
BAHAN PA REMAJA
Minggu 12 Set. Trinitatis, 23 Agustus 2026
Nats : Kejadian 22: 1-19
Tema : Ayah Yang Beriman
Iman Yang Berani
Dalam Kejadian pasal 22 ini kita dapat melihat bagaimana Allah menguji iman Abraham. Pengujian iman yang Allah berikan kepada Abraham bukanlah ujian yang biasa sebab Abraham harus mempersembahkan Ishak sebagai Korban bakaran di gunung yang ditunjukkan oleh Allah sendiri kepada Abraham. Korban merupakan suatu persembahan kepada Allah, sebagai ganti manusia yang berdosa. Seorang Teolog yang bernama Walter Lempp mengatakan bahwa perintah Allah kepada Abraham merupakan perintah yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang ayah kepada Anaknya. Ishak merupakan anak tunggal Abraham dan Sara dan ia adalah anak tunggal yang akan membawa perjanjian. Dari segi perjanjian, tentu saja Abraham bingung ketika ia menerima perintah itu dari Allah. Mengapa Allah menjanjikan Ishak kepada Abraham dalam Kejadian 21:12 yang kemudian diminta kembali oleh Allah dengan cara dipersembahkan, ini merupakan ujian yang tidak mudah bagi Abraham. Dalam ujian ini Abraham akan menunjukkan dua sisi yaitu apakah ia lebih mengasihi Ishak atau lebih mengasihi Allah. Allah memberikan janji kepada Abraham bahwa keturunannya akan sangat banyak seperti bintang dilangit (Kej. 15:5) dan Ishak adalah buah perjanjian itu namun Allah meminta hal itu kembali, hal ini tampak seperti janji yang Allah berikan dan perintahnya tidak tetap. Namun nats alkitab ini memberikan jawaban iman yang berani bagi kita, Abraham adalah ‘Ayah yang beriman’.
2. Isi Tulisan
Teks ini menceritakan ujian ekstrem, namun juga menunjukkan kesetiaan iman yang begitu besar bagi Abraham dan Ishak. Tuhan memerintahkan Abraham untuk mengorbankan putra perjanjian-Nya. Kata ” mencobai” dalam ayat 1 adalah terjemahan dari kata Ibrani nissah, yang berarti “menguji; membuktikan; atau menempatkan dalam pengadilan.” Ini tidak berarti membujuk untuk berbuat jahat. Peristiwa ini terjadi di Gunung Moria, ini adalah penyebutan pertama Gunung Moria dalam Alkitab. Gunung ini bukanlah puncak tunggal, melainkan deretan pegunungan memanjang yang terletak di daerah yang suatu hari akan menjadi Yerusalem, sekitar empat puluh dua mil dari Beersheba tempat Abraham tinggal. Gunung Moria adalah lokasi tempat pengirikan Ornan orang Yebus yang dibeli Daud, dan di sanalah Salomo kemudian membangun Bait Suci (2 Tawarikh 3:1). Para cendekiawan sepakat mengakui betapa memilukan peristiwa ini bagi Abraham. Ibrani 11:19 memberikan wawasan bahwa ia percaya Allah dapat membangkitkan Ishak dari kematian, tetapi iman tidak akan menutupi rasa sakitnya. Selain beban emosional, akan ada juga pergumulan moral dan intelektual. Mengorbankan putranya akan menjadi kesaksian yang buruk bagi komunitas pagan di sekitarnya, bertentangan dengan janji-janji Allah, dan akan menjadi pukulan telak bagi Sarah, yang telah lama menantikan putra ini.
Permintaan Allah kepada Abraham dalam teks ini adalah perintah yang mendadak, tidak ada dalam teks yang memberitahukan sebelumnya kepada Abraham maupun kepada Sarah tentang permintaan ini. Seluruh permintaan ini terdiri dari tiga bagian imperatif sederhana yaitu “Ambil, pergi dan mengorbankan”. Dalam teks ini tidak dituliskan dengan jelas serta digambarkan bagaimana sifat pikiran batin yang dialami Abraham. Tidak ada yang bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh Abraham. Permintaan Allah ini kepada Abraham merupakan permintaan yang terakhir sekaligus permintaan yang paling besar. Perintah yang diterima oleh Abraham adalah perintah yang nyata. Ini adalah hal yang menakutkan secara emosional dan teologis, karena dalam Ishaklah semua janji berkat akan digenapi. Abraham berada diantara dua pilihan yang sulit cinta untuk anaknya dan ketaatannya kepada Allah. Permintaan Allah kepada Abraham menggambarkan seakan-akan bahwa Allah tidak setia kepada janji-Nya sendiri dan malah mengingkari janji-Nya sendiri, permintaan Allah seolah-olah menggambarkan Allah sebagai Allah yang tidak setia pada kasihNya, permintaan Allah tidak menggambarkan Allah yang murah hati tetapi menuntut hal yang tidak mungkin. Ketika Allah memanggil Abraham ada beberapa janji yang Allah berikan kepada Abraham yaitu: pertama, janji tentang benih yaitu Allah akan membuat Abraham menjadi suatu bangsa yang besar (Kej. 12:2; 13:16; 28:3, 14). Kedua, janji tentang tanah merupakan janji yang sering diberikan kepada Abraham yang disebut kira-kira dua belas kali didalam Kitab Kejadian, salah satu contohnya dalam Kejadian 17:8. Ketiga, janji tentang berkat pribadi (Kej. 12:2b; 15:1; 17:7; 22:17). Keempat, janji tentang berkat bagi bangsa-bangsa yaitu keturunannya akan menjadi saluran berkat bagi banyak bangsa (Kej. 12:2-3; 18:18; 22:18). Janji Allah kepada Abraham bahwa keturunannya akan sangat banyak (Kej. 15:5b; 17:6; 13:16) dan Ishak adalah ahli waris dari janji-janji Allah. Ishaklah yang akan membawa berkat bagi dunia karena yang akan disebut keturunan Abraham adalah keturunan yang berasal dari Ishak (Kej. 21:12).
Melalui nats ini, kita dapat melihat perjalananan iman Abraham dimulai dengan langkah pertama ketika ia bersiap menuju Moria. Allah tidak menyuruhnya untuk segera mempersembahkan Ishak. Pertama-tama Allah menyuruhnya melakukan hal yang sederhana: menyiapkan barang-barang, termasuk membawa Ishak dan meninggalkan rumahnya. (ayat 2-3) Kita harus meneladani Abraham untuk berani mengambil langkah pertama. Jika kita menemukan bahwa beriman dan taat itu sulit maka minta pertolongan Tuhan untuk berani mengambil dan melakukan langkah pertama. Percayalah, selanjutnya Allah akan memimpin langkah berikutnya. Dalam perikop ini, ayat yang ke 13-14, kita lihat bagaimana pada akhirnya Allah benar-benar menyediakan Abraham domba jantan untuk dijadikan korban bakaran, pengganti anaknya. Dan untuk mengenang peristiwa atau pengalaman iman ini maka Abraham menamakan tempat itu “Tuhan menyediakan” (ayat 14). Abraham membuktikan iman yang berani dan aktif, tidak pasif. Ketika kita beriman, tidak berarti kita diam saja dan hanya menunggu sampai segala sesuatu terjadi. Dalam beriman, kita juga harus berusaha melakukan sebaik mungkin bagian kita. Kita harus berani melangkah. Seperti Abraham, tidak diam tetapi melakukan apa yang seharusnya menjadi bagiannya. Ia mempersiapkan segala sesuatu untuk memberi persembahan korban kepada Tuhan. Ia mengambil apa yang menjadi tanggung jawabnya, yakni apa yang dapat ia lakukan lalu menyerahkan sisanya kepada Tuhan.
Iman Abraham diuji agar Abraham benar-benar dipersiapkan Allah untuk menjadi Bapa dari segala bangsa – Bapa orang percaya. Dalam peristiwa pengorbanan Ishak ini, sebenarnya yang paling diinginkan oleh Allah bukanlah Ishak, melainkan yang diinginkan Allah adalah Abraham sendiri. Allah ingin agar tidak ada sesuatu pun yang menghalangi Dia dengan Abraham termasuk kehadiran Ishak. Allah melihat bahwa Abraham tetap setia, sekalipun Allah telah menepati janjiNya melalui Ishak, Abraham tahu bahwa hal itupun bersumber dari Allah juga. Sehingga melalui peristiwa ini, Allah berjanji akan memberkati Abraham berlimpah-limpah dan membuat keturunnya seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut serta oleh keturunannya lah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.