
“Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.”
Jemaat Tuhan,
konteks nas hari ini adalah saat pemazmur bertanya kepada Tuhan mengapa hatinya begitu sedih dan mengapa ia harus melalui masa penindasan oleh musuh-musuhnya. Lalu dalam menyikapi situasi ini, pemazmur mengambil tindakan untuk melawan depresi hatinya, tekanan pada jiwanya, dengan berbicara kepada hatinya sendiri. Ternyata menghadapi tekanan pada jiwa itu bisa dilakukan dengan perkataan dari mulut kita yang positif dan membangun. Lalu, apa poin yang disampaikan oleh pemazmur kepada jiwanya? Sebuah keyakinan tentang peran serta Allah dalam situasi yang dihadapinya. Bahwa kalaupun dalam masa tekanan itu seolah-olah Allah belum memperlihatkan pertolonganNya, namun Ia tetaplah Allah, yang pasti akan menolongnya. Dan keyakinan inilah yang mendorong seseorang, atau bahkan kita, untuk tetap berharap akan pertolongan Allah dalam setiap situasi kehidupan kita. Dan beranjak dari sikap yang tetap berharap kepada Allah, maka pemazmur menyatakan dengan segala keteguhan imannya bahwa dalam ketertekanan jiwanya “aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.” Ketiga tempat ini merupakan simbol yang melambangkan tiga pengalaman rohani dan ketiganya melambangkan tanah pembuangan, jauh dari rumah Tuhan di Yerusalem. Dan tampaknya pemikirannya adalah bahwa meskipun kita tidak dapat mengunjungi rumah Tuhan, dan meskipun pada tempat pembuangan, tetapi umat-Nya masih dapat mengingat Tuhan dari tempat itu. Artinya tempat dan kondisi yang dialami oleh umat-Nya bukan menjadi penghalang bagi umatNya untuk tetap menggantungkan harapannya kepada Allah yang menjadi sumber pertolongan bagi mereka, dan yang dapat membebaskan jiwanya dari setiap tekanan yang dihadapinya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
hari ini mungkin kita sedang mengalami kegalauan hati, atau bahkan ketertekanan jiwa. Sebagai umat yang hidup dan selalu berinteraksi dengan dunia luar, tentu akan menjadi sebuah kemungkinan besar ketika kita akan bersinggungan dengan pihak atau situasi yang membuat kita tertekan. Tetapi menarik apa yang menjadi kesaksian pemazmur, bahwa ternyata dalam kondisi tertekan, bahkan di tempat yang membuatnya terpuruk dan terbuang, pemazmur tetap memperlihatkan pengharapannya kepada Allah saja. Hal ini bukan tumbuh begitu saja, tetapi tentu sudah melewati proses atau perjalanan iman yang membuat seseorang matang dalam pemahamannya akan keberadaan Allah dalam kehidupannya. Maka nas ini mengundang kita untuk tetap datang kepada-Nya, hanya karena bersama Dia saja hati kita tenang, dan hanya bersama dengan-Nya saja, jiwa kita tentram. Amin.
Tak kusesalkan hidupku, betapa juga nasibku.
Sebab Engkau tetap dekat, tangan-Mu kupegang erat.
Tuhanlah yang membimbingku, tanganku dipegang teguh.
Hatiku berserah penuh, tanganku dipegang teguh.
Departemen Persekutuan GKPS