
Sanggah poltak mataniari in, martitialas bai sogodni in.
Morum mangerbang bunga-bunga in, irandu doding ni bossala in.
In haganupan pasu-pasu-Ni, simada kuasa Tuhan Naibata.
In haganupan pasu-pasu-Ni, simada kuasa Tuhan Naibata.
“Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu.”
Jemaat Tuhan,
Setelah enam hari penciptaan yang luar biasa, Allah berhenti pada hari ketujuh. Kata “berhenti” bukanlah merujuk bahwa Allah menjadi pasif atau lelah, bukan pula sebagai sebuah tanda kemalasan, tetapi berhenti merujuk kepada sebuah situasi reflektif, perhentian, dan penyucian. Arti istirahat ini menunjukkan bahwa pekerjaan penciptaan sudah selesai dengan sempurna. Dalam konteks ini, istirahat berarti Allah melihat dan menilai bahwa segala sesuatu adalah sangat baik (Kejadian 1:31). Allah memberikan teladan bagi umat manusia tentang pentingnya waktu untuk berhenti sejenak dan menikmati karya Allah dalam setiap pekerjaan kita. Allah juga memberkati hari itu dan menyucikannya. Allah memberkati hari ketujuh, menjadikannya istimewa dan penuh makna. Berkat ini menunjukkan bahwa hari ketujuh adalah waktu untuk mengalami kasih karunia Allah secara khusus. Berkat Tuhan pada hari istirahat mengingatkan kita bahwa waktu ini adalah pemberian khusus untuk memulihkan jiwa dan tubuh. Dan Allah “menguduskan,” yang berarti bahwa Allah memisahkan hari tersebut untuk tujuan ilahi. Hari ketujuh menjadi waktu yang dikhususkan bagi Allah, bukan untuk aktivitas biasa. Inti dari pengudusan ini adalah membawa fokus kembali pada Allah. Menguduskan berarti memisahkan sesuatu untuk tujuan yang suci. Allah memisahkan hari ketujuh sebagai hari yang istimewa untuk memusatkan perhatian kepada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa hidup kita perlu diatur dalam ritme yang seimbang antara bekerja dan beristirahat, sambil selalu mengingat siapa yang memberikan kita kekuatan dan berkat. Menguduskan waktu berarti menyediakan waktu berkualitas untuk hubungan kita dengan Tuhan, melalui doa, ibadah, dan firman-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
melalui nas ini, kita diajak untuk melihat hari perhentian bukan hanya sebagai jeda fisik, tetapi sebagai waktu untuk menikmati hubungan dengan Tuhan, keluarga, dan ciptaan-Nya. Hari Sabat mengajarkan pentingnya keseimbangan antara bekerja dan beristirahat. Tubuh kita membutuhkan pemulihan, dan jiwa kita memerlukan pembaruan di hadapan Allah. Hal ini mengajarkan kita pentingnya waktu untuk berhenti sejenak, tidak hanya untuk fisik kita, tetapi juga untuk jiwa kita. Beristirahat dari pekerjaan, tujuan utamanya adalah untuk memberi ruang bagi Allah dalam kehidupan kita, untuk merenungkan kasih-Nya, dan untuk memperbaharui hubungan kita dengan-Nya. Dalam kehidupan yang sibuk ini, kita sering kali melupakan pentingnya waktu untuk beristirahat dan bersekutu dengan Allah. Namun, Allah sendiri memberi teladan kepada kita dalam Kejadian 2:3, ketika Ia menguduskan hari ketujuh dan memberi kita contoh untuk berhenti sejenak dari pekerjaan kita. Allah memberikan waktu untuk kita beristirahat, meresapi karya-Nya, dan memperbaharui hubungan kita dengan-Nya. Di masa Advent ini, mari memberi ruang bagi Tuhan dalam keluarga kita, menyisihkan waktu untuk doa bersama, membaca firman Tuhan, dan merasakan kedamaian-Nya. Dalam masa Advent, kita mengingat bahwa Yesus datang untuk memberi kedamaian, untuk memberikan istirahat bagi jiwa yang letih dan berbeban berat (Matius 11:28). Ia datang untuk menyempurnakan segala sesuatu yang telah Allah ciptakan dan untuk memberi kita kesempatan untuk mengalami kedamaian sejati dalam kehidupan kita. Amin.
Departemen Persekutuan GKPS