Pimpinan Sinode (Ephorus) GKPS Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc, menandatangani batu prasasti peresmian gedung gereja GKPS Getsemane Merek, Resort Sipituhuta I, pada Minggu, 10 Mei 2026. (Foto: Rinaldi Edwart Purba)
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID. Pesta Pamongkotan dan Patibal Batu Onjolan GKPS Getsemane Merek, Resort Sipituhuta I, digelar pada Minggu, 10 Mei 2026, yang dihadiri kurang lebih 500 orang. Pimpinan Sinode (Ephorus) GKPS Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc beserta istri L. br. Sinaga turut hadir dalam pesta tersebut.
Rangkaian acara diawali dengan pemotongan pita selanjutnya pembukaan pintu gereja sebagai penanda GKPS Getsemane Merek sedang memulai awal baru di tengah-tengah pelayanannya.
“Dengan dibukanya pintu gereja, ini menjadi tanda bahwa gereja GKPS Getsemane Merek hadir sebagai tempat persekutuan, kasih, pengharapan, dan keselamatan bagi jemaat Tuhan, sekaligus menggambarkan bahwa Tuhan membuka jalan, membuka berkat, dan membuka kesempatan pelayanan yang baru bagi umat-Nya,” seru Pdt. John Christian sesaat setelah membuka pintu.
Selanjutnya Ephorus bersama dengan Praeses GKPS Distrik XI Pdt. Sanpendawati Purba, Pendeta Resort Sipituhuta I Pdt. Friska Manullang serta St. Lazuardi Pelawi (Pengantar Jemaat) menandatangani batu prasasti peresmian GKPS Getsemane Merek, yang dilanjutkan dengan penyerahan surat tanah gereja dari Panitia Pembangunan dan Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Getsemane Merek kepada Ephorus.

Setelah penyerahan acara dilanjut dengan ibadah bersama. Ephorus memimpin pelayanan ibadah bersama dengan Pdt. Sanpendawati Purba, Pdt. Mannes Purba, M.Th,LM (Kepala Departemen Persekutuan), Pdt. Rim Glory Saragih, M.Fil (Kepala Bidang Oikoumene), Pdt. Juna Daniel Saragih (Kepala Bagian Perencanaan), Pendeta Resort Sipituhuta I Pdt. Friska Manullang, dan Pendeta di Distrik XI yang hadir.

Mengutip nas dari Kolose 1:9-14, Pdt. John Christian dalam khotbahnya menerangkan bahwa kehidupan orang yang percaya bukan hanya tentang mengetahui Tuhan, tetapi juga menghasilkan buah dalam perbuatan baik, memiliki kekuatan dalam menghadapi tantangan, dan hidup dalam ucapan syukur. Ini yang disebut Ephorus sebagai identitas orang percaya.

“Identitas orang kudus bukan berarti orang yang sempurna tanpa dosa, tetapi orang-orang yang telah dipanggil, dikuduskan, dan dipisahkan oleh Tuhan untuk hidup bagi-Nya. Identitas orang kudus terlihat melalui kehidupan yang berubah dan berpusat kepada Kristus. Identitas orang kudus adalah
milik Tuhan, hidup bagi Tuhan, dan memancarkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” terang Ephorus.
Terkait dengan pesta pamongkotan dan patibal batu onjolan, Ephorus mengajak jemaat untuk memaknai pembangunan gereja bukan semata membangun fisik, melainkan pertumbuhan gereja untuk menjadi berkat.
“Pembangunan gereja bukan sekadar mendirikan bangunan fisik, melainkan menjadi lambang pertumbuhan iman, persatuan, dan semangat pelayanan jemaat kepada Tuhan. Gereja diharapkan menjadi tempat umat mengalami kasih, pengharapan, dan keselamatan di dalam Kristus. Pesta Pamongkotan dan Patibal Batu Onjolan pada hari ini menjadi momentum bersejarah untuk kita terus memperbarui komitmen iman seluruh jemaat untuk semakin setia melayani, hidup dalam kasih persaudaraan, serta menjadi gereja yang bertumbuh, peduli, dan membawa berkat bagi sesama,” tutup Ephorus. (hks/bgs)
Pewarta: Rinaldi Edwart Purba