
“Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu Tuhan, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!”
Ketika semua ketetapan yang berisi kemenangan TUHAN itu dinyatakan, TUHAN juga memberi perhatian keras kepada sikap hati dari umat Israel. Pengalaman di padang gurun telah membuktikan bahwa sikap hati Israel telah membuat TUHAN Allah gusar di padang gurun dan menjadi murka (Ulangan 9:7-8). Bahkan TUHAN sampai menyebut umat Israel itu sebagai bangsa yang “tegar tengkuk.” Istilah tegar tengkuk bagi orang Yahudi pada awalnya ditujukan buat hewan terutama lembu jantan yang digunakan untuk membajak tanah dalam pertanian. Bajak ditarik oleh dua ekor lembu jantan dan dipandu oleh pembajak dengan cambuk tertentu. Jika lembu itu bandel atau tidak mau tunduk dengan kuk yang dipasangkan, dikatakanlah bahwa lembu itu tegar tengkuk. Kemudian istilah tegar tengkuk digunakan dalam Alkitab untuk menyatakan kebandelan atau kedegilan manusia yang tidak merespons tuntunan Allah.
Oleh karena itu, TUHAN Allah melalui Musa memperingatkan mereka untuk tidak lagi menjadi bangsa yang tegar tengkuk. TUHAN menginginkan bangsa Israel berpikir bahwa bukan karena kesetiaan dan kebaikan mereka maka mereka mendapatkan semua kebahagiaan dan kesenangan yang ada di Tanah Kanaan. TUHAN memberikan tanah itu karena janji-Nya yang berdaulat kepada para bapa leluhur, bukan karena kesetiaan mereka. TUHANlah yang memberikannya kepada mereka. Maka tidak ada alasan bagi umat Israel untuk membanggakan diri dan merasa berjasa di hadapan Tuhan. Seruan Musa ini juga menegaskan bangsa Israel agar kembali dengan formulasi yang tertulis dalam Ulangan 9:1, “Dengarlah hai orang Israel.” Artinya, dengarlah untuk taat! Mereka perlu mendengarkan dan mengamini bahwa Tuhan akan mengerjakan dengan pasti suatu perkara besar yang akan menjadi sukacita dan berkat bagi mereka.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
lawan dari sikap tegar tengkuk adalah hati yang tulus ikhlas menerima pengajaran. Dalam Ibrani 10:22 dituliskan, “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” Kiranya sikap hati yang tulus ikhlas menjadi kekuatan bagi kita dalam memasuki semua janji dan pengharapan yang TUHAN berikan dalam kehidupan kita. Hati yang tulus ikhlas akan menjadi pintu terbaik untuk menerima berkat dan hidup dalam kesetiaan kepada TUHAN. Amin.
Ale Jesus sai kawahkon, sai parorot Ham au on.
‘Se totap haporsayaon mangiankon uhurhon.
Sai paringgas Ham uhurhu, manangihon Hata ai.
Sai horahan bai podah-Mu, songon si Maria ai.
Departemen Persekutuan GKPS