Menu
Categories
Bahan Renungan Namaposo GKPS, Minggu 03 Mei 2026 (Kantate)
27 April 2026 Bahan PA

Teks              : Efesus 6:5-9

Tema            : Keadilan Allah dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Tujuan          : Agar namaposo memahami bahwa setiap orang memiliki kesetaraan yang sama di hadapan Tuhan dan mau berperan aktif dalam meningkatkan sumber daya manusia marjinal.

Usul Doding : Haleluya No. 348:2+3

  1. Pengantar

Rekan-rekan kaum muda, sering kali kita melihat bahkan mungkin juga mengalami perlakuan yang tidak adil. Seperti melihat teman yang tidak diajak masuk kedalam kelompok hanya karena dia dianggap tidak keren, tidak gaul, tidak nyambung, tidak asik, penampilan, kemampuan intelektual, bahkan tak jarang juga tentang latar belakang ekonomi dikarenakan keadaan keluarga yang sederhana.

Keadaan sekarang membuat kaum muda membuat kelas-kelas untuk manusia. Ada yang dianggap lebih tinggi kelasnya, lebih penting, dan lebih dihargai karena standar yang telaj diciptakan oleh manusia saat ini. Serta ada juga kelas-kelas rendah bahkan tidak diperhitungkan karena tidak bisa memenuhi standart yang telah ditetapkan tersebut. Itu menurut cara pandang dan penilaian manusia, lalu bagaimana cara Tuhan melihat dan menilai manusia ?

 

  1. Isi Penelaahan

Pada masa Kekaisaran Romawi, ekonomi sangat bergantung pada sistem perbudakan. Budak bukan hanya pembantu rumah tangga, tetapi juga pekerja di ladang dan tambang. Artinya, budak adalah bagian penting dari roda ekonomi. Namun yang perlu dipahami, budak pada zaman itu tidak memiliki kebebasan pribadi, tidak memiliki hak hukum yang kuat, dianggap sebagai “milik” tuannya. kaSecara ekonomi, mereka seperti “alat produksi”, bukan manusia yang setara.

Rasul Paulus menulis surat ini, karena merasakan bahwa banyak hal yang perlu untuk diubah terkait bagaimana manusia bisa memandang manusia lain dengan baik serta berprilaku dengan baik. Namun menarik Rasul Paulus tidak langsung menyerukan pemberontakan atau perubahan sistem secara politik, tapi sebaliknya ia menanamkan sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu “cara pandang baru tentang manusia dihadapan Tuhan”.

Rasul Paulus berkata kepada para budak “lakukan pekerjaanmu dengan tulus, seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia”. Ini bukan berarti Paulus mendukung ketidak adilan tersebut, tapi justru sebaliknya Ia sedang mangngkat martabat para budak. Dalam arti Paulus ingin mengatakan kepada para buruh “walaupun dunia merendahkan kita, tapi Tuhan melihat kita berharga” Tuhan menilai kita tidak sama dengan cara penilaian manusia di dunia, bukan karena pekerjaan, status, kecerdasan, kehebatan,dls. Tapi, didalam kekurangan kita memiliki nilai yang berharga dalam Tuhan. Lalu Paulus melanjutkan dengan satu prinsip yang sangat penting bahwa “Tuhan akan membalas setiap orang, baik budak maupun orang merdeka (orang penindas, tidak adil, tuan). Artinya Tuhan itu adil  dan tidak ada yang luput dalam penglihatan-Nya, serta perbuatan baik, jujur, terlebih dahulu mangampuni, menegur jika salah, menjalankan tugas tanggung jawab dengan baik, bukanlah pekerjaan yang sia-sia, karena Tuhan melihat dan telah memperhitungan itu semua. Walaupun banyak sekali sahabat yang tidak mendukung kita untuk melakukan perbuatan baik. Tapi ingat, apa yang kita lakukan bukan untuk manusia tapi pelayanan kita untuk Tuhan saja.

Mungkin saja banyak sekali yang tidak menghargai , tidak dianggap, tidak di dengar. Tapi tidak untuk Tuhan, karena Tuhan melihat, memperhatikan, mendengar, dan mengahrgai semua kesusahan dan kesulitan yang kita alami, dan inilah dasar keadilan Allah.

Paulus juga tidak berhenti disitu tapi dia juga berbicara kepada tuan “Perlakukanlah budakmu dengan baik, jangan mengancam mereka” karena Tuhan orang budak dan Tuhan orang merdeka adalah satu, dan Tuhan tidak memandang muka. Pernyataan ini merupaka pernyataan yang sangat radikal pada zamannya. Dengan kata lain Paulus sedang mengatakan bahwa semua orang yang berdiri menghadap Tuhan adalah sama, tidak ada yang lebih tinggi dan rendah, kuat dan lemah, miskin dan kaya.

 

  • Renungan

Dari renungan yang ada di atas, jikalau kita kaitkan kepada Hak Asasi Manusia (HAM) mengajarkan kita bahwa setiap manusia memiliki hak dan martabat yang sama, tidak boleh ada diskriminasi, pengelompokan karena standart manusia, sehingga terjadi pembullian yang bisa saja menjatuhkan mental orang lain secara sikologis. Sebelum konsep HAM berkembang di dunia modern, Alkitab sudah terleebih dahulu menanamkan prinsip bahwa setiap manusia berharga di dalam Tuhan dan Tuhan tidak membeda-bedakan manusia. Seperti semboyan Negara Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda tetapi satu jua. Perbedaan bukan menjadi penghalang tapi perbedaan memperlihatkan kita bagaimana Tuhan dalam menciptakan keberagaman itu menjadi Indah jika kita hidup didalam harmonisasi.

Sebagai kaum muda, kita mau jadi seperti apa ?

Apakah kita ikut arus dunia tentang yang membeda-bedakan ?

Atau kita mau menjadi pekerja Kristus untuk membasmi perbelah-belahan karena perbedaan ?

Kaum muda menjadi masa depan gereja, sehingga jika kaum muda menjadi pelopor untuk hidup didalam keindahan akan perbedaan, maka akan semakin banyak lagi gereja-gereja yang bertumbuh didalam kesatuan iman di dalam Tuhan Yesus Kristus. Belajar menghargai, menolong, mendukung bukan karena selevel tapi karena kita anak-anak Allah yang menjadi alat-Nya.  Amin

Comments are closed
**