PA REMAJA GKPS
10 Mei 2026 (Rogate)
Nas: Lukas 11:5-13
Tema: Berdoa
Doa Yang Hidup
Pengantar
Sebagai kaum muda Kristen, jika kita jujur pada diri kita sendiri, kebanyakan dari kita mungkin akan mengakui bahwa kita tidak berdoa sebagaimana mestinya. Kita mungkin bersaksi, kita mungkin bernyanyi, kita dapat memberi, kita dapat melayani, kita pergi ke gereja, tetapi apakah kita benar-benar berdoa dengan cara yang seharusnya kita lakukan sebagai orang percaya? Pada akhirnya, kita semua akan mengakui bahwa kita kekurangan dalam hal kehidupan doa kita. Iblis dan kuasa jahat lainnya melakukan segala yang mereka bisa untuk menjauhkan kita dari doa. Segala sesuatu yang kita lakukan dan semua yang kita lakukan untuk Tuhan tergantung pada kehidupan doa kita. Melalui teks ini, kita diajarkan Yesus tentang Doa Yang Hidup. Lukas 11:5-13 mempersaksikan perumpamaan tentang kehidupan doa yang diberikan dalam bentuk pertanyaan retoris, setelah itulah baru Yesus memberikan jawaban yang jelas untuk menegaskan maksud-Nya. Di akhir, Yesus melanjutkan untuk menawarkan beberapa aplikasi dari ajaran perumpamaan itu. Jadi, kita akan mengikuti urutan sederhana teks ini dalam pemeriksaan kita terhadap perumpamaan tentang kehidupan doa, yakni: Pertama, pertanyaan perumpamaan, kedua, jawaban perumpamaan, dan ketiga penerapan perumpamaan.
Isi
- Pertanyaan tentang Perumpamaan.
Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara? (ayat 5-7).
Ini adalah pertanyaan yang cukup panjang, tetapi tetap cukup mudah dipahami. Pertanyaan itu menuntut jawaban kira-kira seperti, “Tentu saja saudara saya tidak akan menolak untuk membantu saya dalam situasi seperti itu!” Yesus hanya meminta kita untuk memikirkan bagaimana seorang saudara benar-benar bangun di tengah malam untuk membantu kita dengan kebutuhan. Dan Yesus berasumsi bahwa kita semua memiliki saudara yang tidak akan menolak kita tetapi akan membantu kita. Lagi pula, bukankah ini yang semestinya dilakukan saudara?
Tetapi di luar poin sederhana ini, Yesus juga mengaitkan pertanyaan dengan konteks sebelumnya ketika Dia menggambarkan seseorang dalam cerita itu membutuhkan roti. Perhatikanlah di bagian atas sebelum teks khotbah ini, Yesus baru saja mengajar murid-murid cara berdoa dengan menggunakan apa yang kemudian kita kenal sebagai “Doa Bapa Kami.” Dan dalam ayat 3, Yesus telah berkata bahwa mereka harus berdoa, “Berilah kami makanan sehari-hari.” Jadi, dalam perumpamaan ini Yesus ingin mendorong para murid agar tidak takut untuk terus meminta makanan sehari-hari mereka. Dia ingin mereka tahu bahwa mereka harus percaya diri dalam mencari Tuhan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Jika seorang saudara bangun di tengah malam untuk memberi kita roti ketika kita membutuhkan, bukankah itu berarti bahwa Tuhan juga akan memberi kita makanan sehari-hari? Terutama karena Dia telah memerintahkan kita untuk meminta-Nya setiap hari untuk makanan itu? Oleh sebab itu, gagasan untuk pertanyaan tentang perumpamaan ini adalah gagasan yang ada dalam pikiran Yesus, yang akan menjadi jelas ketika kita melanjutkan untuk memeriksa jawabannya.
- Jawaban Perumpamaan
Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya (ayat 8).
Istilah kunci untuk memahami makna perumpamaan ini adalah kata yang diterjemahkan tidak malu dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB) Edisi 2. Kata Yunani dari “tidak malu” adalah anaídeia, yang bisa pula berarti ketekunan, kegigihan, ketidaktahuan. Hal ini menunjukkan bahwa saudara dalam teks in tidak malu dan berani membangunkan tetangganya, dan tentu saja dalam harapan tetangga itu akan memberinya apa pun yang dia butuhkan. Di sisi lain, barangkali akan ada anggapan bahwa yang dilakukan saudara tersebut membangunkan tetangga adalah tindakan yang tidak pantas/ kurangnya kepekaan.
Simpulannya, bisa dan/ atau condonglah teks ini diinterpretasikan dengan maksud Yesus bahwa jika bahkan seorang manusia akan merasa sangat menganggu dan diganggu dalam kenyamanannya, maka orang Kristen harus pergi dengan berani di hadapan Tuhan dengan kebutuhan apa pun yang mereka hadapi, karena Tuhan lebih murah hati dan peduli daripada sesama manusia mana pun. Bahkan, jika seorang saudara mau bangun di tengah malam untuk mengabulkan permintaan sekalipun dari seorang tetangga yang “tidak tahu malu,” bukankah Allah akan lebih menjawab permintaan kita (?)
- Penerapan Perumpamaan
Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (ayat 9-13).
Penerapan perumpamaan ini ditemukan dalam ayat 9-13, dan ketika kita mulai melihat penerapan Yesus atas perumpamaan ini, ada dua poin utama yang hendak disampaikan:
- Kita harus terus-menerus dalam berdoa
Yesus ingin kita terus-menerus dalam doa kita—berdoa dengan semangat dan ketekunan. Meminta adalah tindakan yang kita lakukan ketika kita yakin bahwa orang yang kita minta sudah dekat dan dapat mendengar. Mencari adalah pengaharapan akan tindakan seseorang dan/ atau kuasa yang berada di pihak kita. Kita harus secara aktif mencari orang yang kita minta. Mengetuk adalah bentuk pengharapan tindakan lebih lanjut setelah menemukan orang yang kita minta. Ini menggambarkan kita terus-menerus menggedor pintu untuk mendapatkan perhatian orang tersebut. Semakin kita mungkin merasa bahwa Tuhan jauh—sekalipun kita sudah gigih dalam meminta—itu berarti kita harus semakin bersikeras dalam mencari Dia.
Tuhan ingin kita berdoa dengan cara ini. Dia ingin kita harus gigih dan harus menunggu jawaban dari-Nya. Pernahkah kita diam-diam berpikir bahwa Tuhan pasti bosan mendengar doa kita? Atau bahwa kita mungkin mengganggu Dia dengan membawa permintaan yang sama kepada-Nya? Jika demikian, Yesus ingin kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah lelah mendengarkan anak-anak-Nya!
- Kita harus percaya diridalam doa kita
Yesus menunjukkan bahwa kita harus memiliki keyakinan pertama-tama bahwa Tuhan, pada kenyataannya, akan menjawab doa kita, dan kedua bahwa Tuhan akan selalu menjawab doa kita dengan cara yang terbaik untuk kita. Tetapi ini menimbulkan pertanyaan yang sangat penting: Akankah Tuhan menjawab setiap dan semua doa dengan cara yang kita inginkan? Akankah Dia memberi kita apa pun yang kita minta dari-Nya selama kita terus meminta?
Ingatlah bahwa dalam ayat-ayat sebelumnya Yesus baru saja mengajarkan murid-murid cara berdoa, dan instruksi-Nya di sana cukup informatif (bnd. Luk. 11:2-4). Semua doa harus difokuskan pada kemuliaan Tuhan dan pencapaian kehendak-Nya. Dan, bahkan ketika kita berdoa untuk kebutuhan kita sendiri, ini harus dilakukan dengan maksud untuk kemuliaan Tuhan. Seorang teolog Methodis-Amerika, E. Stanley Jones, pernah mengatakan “Doa adalah penyerahan—penyerahan diri pada kehendak Tuhan dan kerja sama dengan kehendak itu.”
Di ayat 11-12, Yesus menggunakan beberapa contoh yang tidak masuk akal untuk menegaskan bahwa tidak masuk akal untuk berpikir bahwa Allah tidak akan menjawab doa kita dengan penuh kasih. Dalam konteks lingkungan Galilea masa itu, orang-orang akrab dengan batu-batu datar di tepi pantai yang tampak persis seperti kue roti bulat dan datar, dan dengan ikan berbentuk panjang yang tampak sangat kotor seperti ular. Dapatkah kita membayangkan seorang putra datang untuk memberi tahu orangtuanya bahwa dia lapar dan orangtuanya memberinya batu alih-alih roti? Kita manusia pun tidak akan sekejam itu, apalagilah Tuhan. Jadi tidak masuk akal untuk berpikir manusia akan tega melakukan hal seperti itu, maka betapa tidak masuk akal lagi untuk berpikir demikian tentang Tuhan!
Jika manusia yang jahat dapat mengasihi anak-anaknya cukup untuk memberi mereka hal-hal baik daripada hal-hal yang akan merugikan mereka, maka pasti Tuhan—yang di dalamnya tidak ada kejahatan sama sekali—akan memberikan anak-anak-Nya hanya yang terbaik bagi mereka. Dan dalam perikop ini, Yesus memberikan contoh yang luar biasa tidak hanya tentang apa yang baik bagi kita, tetapi tentang apa yang merupakan hal terbaik-mutlak yang dapat kita harapkan. Dia berjanji bahwa Bapa Surgawi kita akan memberi kita Roh Kudus ketika kita meminta kepada-Nya! Dan dengan Roh Kudus datanglah berkat-berkat seperti hati yang baru, keselamatan melalui persatuan dengan Kristus, dan kuasa untuk mengatasi dosa.
Refleksi/ Perenungan
Dalam doa, perhatikanlah tiga elemen penting ini: (1) nama-Nya, (2) kerajaan-Nya dan (3) kehendak-Nya. Ini adalah tiga prioritas pertama doa—setidaknya melalui teks Firman ini. Tujuan doa adalah untuk menyelesaikan kehendak Tuhan; bukan untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan atau untuk mengatasi keengganan-Nya. Sebaliknya, Tuhan menggunakan kita untuk memenuhi kehendak-Nya. Jadi ketika kita bergulat dengan Tuhan atau bergumul dengan Tuhan dalam doa, Dia mungkin menjatuhkan kita untuk memahkotai kita dengan berkat. Itulah doa yang hidup! Amen.