
Riap ma hita sauhur martangkap tangan, ibagas damei na humbai Tuhan in.
Marpangarapan tongtong bai horja ni Tuhan, hataridahan ni hasintongan-Nin.
Marpangarapan tongtong bai horja ni Tuhan, hataridahan ni hasintongan-Nin.
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”
Kasih Allah tidak bergantung pada inisiatif atau kelayakan kita. Kita tidak perlu mengulurkan tangan kepada Allah atau bahkan percaya kepada Allah untuk dikasihi. Kita tidak perlu membersihkan tindakan kita sebelum Allah dapat mengasihi kita. Kita tidak harus memenuhi standar tertentu agar layak dikasihi. Tidak, Tuhan menghujani kita dengan kasih, baik kita pantas menerimanya atau tidak. Dan sejujurnya, siapa yang pantas menerima kasih yang luar biasa dan tak terukur seperti itu?
Oleh karena itu, kembali kita diingatkan Yohanes melalui ayat ini bahwa semakin kita mengenal Tuhan sepenuhnya dan seutuhnya, semakin kita menyadari kenyataan kasih Tuhan yang luar biasa. Ketika kita membuka diri terhadap kehangatan dan terang hadirat Tuhan, kita menemukan bahwa bahkan rahasia terdalam, tergelap, dan bagian diri kita yang paling buruk pun tidak berada di luar jangkauan Tuhan. Tidak ada sesuatu pun dalam diri kita yang begitu rusak atau kotor, sehingga Tuhan tidak mau atau tidak mampu menyentuhnya. Tuhan merangkul kita apa adanya, mengasihi kita apa adanya, dan bekerja di dalam diri kita untuk menjadikan kita bersih, utuh, dan baru. Ditopang, dikelilingi, dipeluk oleh kasih seperti itu, siapa yang bisa takut? Kasih yang memberi hidup seperti itu terlalu indah untuk disimpan sendiri. Mengenal kasih Tuhan berarti meluap dengan kasih Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi Tuhan sementara kita membenci orang-orang yang dikasihi Tuhan? Melihat diri kita sebagai orang-orang terkasih Tuhan berarti melihat saudara-saudari kita sebagai orang-orang terkasih Tuhan juga. Jika kita telah mengenal kasih Tuhan, kita telah melihat sendiri bahwa kasih itu tidak diperoleh dengan usaha, tidak layak diterima, sepenuhnya cuma-cuma. Meskipun kasih Tuhan tidak bersyarat, kasih itu tidak tanpa konsekuensi: Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita.
Kita dipanggil dan diutus Tuhan untuk saling mengasihi. Allah mengundang kita untuk membiarkan Yesus hidup di dalam diri kita, sehingga melalui kita Yesus dapat terus menyambut orang-orang buangan dan menyentuh mereka yang tak tersentuh serta menyembuhkan mereka yang terluka. Ketika kasih Allah yang tak terbayangkan dan tak terbatas itu menjadi hidup di dalam diri kita, maka kehadiran Allah akan semakin nyata di dunia. Amin.
Dousa pakon kuasani, ampa sipangagou in.
Sai marhoih do ganupan, bani paruntolon in.
Sai sondangkon ma holong-Ni, das bai hagolapan in.
Ase haganup pardousa, ipaluah Naibata.
Departemen Persekutuan GKPS