
BAHAN PA Namaposo GKPS
Tanggal : 17 Mei 2026 (Exaudi)
Nas : Markus 12:28-34
Tema : Mewujudkan Kerajaan Allah dalam kasih
Tujuan : Agar Namaposo memahami praktik iman yang benar melalui kasih kepada Tuhan dan sesame
Apa sebenarnya “ingin”- nya Tuhan bagi manusia? Ada banyak jawaban, yang pastinya akan kita lontarkan. Beberapa menjawab sama persis apa yang ada di Alkitab. Tapi, agaknya banyak juga keinginan Tuhan (beberapa menganggap demikian). Sering sekali kita salah mengartikan apa yang Tuhan kehendaki bagi kita. Ada yang tersesat dalam pemahaman bahwa Tuhan menuntut banyak hal, yang seolah-olah manusia harus mampu melakukan segala sesuatu. Tuhan minta hidup kita agar kudus di hadapanNya, takut akan Dia, mencari kerajaan Allah, meminta untuk menguduskan hari sabatNya, mengampuni, mengasihi, berpengharapan, rendah hati, melawan kuasa iblis, menjadi orang yang bijak dan berhikmat, orang yang sabar, orang yang tekun berdoa dan masih banyak lagi. Ketersesatan dalam memahami kehendak Tuhan ini, akan berujung pada penyimpulan bahwa “Tuhan terlalu banyak menuntut!”. Tapi, ada satu cara sederhana, yang menurut penulis ini adalah benang merah. Cara ini memudahkan kita untuk memahami siapa Allah dan bagaimana sebenarnya sifat-Nya? Dari sini kita akan paham, sebenarnya apa yang Tuhan inginkan?
Jika kita melihat judul perikop dari nas ini disebutkan “Hukum yang terutama”. Menandakan bahwa ada hukum di bawah yang terutama ini. Seperti yang kita tahu, orang Israel dalam Perjanjian Lama memang hidup dengan banyaknya aturan yang ketat. Sebenarnya hal ini diberlakukan agar setiap orang bisa hidup dengan baik di hadapan Allah dan di hadapan sesamanya manusia. Aturan diberlakukan bukan sebagai pengekangan, namun sebagai norma yang berlaku untuk menciptakan damai. Namun dalam praktiknya, setiap aturan dijadikan sebagai dewa untuk menjatuhkan seseorang, dan natur manusia sebagai manusia yang memiliki hati nurani itu lambat laun menjadi hilang. Lantas, Ketika Tuhan Yesus ditemui oleh salah seorang Ahli Taurat (28) untuk bertanya sebuah pertanyaan – yang pada dasarnya dia sendiri tahu – untuk bertanya Hukum manakah yang paling utama?
Tanpa banyak basa-basi, Tuhan Yesus menjawab “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini”. Perhatikan awalnya Tuhan menegaskan, bahwa ini adalah hukum utama, namun nyatanya ada 2 jenis bentuk hukum itu. Pertama adalah mengasihi Allah, yang kedua adalah mengasihi sesama manusia.
Dengan banyaknya aturan yang berlaku, yang saat itu mereka sudah hafal mati dan diajarkan sedari dini (umur 7 tahun) maka menghafal segala aturan ini adalah kewajiban bagi mereka. Adalah hal yang mudah untuk menghafalkannya, namun merealisasikannya yang rumit. Bahkan, kalau misalnya hal ini diberlakukan bagi kita Namaposo saat ini, apakah kita sanggup menghafal, memahami dan melakukannya dalam hidup kita – dengan aturan yang demikian banyaknya (613 perintah kewajiban bagi Yahudi) ? pasti kita kesulitan. Maka Tuhan Yesus memberikan cara untuk merangkum semua aturan yang rumit untuk dihafal dan dipahami itu. Ia rangkum dalam hukum utama, yang ada 2 bentuknya itu, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Segala aturan yang berlaku sebenarnya dikepalai oleh aturan ini. Segala perintah yang ada di dalam Alkitab adalah turunan dari hukum yang terutama ini.
Jika kita mengasihi Allah, maka kita akan mencari dahulu kerajaan Allah. Jika kita mengasihi Allah, maka kita akan menguduskan hari sabatNya, kita akan mampu berdoa tekun, kita akan mampu hidup kudus, kita mampu mengampuni, kita mampu bersabar. Banyak hal baik yang dapat kita lakukan kalau kita memang mengasihi Allah. Maka, segala hal baik sebenarnya dikepalai oleh hukum ini: mengasihi Allah. Namun perhatikan kembali, ketika Tuhan Yesus menegaskannya. Berulang kali Ia mengulang kata yang sama, yaitu SEGENAP. Artinya utuh, total, dan menyeluruh. Ada beberapa hal yang utuh yang kita butuhkan untuk mengasihi Allah: HATI, JIWA, AKAL BUDI, KEKUATAN. Segenap, berarti tidak setengah. Segenap, berarti bukan sisa. Segenap berarti seluruh, tak ada yang tersisa.
Pun jua, jika kita mengasihi manusia seperti diri sendiri, maka kita tidak akan pernah melakukan hal yang menyakitkan kepada orang lain. Jika kita mengasihi manusia sama seperti diri kita sendiri, maka tidak aka nada kalimat jahat menyakiti sesame. Jika kita mengasihi manusia lain sama seperti diri kita sendiri, maka rasanya tidak ada dendam – cemburu – atau hal lainnya yang Allah tidak sukai. Bukankah kamu berusaha supaya dirimu tetap sehat, tetap baik, dan tetap cukup, juga sehat setiap harinya? Maka jika demikian, tentu kamu pun akan mampu mengasihi orang lain, kalau kita anggap mereka seperti diri kita. Maka standarisasi mengasihi sesama manusia bukan lagi karena ‘aku tidak bisa, aku lemah, atau aku terluka’. Standard yang tepat adalah karena mereka adalah seperti diriku sendiri. Kalau aku di posisi dia, apakah aku ingin diperlakukan seperti ini?
Maka, hukum atau aturan dan ayat Alkitab yang mungkin rumit bagi kita untuk kita pahami ini, kita bisa kembali datang ke ayat ini. Mengasihi Allah dan mengasihi manusia seperti diri sendiri. Pengetahuan kita bisa saja lemah untuk memahami, namun Tuhan sudah berikan benang merah dengan Bahasa yang sederhana untuk dimengerti itu. Perlu kita tahu, kedua hukum ini adalah hukum yang mengepalai segala aturan. Bahkan kedua hukum ini, mengepalai semua korban atau persembahan sebesar apa pun.