
“Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.”
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
dalam nas hari ini kita diingatkan kembali akan otoritas Allah dalam kehidupan umat-Nya, walaupun dalam kondisi mereka yang berada dalam pembuangan Babel, tetapi Allah secara tegas mengatakan bahwa bangsa itu adalah milik-Nya, “Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya!” Allah menyatakan bahwa semua manusia ciptaan-Nya (makhluk hidup, nephes), adalah milik-Nya. Allah adalah pemilik semua jiwa, baik jiwa orang benar di hadapan Allah maupun jiwa orang yang hidup tidak benar. Allah mempunyai otoritas terhadapnya, terhadap semuanya, dan bukan manusia itu sendiri yang berotoritas pada dirinya. Artinya bahwa manusia tidak ada wewenang terhadap jiwanya sendiri karena kita adalah milik Allah. Oleh karenanya, kita tidak punya hak untuk berbuat sesuka hati terhadap hidup kita, karena kita adalah milik Allah. Kita harus patuh, taat, serta tunduk kepada pemilik kita, yang berwewenang terhadap kita. Sebagai pemilik jiwa kita, maka Allah menjamin jiwa kita dan menyediakan tempat yang akan kita tuju setelah kita hidup di dunia. Allah memberi jaminan bagi jiwa kita.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
lalu bagian akhir dari nas kita ini dituliskan bahwa nephes yang berdosa akan mati. Bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya, termasuk atas dosanya. Jiwa kita adalah milik Tuhan, sehingga kita harus memberi tanggung jawab kepada Tuhan atas penggunaan jiwa kita. Orang yang berbuat dosa, dialah yang harus mati. Orang benar menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya (ay. 20). Kalimat, “orang yang berbuat dosa akan mati” mempunyai makna kematian rohani. Mati secara rohani berarti terpisah selamanya dari Tuhan. Nas ini menekankan bahwa setiap apapun yang kita lakukan, kita harus memberi pertanggungjawaban terhadap Tuhan, pun saat kita melakukan lagi dan lagi kesalahan dan perlawanan terhadap-Nya, maka hidup kita akan terpisah dari-Nya. Maka oleh karena itu hiduplah selalu erat kepada Tuhan, bukan hanya erat tetapi melakukan semua yang diharapkan-Nya untuk kita lakukan, sehingga kita tidak menjadi “mati.” Selamat menjalani hidup dalam kepemilikan Tuhan, dan nikmatilah hidup yang selalu erat dengan-Nya. Amin.
Baluti Ham uhurhu na horu in.
Bai holong na tarsulur, na banggal in.
Sai sasap Ham dousangku, ale Tuhan,
Sai gok Bamu uhurhu hunjon hujan.
Departemen Persekutuan GKPS