
Renungan Namaposo GKPS
Minggu ke-VIII Setelah Trinitatis, 26 Juli 2026
Nats : Lukas 12: 13-21
Tema : Kefanaan Hidup
Tujuan : Agar namaposo mengingat bahwa hidup ini singkat dan tidak pasti, sehingga penting untuk tidak menunda dalam mempersiapkan diri untuk kekekalan dengan menjadi “Kaya di hadapan Allah”
Hidup adalah Kesempatan
“Hidup adalah anugerah” adalah kalimat yang sering diungkapkan atau sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesadaran bahwa hidup itu adalah anugerah adalah hal yang paling berharga bagi orang yang percaya. Karena kesadaran tersebut membawa diri kepada cara pandang yang berbeda melihat kehidupannya. Orang yang menyadari bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan akan cenderung memiliki rasa syukur yang penuh dibandingkan dengan orang yang memahami bahwa hidupnya atas kekuatan dan kendalinya.
Masa muda adalah juga anugerah karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjalani dan menikmati masa muda. Sejatinya masa muda adalah masa-masa banyak hal yang bisa dicoba dan dicapai. Karena usia masih muda, energi dan semangat masih membara, sehingga masa ini juga sering dijalani sebagai masa mencari identitas dan mencari aktualisasi diri. Salah satunya adalah di masa ini para pemuda/i sering berusaha, bekerja dan menabung untuk mendapatkan uang sebagai bukti pencapaian dan kesuksesan. Tentu hal itu baik tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan oleh para pemuda/i. Dan lewat renungan kotbah lukas 12:13-21 ini akan membantu kita untuk lebih berhikmat dan bijaksana dalam upaya perjuangan meraih pencapaian hidup.
Di dalam Lukas 12:13-21 terjadi dialog antara Tuhan Yesus dengan salah satu orang yang mengarkan Yesus ketika memberikan pengajaran kepada orang-orang banyak pada waktu itu. Dan dia menyempaikan permintaannya, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tentu setiap orang akan mengharapkan supaya Yesus melakukan permintaan tersebut. Tetapi sebaliknya Yesus memberikan jawaban dalam lukas 12:14, “Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu” artinya Allah tidak bertindak sebagai hakim yang langsung memberikan hukuman siapa yang salah dan benar saat Dia berada diantara mereka, tetapi Tuhan Yesus memberikan pemahaman dan pertimbangan-pertimbangan moral yang menjadi panduan bagi mereka di dalam mengambil sebuah tindakan. Yesus memberikan pengajaran lewat sebuah perumpamaan orang kaya yang bodoh. “Ada seorang kaya tanahnya berlimpah-limpah, Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”. Tetapi kemudian Tuhan Yesus mengatakan bahwa dia bodoh karena dia tidak akan memiliki satu hal pun saat Tuhan mengambil jiwanya. Dan tidak tau untuk siapakah yang dia kumpulkan tersebut. Hal ini adalah sebuah perenungan yang mendalam bagi kita semua bahwa dalam mencari dan mengumpulkan harta hendaknya jangan seperti orang bodoh tersebut. Pria dalam cerita ini disebut “bodoh” bukan karena dia malas atau jahat kepada sesama, melainkan karena hal-hal berikut:
Secara singkat, perumpamaan ini tidak melarang kita menjadi kaya atau merencanakan masa depan. Yesus sedang memperingatkan agar jangan sampai harta memiliki hati kita, karena nilai hidup kita yang sesungguhnya ada pada relasi kita dengan Pencipta. Ini adalah inti dari teguran Yesus. Menjadi kaya di hadapan Allah berarti:
Di zaman era digital saat ini kita mengenal istilah kerja cerdas dan cerdas. Banyak anak muda menghidupi budaya kerja cerdas dan keras bahkan hustle (kerja berlebihan) karena takut tertinggal (FOMO – Fear of Missing Out). Mereka mengejar kesuksesan finansial di usia muda hingga mengorbankan kesehatan, keluarga, dan ibadah. Orang kaya dalam perumpamaan ini adalah contoh sukses hustle culture zaman dahulu. Yesus mengingatkan bahwa bekerja keras itu baik, tetapi jika hidup hanya habis untuk mengejar materi tanpa memberi ruang bagi Tuhan, itu adalah kebodohan rohani. Kita juga sering melihat ada fenomena jebakan pamer di sosial media (Flexing). Media sosial memicu budaya flexing atau pamer kekayaan, pencapaian, dan gaya hidup mewah. Keberhasilan sering kali diukur dari algoritme di youtube atau tiktok. Si orang kaya fokus pada “gandumku” dan “lumbungku” untuk kepuasan ego sendiri. Yesus mengingatkan anak muda bahwa identitas dan harga diri sejati tidak ditentukan oleh validasi manusia di media sosial atau barang bermerek yang dimiliki, melainkan oleh status kita di hadapan Allah.
“Hidup hanya sekali” seringkali diartikan sebagai kesempatan untuk menikmati hidup dan bersenang-senang. Hal ini dipahami sebagai sikap untuk hidup bekerja dan menikmati hasil pencapaian dengan bersenang-senang tanpa memberikan ruang untuk Tuhan. Yesus setuju bahwa hidup cuma sekali, justru karena cuma sekali, hidup ini sangat singkat dan berharga. Kematian tidak memandang usia. Anak muda dipanggil untuk memanfaatkan kehidupan yang sekali dengan hal-hal berdampak, bukan dengan kesenangan egois yang fana.
Kesadaran anak muda tentang investasi (rumah, emas, dll.) meningkat tajam. Namun, ada risiko terjebak pada keserakahan dan mengabaikan aksi sosial/persepuluhan. Perumpamaan ini melatih anak muda untuk memiliki mindset “Kaya di hadapan Allah”. Artinya, saat keuangan mulai mapan, anak muda harus belajar menjadi saluran berkat dan menaruh rasa amannya pada Tuhan, bukan pada nilai saldo di rekening.