota keluarga.

Tekanan  digital  sering  kali  tidak  muncul  dalam  bentuk  besar,  tetapi  melalui daily  hassles atau kerepotan kecil yang berulang dalam rutinitas harian. Contohnya, notifikasi yang terus berbunyi saat waktu makan  bersama,  tuntutan  pekerjaan  daring  yang  merembet  ke  jam  istirahat,  atau  distraksi  gawai  ketika mendampingi anak belajar. Daily hassles orang tua berkontribusi terhadap meningkatnya stres keluarga dan masalah emosional pada anak.

Meskipun tampak sepele, stres mikro ini terakumulasi dan bisa berkembang menjadi stres yang berkepanjangan. Keluarga yang tidak dapat membedakan antara ruang digital, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari cenderung kehilangan pola komunikasi yang hangat. Oleh karena itu, gangguan sehari-hari berfungsi sebagai pemicu halus yang secara perlahan mengurangi kapasitas adaptasi keluarga di era digital.

Materialisme dan Tekanan Ekonomi

Kehidupan orang-orang modern sering kali terjebak dalam pusaran konsumerisme dan perlombaan tanpa akhir untuk mengumpulkan kekayaan materi. Salah satu akar penyebabnya adalah tren dan gaya hidup. Kepemilikan materi seperti uang dan barang-barang branded dianggap sebagai tolak ukur sebuah kesuksesan dan kebahagiaan.

Kehadiran media sosial sebagai wadah baru untuk show off  gaya hidup mewah membuat pusaran konsumerisme semakin meningkat. Banyak orang berlomba-lomba untuk memiliki barang mewah demi validasi dan pengakuan. Di pihak lain, banyak orang yang merasa insecure (minder) karena ketidakmampuan bergaya kekinian atau gaul.

Dampak materialisme ini sangat ironis: di satu sisi ada kecenderungan memiliki segalanya, di sisi lain kehidupan ekonomi sangat sulit. Akhirnya, muncullah berbagai tindakan nekat: judi online, pinjaman online, penipuan, dan penggelapan. Banyak keluarga yang terdampak dan mengalami krisis karena gaya hidup konsumerisme. Suami atau istri terjebak pinjol dan judi, akhirnya terlilit utang. Terjadilah kekerasan, bahkan perceraian, dan anak menjadi korban.

Banyak keluarga yang sangat rapuh karena begitu beratnya tanggung jawab dan tekanan ekonomi sekarang ini. Bukan hanya orang tua yang stres, anak-anak muda juga tertekan. Sekarang ini anak-anak muda sedang bertarung dengan teknologi karena banyak pekerjaan yang digantikan oleh teknologi seperti AI (kecerdasan buatan). Dampaknya, banyak anak muda menjadi penganggur.

Krisis struktural: peran orang tua yang tergerus

Perlahan, kontrol dan peran orang tua sekarang ini semakin menipis terhadap anak-anak. Tentu ada faktor penyebab utama yang saling berkelindan antara satu dan yang lain. Bisa karena kesibukan orang tua untuk memenuhi kehidupan ekonomi, sehingga peran orang tua terhadap anak menjadi lemah. Bisa juga karena kehadiran internet yang telah menggantikan peran orang tua. Apa pun penyebab utamanya, satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa peran orang tua terhadap anak semakin hari semakin lemah dan semakin nyata.

Ada sebuah istilah yang sedang tren di zaman sekarang ini, yaitu fatherless—seorang anak memiliki ayah, namun ayah tidak hadir secara maksimal (Fajrianti et al. 2024, 191). Ketidakhadiran ini bisa terjadi dalam bentuk absennya peran, baik secara fisik maupun psikologis dalam hidup anak. Kekurangan peran ayah ini merupakan isu utama karena fatherless adalah sebuah penanda adanya persoalan dalam kehidupan keluarga. Persoalan ini menyebabkan terputusnya kedekatan antara ayah dan anak. Meskipun mereka tinggal di lokasi yang sama, frekuensi pertemuan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sangat minim, sehingga ayah tidak dapat menjalankan peran dan keterlibatan yang penting dalam proses pengasuhan.

Ketiadaan peran ayah akan berdampak pada rendahnya harga diri anak. Ketika ia dewasa, ada perasaan marah dan rasa malu karena berbeda dengan anak-anak lain dan tidak dapat mengalami pengalaman kebersamaan dengan seorang ayah yang dirasakan anak-anak lainnya. Kehilangan peran ayah juga menyebabkan seorang anak merasakan kesepian, kecemburuan, dan kedukaan, serta kehilangan yang amat sangat, yang disertai pula oleh rendahnya kontrol diri, inisiatif, keberanian mengambil risiko, serta kecenderungan menjadi neurotik, terutama pada anak perempuan. Akibat-akibat psikologis yang dirasakan oleh anak tersebut berdampak pada penyimpangan perilaku dan ketidakbermaknaan hidupnya.

Keluarga Sebagai Rancangan Allah

Setelah melihat dan memahami berbagai arus zaman di atas, apakah yang dapat dilakukan oleh keluarga kita? Tentu langkah pertama adalah berefleksi kembali kepada hakikat keluarga itu sendiri.

Dalam Alkitab, dikatakan bahwa keluarga tidak dimulai dari manusia, tetapi dimulai dari Allah sendiri, karena keluarga merupakan ciptaan dan rancangan Allah. Konsep keluarga sesuai dengan visi Allah dan berakar pada narasi penciptaan manusia. “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja; Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Manusia diciptakan Allah laki-laki dan perempuan, dipersatukan Allah menjadi sebuah keluarga, dan menerima mandat dari Allah. “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu.” Artinya, keluarga (melalui persatuan laki-laki dan perempuan) adalah sarana yang Allah rancang untuk melanjutkan ciptaan-Nya.

Mandat untuk “menaklukkan” juga menunjukkan bahwa keluarga adalah unit dasar yang bekerja sama dalam mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan. Keluarga ini dijiwai dengan prinsip “sepadan”: suami dan istri itu adalah pasangan yang setara yang saling melengkapi dan mendukung untuk menyatakan kasih. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama di mana kasih Allah dialami dan dipraktikkan. Konsep ini menjadi dasar utama bagi keluarga masa kini untuk tetap meneruskan visi Allah di dalamnya.

Keluarga Kristen tidak hanya tentang persoalan ekonomi dan bertambah banyak, tetapi juga soal visi dan rencana Allah di dalamnya. Rencana itu harus dilanjutkan dan dikembangkan oleh masing-masing anggota keluarga. Anggota keluarga menyadari perannya masing-masing, sekaligus juga berupaya mewujudkan kasih Allah dalam keluarga itu, sehingga persekutuan dan keluarga bisa tetap terjaga dan terbina dengan baik. Allah begitu mengasihi keluarga. Dengan demikian, tugas anggota keluarga adalah untuk saling mengasihi.

Panggilan untuk saling mengasihi inilah yang tetap merawat dan memulihkan anggota keluarga yang mungkin terluka di luar sana. Dengan kembalinya dia ke dalam keluarga, ada daya dorong dan pelukan yang menguatkan dan memulihkan. Dengan demikian kelurga tetap utuh dan kuat sesuai dengan visi Allah

Memulihkan Mezbah Keluarga

Ada sebuah kalimat dalam buku Edward Hays yang dikutip Marjorie L. Thompson yang merangkum pemahaman tradisi kuno tentang peran keluarga sebagai miniatur gereja yang berjudul “Prayers for the Domestic Church” (Thompson 2001, 16). Altar pertama yang dipuja oleh orang-orang primitif adalah tungku perapian yang menyala-nyala di tengah rumah tangga. Altar berikutnya adalah meja makan keluarga di mana makanan dirayakan dan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah keluarga diperingati. Pendeta pria dan pendeta wanita pada upacara pertama ini adalah para bapak dan ibu di keluarga tersebut.

Hays mengatakan bahwa jauh sebelum munculnya para pendeta, pemimpin yang dituakan baik dari marga ayah maupun ibu dalam keluarga itu mempunyai kuasa memberkati. Bahkan, ketika rumah-rumah ibadah sudah dibangun, rumah tetap menjadi tempat pemujaan. Semua rumah mempunyai tempat pemujaan sentral yang kudus untuk berdoa dan mengenang peristiwa-peristiwa rohani dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, keluarga adalah tempat pembentukan spiritual dan karakter.

Orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Hal ini merupakan warisan turun-temurun keluarga Kristen sejak zaman Alkitab. Dalam Kitab Ulangan 6:6-7 dikatakan: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

Rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga merupakan pusat pengajaran kepada anak-anak (domestic church). Penting sekali bagi orang tua menanamkan dan menghidupkan tradisi Alkitab ini dalam keluarga kita masing-masing, terlebih di zaman sekarang ini. Walaupun kini sekolah dan gereja hadir sebagai tempat pembentukan nilai-nilai, ide-ide dan pengalaman anak muda, lembaga-lembaga ini tidak bisa menggantikan peran keluarga dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak. Dengan karakter yang kuat dan teguh inilah anggota keluarga semakin bijak menghadapi dunia yang semakin berubah ini.

 

Komunikasi Membangun Hubungan

Komunikasi adalah salah satu fondasi utama bagi keluarga untuk membangun kehangatan di era sekarang ini. Salah satu ayat firman Tuhan yang melandasinya adalah Efesus 4:29 “…tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia”. Karena itu, penting adanya komunikasi terbuka antara semua anggota keluarga.

Komunikasi terbuka dimulai dengan kesediaan untuk menjadi pendengar yang baik, mendengarkan cerita anak, keluhan pasangan atau pendapat orang tua tanpa menghakimi. Setiap manusia pada dasarnya butuh dihargai dan dikasihi. Salah satu caranya adalah dengan mendengar mereka.

Jika kita berusaha sungguh-sungguh untuk mendengarkan orang-orang yang didengarkan itu merasa dihargai—apakah dia anak atau pasangan kita—maka secara otomatis hubungan semakin kuat dan kokoh. Agar dapat terjalin komunikasi, maka dengan sengaja diciptakan waktu yang berkualitas. Ingat lirik lagu di atas: “harta yang paling berharga adalah keluarga”. Berarti di tengah-tengah kesibukan, orang tua harus memberikan waktu dan memprioritaskan keluarganya masing-masing. Setelah itu, diberikan peran dan tanggung jawab yang adil bagi semua anggota keluarga.

Pemberian peran dan tanggung jawab pada dasarnya adalah pelajaran pelibatan anak dalam keluarga yang mendorong aplikasi diri, sehingga anggota merasa dianggap, ada, dan bernilai, dan ini mendorong suasana positif. Sedangkan pemberian tanggungjawab adalah latihan untuk bertanggungjawab terhadap setiap keputusan yang dibuat. Dengan demikian, masing-masing anggota keluarga belajar bertanggung jawab dan tahu risiko atas setiap keputusan yang dia buat.

Kesimpulan

Ada arus zaman yang mengalir begitu kuat saat ini, dengan kehadiran teknologi dan globalisasi. Kehadiran ini tentunya memberikan banyak kesempatan bagi keluarga untuk tetap berkreasi, walaupun di sisi lain kehadiran ini bisa melahirkan masalah baru bagi keluarga. Karena itu, penting bagi keluarga untuk mengingat hakikatnya sebagai keluarga yang diinisiasi dan dirancang Allah yang sesuai dengan visi-Nya. Pemahaman ini mendorong keluarga untuk bisa berjalan ke jalan visi Allah walaupun ada banyak tantangan di sana-sini.

Keluarga adalah gereja kecil. Karena itu, di sanalah tempat sekolah pertama, tempat anak-anak didik yang memiliki karakter Kristus, sekaligus gereja pertama tempat anak-anak dibina sehingga memiliki spiritualitas yang tangguh. Keluarga harus ditata dan dikelola dengan baik, dengan komunikasi yang terbuka, sehingga hubungan keluarga tetap hangat. Dengan demikian, keluarga bisa menjadi keluarga yang kuat dalam menghadapi arus zaman. Singkatnya, walaupun di luar sana ada banyak tantangan, jika dalam keluarga ada kehangatan, maka keluarga yang kembali ke rumah akan tetap kuat, karena di sana dia diterima, dirangkuh dan dipeluk. (hks/bgs)

Penulis: Pdt. Jhon Marthin Elizon Damanik, M.Th

Daftar Acuan

Bastian, Khansa Kurnia, Jilan Aqila, and Muh. Anwar Fuady. 2026. “Resiliensi Keluarga Indonesia Di Era Disrupsi Digital: Scoping Review Dan Implikasi Kebijakan Publik.” Sinopsi 3 (1): 43–46.

Fajrianti, Aura Putri, Desy Saputri, and Sujarwo. 2024. Fenomena Fatherless Di Indonesia. 7 (1): 189–94.

Thompson, Marjorie L. 2001. Keluarga Sebagai Pusat Pembentukan. BPK-GM.

Post Views: 402

Continue Reading

Previous: Ibadah Harian Keluarga GKPS, Jumat 27 Maret 2026
Next: Sidang GKPS Resort Baringin Raya: Ephorus Menekankan Gereja Sebagai Komunitas Hidup Yang Memiliki Panggilan Nyata di Tengah Dunia

Related News

IHK_20260402_193628_0000
  • ARTIKEL

Ibadah Harian Keluarga GKPS, Jumat 03 April 2026

dep. persekutuan 2 April 2026
keluarga-kudus-420x280
  • ARTIKEL
  • DEPARTEMEN KESAKSIAN
  • Rubrik Pastoral

Keluarga, Jalan Kekudusan Dan Budaya Simalungun

Admin 4 Maret 2026
Rubrik Pastoral Departemen Kesaksian GKPS
  • ARTIKEL
  • DEPARTEMEN KESAKSIAN

Keluarga? Sekolah Pertama Cinta dan Iman

Admin 27 Januari 2026

ARSIP BERITA

KATEGORI

  • AMBILAN (9)
  • ARTIKEL (216)
  • Bahan PA (268)
  • BERITA (309)
  • BERITA PEMUDA (7)
  • BIDANG OIKOUMENE (4)
  • BIRO ADMINISTRASI (62)
  • BIRO KEUANGAN (5)
  • BIRO PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (15)
  • BIRO USAHA (4)
  • DEPARTEMEN KESAKSIAN (37)
  • DEPARTEMEN PELAYANAN (70)
  • DEPARTEMEN PEMBINAAN (44)
  • DEPARTEMEN PERSEKUTUAN (39)
  • DISTRIK II (1)
  • DISTRIK III (5)
  • DISTRIK IV (2)
  • DISTRIK IX (3)
  • DISTRIK V (3)
  • DISTRIK VII (2)
  • DISTRIK X (2)
  • DISTRIK XI (6)
  • DOWNLOAD TATA IBADAH (11)
  • GKPS DISTRIK I (3)
  • GKPS DISTRIK II (5)
  • GKPS DISTRIK VIII (5)
  • GKPS DISTRIK XII (1)
  • KEUANGAN (3)
  • NEW (1)
  • OIKOUMENE (3)
  • PANITIA SSB GKPS KE-46 (2)
  • PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (LITBANG) (2)
  • PESAN PASTORAL PIMPINAN SINODE GKPS (2)
  • PIMPINAN SINODE GKPS (36)
  • PPLMG (1)
  • RBM GKPS YAYASAN IDOP NI UHUR (2)
  • Rubrik Pastoral (2)
  • SEKSI NAMAPOSO (7)
  • SEKSI SEKOLAH MINGGU (20)
  • SIBASAON (42)
  • TATA IBADAH (1,789)
  • TONAH PIMPINAN SINODE (23)
  • TUGAH-TUGAH (69)
  • VIDEO (1)
  • YAYASAN BKM GKPS (2)
  • YAYASAN IDOP NI UHUR (2)
  • YAYASAN KESEHATAN GKPS (1)
  • YAYASAN PENDIDIKAN GKPS (9)

Tentang

  • KANTOR SINODE GKPS
  • Jl. Pdt. J. Wismar Saragih No. 23 Pematang Siantar - 21142 . Kel. Bane Kec. Siantar Utara - Sumatera Utara - INDONESIA
  • (0622)23676
  • gkps@gkps.or.id
Copyright © GKPS | MoreNews by AF themes.