
Na Pansing Na Pansing Tuhan parkuasa, ningon do pujion ni na tinompa-Mu.
Na Pansing, Na Pansing janah marjumbalang, Sitolu sada na sangap tumang.
“Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.”
Jemaat Tuhan,
marilah kita melihat secara lebih terperinci tentang apa yang disampaikan oleh penulis kepada kita pada hari ini. Ada 2 (dua) kata yang menjadi fokus perhatian kita, yaitu kata “waspada” dan kata “berhala.” Kata waspada menghunjuk kepada sikap untuk berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga dan sigap dalam menghadapi bahaya atau keadaan darurat. Tentu hal ini sebagai sebuah sikap yang diperlihatkan oleh seseorang untuk mempersiapkan dirinya di tengah-tengah situasi yang tidak diharapkannya. Bila melihat dalam konteks ini, tentu hal-hal yang tidak diharapkan itu adalah adanya ajaran yang menyesatkan, perlu kewaspadaan, sehingga tidak terjerat dalam ajaran yang menyesatkan itu. Karena ketika seseorang tidak waspada, maka situasi terjerat, atau terpengaruh dan ikut dalam ajaran yang menyesatkan dan situasi itu menjadi awal bagi seseorang untuk tunduk kepada ajaran yang menyesatkan. Kata kedua adalah “berhala” yang bila dilihat dari kata bendanya, memiliki arti patung dewa, dan bila penggunaan kata berhala meluas menjadi makhluk/benda (matahari, bulan, malaikat, hewan) atau apa saja yang disembah selain perintah Allah adalah termasuk dalam kategori berhala. Berhala, dalam hal ini, adalah benda atau orang yang bukan Tuhan, tetapi disembah seolah-olah mereka adalah Tuhan. Berhala bisa menjadi apapun yang kita tempatkan di atas Tuhan dalam kehidupan kita, menjadi fokus utama perhatian dan penyembahan kita. Dengan demikain, ketika penulis menekankan “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” maka hal ini adalah nasihat yang diberikan penulis kepada orang percaya yang dikasihinya. Bahwa fakta adanya tantangan yang memungkinkan untuk menyebabkan jemaat itu akan terpengaruh, maka setiap umat percaya perlu waspada, bahwa situasi konkrit ajaran yang menyesatkan, mendorong umat percaya untuk tetap fokus kepada Kristus, Sang Kebenaran. Seseorang yang sudah mengenal Allah dengan benar, berada di dalam Dia, akan menjauhkan allah palsu, tidak memuja Allah dengan patung-patung dan gambar-gambar yang ikut berbagi dalam penyembahan terhadap-Nya. Tidak bersekutu dengan bangsa-bangsa lain dalam penyembahan berhala mereka. Allah Sang Pencipta adalah Dia yang telah menciptakan, yang menebus melalui Anak-Nya, yang telah mengirimkan Injil-Nya, yang telah mengampuni dosa-dosa manusia, dan yang memberi kita hidup kekal. Melekat kepada-Nya dalam iman, kasih, dan ketaatan, dengan menentang segala sesuatu yang akan menjauhkan pikiran dan hati kita dari-Nya.
Jemaat Tuhan,
saat ini, wujud berhala bukan hanya berhubungan dengan patung-patung atau benda-benda yang lain, tetapi kemajuan teknologi yang saat ini, memungkinkan kita untuk masuk dalam memberhalakannya. Maka nas ini menjadi sebuah pengingat bagi kita untuk tetap waspada, bahkan kepada ajaran atau kemajuan yang selalu ada dalam kehidupan kita. Bukti pengenalan kita kepada Allah adalah saat kita mampu menyaring ajaran atau kemajuan yang tidak membuat kita berpaling dari pengenalan kita kepada-Nya. Amin.
Kantor Sinode GKPS