Litbang GKPS kembali mengelar kegiatan GKPS Marguru Tahap III. Di sesi ke VII yang berlangsung pada Senin (1/6/2026) malam, peserta dibekali dengan topik “Spiritualitas Keluarga: Peran Orang Tua Dalam Menumbuhkan Spiritualitas Anak”. (Foto: Pdt. Fran Purba)
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID. Litbang GKPS kembali mengelar kegiatan GKPS Marguru Tahap III. Di sesi ke VII ini peserta dibekali dengan topik “Spiritualitas Keluarga: Peran Orang Tua Dalam Menumbuhkan Spiritualitas Anak”, yang disampaikan Pdt. Stefanus CH. Haryono, MACF., Ph.D, Dosen Teologi di UKDW Yogyakarta.

Melalui topik ini diharapkan dapat mengupas persoalan keluarga dan menguatkan peran dari orang tua ditiap-tiap keluarga sehubungan dengan program GKPS yang sedang digalakkan Yakini Parjumatanganan, sebuah pemuridan yang berfokus pada persekutuan keluarga.
Pada Senin (1/6/2026) malam itu, Stefanus beliau memulai dengan kutipan dari John Powell bahwa kegagalan atau keberhasilan hidup manusia ditentukan apakah seseorang menemukan cinta atau tidak dalam perjalanan hidupnya. Hal ini mau menggambarkan bahwa perlu sebuah cinta yang tumbuh di tengah-tengah keluarga, dan ini akan berdampak besar ke depannya.
Keluarga memiliki beberapa arti, dan menurut Stefanus keluarga merupakan komunitas yang tetap ada dari dulu meskipun zaman terus mengalami perubahan, meskipun adat terus berkembang, namun keluarga tetap ada di dalamnya.

Masih menurutnya, keluarga juga adalah scholl of love dimana seseorang secara terus menerus belajar, setiap orang datang dari berbagai latar belakang dan nilainya masing-masing. Segala latar belakang ini bisa memberikan dua opsi, yaitu kehadirannya di tengah keluarga baru memberikan luka-luka baru atau sebagai penyembuh. Maka, setiap orang perlu belajar secara terus menerus karena keluarga adalah proses, perjalanan seumur hidup untuk terus belajar.
Terkait dengan spiritualitas keluarga, Kepala Pusat Studi Spiritualitas dan Pengembangan Spiritual di UKDW ini menjelaskan bahwa spiritualitas keluarga berpijak kepada janji pernikahan, sebuah janji yang harus dihidupi dalam perjalannya. Spiritualitas keluarga juga bukan hanya berbicara mengenai Tuhan tetapi juga soal transformasi diri, dimana ini menjadi poros dalam pertumbuhan spiritualitas tersebut.
Berkaitan dengan hal di atas, menurut Stefanus pertumbuhan spiritualitas anak-anak di dalam keluarga, orang tua perlu memahami bahwa anak-anak tumbuh di generasi yang berbeda, dan pemahaman ini akan membuat orang tua mau untuk belajar mengenai persoalan dan konteks dari generasi tersebut, bahkan dalam hal cara mereka mengenal Yesus pun berbeda.
Dalam hal ini Stefanus menyarankan perlunya rekonstruksi dan dekonstruksi pola asuh yaitu kesehatan mental dan kesejahteraan emosional, fatherless case. Selain itu membantu anak-anak mengembangkan kecerdasan digital yang sehat dan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi di internet, menyeimbangkan prestasi dengan kesehatan emosional, cute case, serta menjaga kedekatan keluarga di tengah kesibukan.
Dalam sesi diskusi yang berjalan dengan baik dan hangat. Beberapa peserta bertanya mengenai anak yang dibesarkan tanpa orang tua, juga mengenai orang tua yang sibuk tapi perlu terus dan ingin menumbuhkan spiritualitas anak-anaknya serta bagaimana memulihkan keluarga yang “kurang sehat” dan bagaimana peran gereja.

Pdt. Stefanus menekankan bahwa keluarga akan bertumbuh kalau ada cinta dengan kehadiran orang tua, kehadiran ditengah kesibukan, yang menyentuh hingga sisi emosional dari anak-anak tersebut. Hal lain menekankan perlu sebuah ibadah keluarga tetapi tidak yang bertele-tele karena Generasi Alpha adalah generasi yang to the point dan tidak suka bertele-tele. Oleh karena itu ibadah perlu cair tetapi tidak menghilangkan esensi dari ibadah tersebut.
Kelas Marguru pada Senin malam itu berjalan dengan baik dan hangat dengan berbagai pertanyaan, tanggapan dari peserta baik secara langsung (raise hand) maupun melalui kolom chat hingga tanpa terasa waktu melebihi dari pukul 21.30 wib. Peserta yang mendapatkan doorprize buku kegiatan kali ini adalah St. H. S. J. Damanik. (hks/bgs)
Pewarta: Pdt. Fran Wilson Purba