Pdt. Dr. Junifrius Gultom sedang menerangkan topik: Hospitalitas Yang Melampaui Perbedaan: Dari Keterasingan menjadi kehangatan emosional bagi Semua, di sesi V GKPS Marguru Tahap III. (Gambar: Litbang GKPS)
PEMATANGSIANTAR.GKPS.OR.ID. Litbang GKPS sukses menggelar GKPS Marguru Tahap III Sesi V, yang digelar pada Senin (27/4/2026) malam melalui platform zoom meeting. Sebanyak 60 peserta cukup antusias mendengar pemaparan Pdt. Dr. Junifrius Gultom tentang Hospitalitas Yang Melampaui Perbedaan: Dari Keterasingan menjadi kehangatan emosional bagi Semua”.
Topik ini diangkat mengingat ada kepelbagaian di dalam tubuh gereja, yang sengaja atau tidak justru dapat memicu keterasingan.
Pdt. Junifrius memulai dengan menjelaskan bahwa Hospitalitas berbeda dengan toleransi. Jika toleransi adalah keramahtamahan dengan sikap “aku tidak mengganggu mu”, maka hospitalitas adalah “kebajikan moral yang menggambarkan sikap menerima orang lain yang berbeda tanpa memaksa mereka menyerupai diri kita”.

Menurut Pendeta GBI Petamburan ini, di era postmodern identitas tetap menjadi hal yang patut dipertahankan walaupun terbuka menerima sang lian (orang asing/yang berbeda). Dengan demikian, gereja kiranya memiliki struktur relasi yang terbuka dan tidak mengaleniasi orang asing.
Lebih lanjut, dosen STT Bethel Indonesia ini menjelaskan 4 titik juang hospitalitas di dalam identitas gereja. Pertama, Gereja tidak pernah tanpa luka dalam perjalanan sejarahnya, namun demikian hospitalitas menolak menjadikan luka sebagai alasan menutup pintu erat-erat. Kedua, hospitalitas itu digerakkan secara pneumatologis. Roh Kudus adalah pribadi Allah yang menggerakkan gereja mampu menerima orang lain. Roh Kudus adalah “agen hospitable” yang membangun hubungan terbuka di antara budaya dan agama, ramah di rumah sendiri dan menjadi tamu di rumah budaya dan agama lain serentak menerima pembelajaran mereka. Ketiga, hospitalitas bukanlah penerimaan tanpa batas melainkan penerimaan yang diinisiasi oleh Rahmat Allah. Keempat, hospitalitas menegaskan bahwa insan kristen adalah tuan rumah dan pemilik penginapan.
Dalam sesi diskusi yang dimoderatori Pdt. Dian Putra Sumbayak, para parguru memberi tanggapan tentang pentingnya hospitalitas mengingat pengalaman-pengalaman dalam kehidupan bergereja selama ini. Problem di beberapa pengalaman bahwa ada kelompok tertentu di dalam gereja yang menganggap dirinya sebagai pemilik gereja dan yang lain adalah pendatang.
Menanggapi para parguru, Pdt. Junifrius Gultom menekankan problem demikian tidak hanya milik GKPS, di tengah gereja-gereja aliran pentakostal juga ada problem demikian. Maka pelayanan itu harus mengaktivasi peran warga jemaat. Hospitalitas itu harus diprakteknya.
Menyimpulkan sesi ini, Pdt. Dian Putra mengatakan pendekatan budaya yang menjadi identitas GKPS menjadi entri yang baik untuk mengembangkan teologi dan praktik hospitalitas. Budaya atau maradat menurut pancacita Pdt. Jaulung Wismar Saragih merupakan hal kedua setelah marTuhan sebagai penanda identitas GKPS.
Selanjutnya Pdt. Dian setuju bahwa peran pelayanan itu harus dibagi merata kepada seluruh Majelis Jemaat, karena gereja (baca: GKPS) tidak sedang melanggengkan pendeta sentris atau Pimpinan Majelis Jemaat sentris tapi Sintua-Syamas sentris.
Diakhir acara, seperti biasa Litbang menggelar doorprize yang dimenangkan oleh St. Darma Sinaga. (hks/bgs)
Pewarta: Pdt. Dian Putra Sumbayak