
Talun jenges do, juma pe jenges do, na maratah-ratah in.
Jesus tarlobih, bai hajengeson, sibaen malas ni uhur in.
“Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: ”Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”
Jemaat Tuhan,
agaknya nas kita hari ini juga ingin memberitahu makna nama, yang dalam hal ini adalah Efraim yang berarti “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” Efraim adalah anak Yusuf yang lahir pada tahun-tahun kelaparan, di tanah Mesir, di mana ia telah lama menderita, tinggal di rumah tuannya, bahkan dipenjara selama kurang lebih tiga belas tahun. Dalam kondisi seperti itu, Allah membuatnya berbuah dalam kasih karunia dan perbuatan baik, dalam kekudusan, kerendahan hati, Allah menganugerahkan kepadanya karunia-karunia besar, sehingga Yusuf mampu dan terampil dalam menafsirkan mimpi, bijaksana dalam urusan politik, kekayaan yang sangat banyak, dan kehormatan serta kemuliaan. Yusuf merasakan itu semua. Maka dasar pemberian nama untuk Efraim adalah sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah karena dikarunia anak di Mesir, tempat ia dibuang oleh saudara-saudaranya. Dengan demikian benarlah bila nama Efraim itu mengingatkan Yusuf tentang Allah yang luar biasa dan memperhatikan serta memberi kasih karunia kepadanya, di masa-masa kesengsaraannya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
dalam nas ini kita tidak hanya melihat nama itu sebagai sebuah identitas seseorang, tetapi nama juga merupakan cerminan karya Allah dalam kehidupan Yusuf. Maka terlepas dari makna nama Efraim, justru pesan yang menonjol dalam nas ini adalah karya Allah itu sendiri. Bahwa Allah terus berkarya dalam seluruh kehidupan umat-Nya, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, dan Ia selalu memperlihatkan otoritas serta kuasa-Nya kepada umat-Nya. Kisah Yusuf dengan Efraim menjadi sebuah pembuktian bahwa Allah terus bekerja dan berkarya, bahkan dalam masa-masa kesengsaraan umat-Nya. Itu juga yang akan kita aminkan dalam kehidupan kita ini, banyak hal yang kita alami, bahkan mungkin kita mempunyai pengalaman di mana seolah-olah kita berada dalam sebuah titik kesengsaraan, tetapi melalui nas ini, kita diingatkan kembali bahwa ternyata Allah selalu berada di tengah-tengah kita dan tetap menyatakan kasih karunia-Nya kepada umat yang mempercayakan diri kepada-Nya. Maka mari kita nikmati karya Allah dalam perjalanan kehidupan kita. Amin.
Departemen Persekutuan GKPS