
Renungan Remaja GKPS
Minggu, 14 Juni 2026 (2 Setelah Trinitatis)
Nats Khotbah : Matius 18:21-22
Tema : Tetap Mengampuni
Tujuan : Supaya Remaja dapat:
MENGAMPUNI LEVELNYA ILAHI
Mengampuni mungkin tampak seperti hal yang mustahil bagi seorang anak yang belum memiliki semua kemampuan yang dimiliki orang dewasa untuk menangani emosi seperti kemarahan dan keinginan untuk membalas dendam. Masa remaja dapat disebut sebagai masa Transisi yang sangat perlu ekstra untuk mengedukasi tentang pelajaran-pelajaran moral salah satunya adalah menjadi pribadi yang mengampuni. Apa dan bagaimana itu mengampuni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus? Itulah yang akan kita bahas dalam nats khotbah minggu ini untuk sekolah minggu remaja.
Dalam Tradisi yang di ajarkan oleh guru-guru Yahudi pengampunan itu diberikan sebanyak 3 kali, hal ini lah yang mungkin menjadi acuan dasar Petrus, sehingga bertanya kepada Yesus dengan pola yang sama, tentang sejauhmana batas diberikan sehubungan dengan pengampunan. Petrus merasa sangat murah hati dengan menawarkan tujuh kali, karena peraturan yang berlaku menurut guru-guru Yahudi adalah tiga kali. Dengan menawarkan tujuh kali mungkin Petrus telah merasa memberikan tawaran yang luarbiasa. Tetapi justru Yesus dengan tegas mengatakan tidak pada apa yang dikatakan oleh Petrus. Yesus berkata “ Bukan! Aku berkata kepada mu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Jika kita mengartikan jawaban Yesus secara harafiah mungkin saja kita akan memahami bahwa Tuhan Yesus juga memberikan pola yang sama bedanya petrus tujuh kali dan Yesus 70 kali 7 hasilnya 490 kali. Tuhan Yesus tidak sedang menyatakan bahwa tujuh puluh kali tujuh kali adalah batas terakhir atau batas teratas untuk memberikan pengampunan. Perkataan Yesus adalah simbolik yang penuh dengan makna teologis yang terkandung di dalamnya, berikut beberapa makna dari Tujuh puluh kali tujuh kali:
Dari ketiga hal diatas kita dapaat menarik sebuah Kesimpulan pengajaran Tuhan Yesus tentang mengampuni. Pengampunan Kristus tidak dapat dijangkau atau diukur oleh akal sehat maupun intelektual (pikiran) manusia. Standart pengampunan Allah berbunyi: “sama seperti Kristus telah mengampuni kamu”. Pengampunan Kristus adalah dasar untuk membangun suatu gaya hidup yang rela mengampuni orang lain, karena hati yang mau mengampuni merupakan bukti bahwa orang itu sudah diselamatkan, sebab kasih lebih sekedar emosi, kasih adalah perbuatan yang aktif, nyata dan kasih merupakan ketaatan yang dilakukan untuk mau mengampuni. Sekali lagi tanggapan tuah Yeus kepada pertanyaan Petrus bukan bermakan bahwa pengampunan itu tidk ada batasnya atau batas yang dapat di tentukan, sebagaimana jikalau kita mengartikan jawaban Tuhan Yesus itu secara harafiah.
Sesungguhnya Keputusan untuk memberikan pengampunan bukan lagi menjadi opsional (pilihan hidup) orang percaya tetapi sudah menjadi habit (karekter) yang melekat sebagai orang-orang yang telah percaya dan mengikut Kritus. Maka hal yang pertama yang perlu diberitahukan kepada anak sekolah minggu remaja adalah tentang alasan kenapa kita harus mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita? Maka jawabannya adalah “karena Tuhan Yesus sendiri telah mengampuni segala dosa kita” sama seperti yang telah di paparkan diatas Standart pengampunan Allah berbunyi: “sama seperti Kristus telah mengampuni kamu” dan bahkan Tuhan Yesus mengajarkan bahwa pengampunan itu tidak dapat diukur secara jumlah, pengampunan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah pengampunan tanpa batas.
Ada beberapa cara untuk mengajarkan kepada anak tentang sikap untuk memberikan pengampuanan atau memaafkan[1]:
Kita mengajarkan bahwa semua orang pernah dan bekesempatan untuk bertengakar, berkelahi atau melakukan kesalahan. maka seorang anak perlu belajar tentang kasih karuna dan rekonsiliasi. Latih anak untuk mau mengampuni orang yang bersalah kepadanya bahkan untuk masalah terkecil sekalipun.
Mengampuni dan memafkan tidak memerlukan syarat. Kalau pakai syarat berarti kita tidak benar-benar mengampuni, tetapi memaksa saja. Pengampunan atau maaf. Berilah maaf terlepas dari tanggapan orang lain. Yang penting anak belajar untuk memiliki perasaan yang perlu dilepaskan.
Ajari anak bahwa saat belajar memaafkan seseorang, bukan tentang siapa yang benar dan salah. Tapi tentang bagaimana membina hubungan yang benar. Ajar anak untuk lebih peduli tentang hal itu.
Berikan waktu untuk anak belajar mengampuni atau memafkan. Jika kita menekan mereka, justru apa yang anak lakukan bukanlah merupakan kesunguhan, tetapi keterpaksaan. Jelaskan pentingnya pengampunan dan bawha Tindakan tersebut harus berasal dari hati dan bukan tuntutan kita.
Ajari anak dengan sebuah pertanyaan: apa yang anak dapatkan kalau mereka menyimpan dendam? Justru hal itu akan membuatb kita tidak bisa maju dan akhirnya terjebak pada masa lalu. Kepahitan akan membuat kita jatuh kepada jurang dosa dan menjadi pintu masuk iblis. Makanya kita perlu mengajarkan anak mengampuni dan melepaskan. Ini akan memberi mereka lembaran yang bersih dan siap diisi dengan emosi yang baru.
Kasihilah sesame mu manusia seperti dirimu sendiri! (Galatia 5:14) tanyakan kepada anak-anak bagaimana mereka ingin seseorang merespin ketika mereka melakukan kesalahan? mereka ingin diampuni. Kemudian suruh mereka melakukan hal yang sama.
[1] Sumber, Superbook