Pimpinan Sinode GKPS (Ephorus) Pdt. John Christian Saragih menyambut baik kunjungan Pengurus Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PSKPP) Universitas HKBP Nommensen (UHN) Pematangsiantar, pada Senin (23/2/2026), di ruang rapat kantor sinode GKPS, Jl. Pdt. J. Wismar Saragih 23, Pematangsiantar. (Foto: Pdt. Fran Purba)
PEMATANGSIANTAR. GKPS.OR.ID. Mengutip informasi yang disampaikan World Health Organization (WHO) pada 15 Juli 2025 di portal https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids, HIV tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang besar, dengan perkiraan telah merenggut 44,1 juta nyawa hingga saat ini. Penularan terus terjadi di semua negara di dunia.
Masih menurut WHO, diperkirakan ada 40,8 juta orang yang hidup dengan HIV pada akhir tahun 2024, 65% di antaranya berada di Wilayah Afrika. Sementara itu pada tahun 2024, diperkirakan 630.000 orang meninggal karena penyebab terkait HIV dan diperkirakan 1,3 juta orang tertular HIV.
WHO menyebut, tidak ada obat untuk infeksi HIV. Namun, dengan akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan perawatan HIV yang efektif, termasuk untuk infeksi oportunistik, infeksi HIV telah menjadi kondisi kesehatan kronis yang dapat dikelola, memungkinkan orang yang hidup dengan HIV untuk menjalani hidup yang panjang dan sehat.
Pada tahun 2025, di Pematangsiantar dan Simalungun disebutkan rata-rata setiap bulannya ada 8 sampai 10 orang yang terjangkit HIV/AIDS, dan diantaranya adalah anak-anak muda. Data ini disampaikan Pengurus Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PSKPP) Universitas HKBP Nommensen (UHN) Pematangsiantar, kala bertemu dengan Pimpinan Sinode (Ephorus) Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc pada Senin (23/2/2026) siang, di ruang rapat kantor sinode GKPS.

Ketua PSKPP UHN Pematangsiantar Rindu Erwin Marpaung menyebutkan, informasi tersebut menjadi keprihatinan bersama khususnya perguruan tinggi dan gereja, sehingga mendorong ia dan rekan-rekannya untuk mengedukasi masyarakat.
Masih menurut Rindu Marpaung, UHN Pematangsiantar juga memiliki organisasi/pusat studi bernama HKBP AIDS Ministry. Mereka pun sudah membuat proposal untuk diajukan ke United Evangelical Mission (UEM).
Rindu Marpaung pada kesempatan pertemuan ini mengajak GKPS untuk berkolaborasi dengan PSKPP UHN Pematangsiantar dalam penanganan HIV/AIDS di Pematangsiantar dan Simalungun, mengingat GKPS sebagai salah satu sinode gereja yang wilayah pelayanannya mencakup kedua wilayah tersebut.
Ephorus Pdt. John Christian Saragih, S.Th, M.Sc yang didampingi Praeses Distrik III Pdt. Erwin Saragih, M.Th dan Pdt. Fran Purba, S.Si., Teol, menyambut baik ajakan tersebut, mengingat pada tahun 2000-an salah satu konsentrasi pelayanan GKPS adalah penanganan HIV/AIDS.

“Pada tahun 2000-an GKPS menaruh perhatian khusus pada pelayanan penanganan HIV/AIDS. GKPS tidak sendiri dalam melakukan pelayanan tersebut. Melalui Women Crisis Center (WCC) Sopou Damei, GKPS membangun kerjasama dengan UEM, Dinas Kesehatan Pematangsiantar dan Simalungun. Namun dalam perjalanan pelayanan tersebut vakum,” terang Pdt. John Christian Saragih.
Ditambahkan Ephorus, ajakan untuk berkolaborasi dari PSKPP UHN Pematangsiantar menjadi pematik semangat pelayanan penanganan HIV/AIDS. Ephorus berharap ada tindaklanjut dari pertemuan pertama ini, dengan mempercakapkan hal teknis terkait kerjasama yang akan dibangun, sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang baik.
Diakhir pertemuan, Ephorus menyampaikan akan menugaskan Departemen Pelayanan menindaklanjuti pertemuan tersebut, termasuk merumuskan secara bersama Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) antara GKPS dan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar dalam pelayanan penanganan HIV/AIDS. (hks/bgs)
Pewarta: Pdt. Fran Purba (Pendeta di Litbang)