
O Tuhan tiap jam, sai hasomani au, ai anggo rapkon Ham, sibolis in pe lao.
Bai haganup ianan, Ham do hupindahi, na roh do au sonari, holong ma Ham.
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Roma 12:12 adalah bagian dari surat rasul Paulus yang memberikan nasihat praktis bagi kehidupan orang percaya. Ada tiga poin penting yang menjadi penekanan ayat kita hari ini, yaitu tentang pengharapan, kesabaran, dan ketekunan. Ketiga hal ini tentu sangat erat dalam kehidupan kita saat ini, bahkan mungkin ini adalah hal yang prinsipil yang semestinya menjadi hal yang melekat dalam kehidupan umat Kristen. Lalu, apa yang dimaksud oleh penulis kitab Roma atas ketiga hal tersebut? Hal yang pertama adalah bersukacita dalam pengharapan. Bahwa keberadaan umat Kristen semestinya berdiri di atas dan di dalam pengharapan yang berakar pada janji Allah dan kehidupan kekal di dalam Kristus. Pengharapan ini memberi kita sukacita, bahkan di tengah keadaan yang sulit. Sukacita dalam pengharapan membuat kita tetap kuat, tidak mudah putus asa, dan selalu melihat hal positif dari perspektif iman, tentu pengharapan yang seperti itu juga yang menjadi dasar kita, khususnya saat kita memasuki Minggu Adven keempat ini. Lalu yang kedua dituliskan hal yang berhubungan dengan kesabaran. Kesabaran adalah kemampuan untuk bertahan, tetap teguh, dan tidak menyerah di tengah penderitaan atau tantangan. Kesabaran membutuhkan iman bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya dengan segera. Dan kesabaraan yang seperti itu akan menopang kita untuk mampu bertekun dalam doa. Bahwa doa adalah nafas orang percaya, yang sejatinya harus diterjemahkan dalam sikap berdoa secara konsisten, tidak menyerah, dan menjadikan doa sebagai gaya hidup, bukan hanya respons terhadap masalah. Dengan bertekun dalam doa, kita menunjukkan kepercayaan penuh kepada Allah, menyerahkan segala rencana, kekuatiran, dan harapan kita kepada-Nya.
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,
ayat ini mengingatkan kita tentang sikap hati dan tindakan yang harus kita miliki sebagai orang percaya. Sukacita dalam pengharapan memberi energi untuk menghadapi masa depan, kesabaran dalam kesesakan menunjukkan iman yang kokoh, serta ketekunan dalam doa menjaga hubungan kita dengan Allah tetap hidup. Maka sebagai umat yang percaya kepada Tuhan, semestinya kita hidup dengan keyakinan penuh kepada Allah, karena Dia adalah sumber pengharapan, kekuatan, dan jawaban doa, maka hiduplah dalam pengharapan yang dibungkus dengan kesabaran dan beralaskan ketekunan. Amin.
Departemen Persekutuan GKPS