Menu
Categories
Ibadah Harian Keluarga GKPS: Rabu, 18 Juni 2025
17 Juni 2025 TATA IBADAH
  1. Doding: Haleluya No. 353:1-2
    Marsora do Tonduy ni Tuhanta in.
    Gati lang itangar, itulak ham in.
    Sai tanda dousamu sopotkon homa.
    Holong do atei-Ni isasap do in.

Marunduk ni uhur sopotkon ma in,
pambaenmu na jahat ampa jungkatmin.
Ondoskon bai Jesus bulat dirimin,
tongtong ma sai dingat pangkopkop-Ni in.

  1. Tonggo
  2. Ayat Harian
    “Tapi malas bei do uhur ni bangsa ai, halani ringgas bei do sidea na margugu ai, ai humbani gok ni uhurni bei do sidea na margugu ai bani Jahowa;” (1 Kronika 29:9a)

“Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada Tuhan;” (1 Tawarikh 29:9a)

  1. Renungan: Memberi kepada Tuhan dalam Kerelaan dan Ketulusan
    Jemaat yang dikasihi Tuhan,
    ayat harian kita hari ini berbicara tentang sikap bangsa Israel, di bawah kepemimpinan raja Daud, dalam pembangunan Bait Suci. Sikap yang ditunjukkan bangsa itu adalah sikap yang positif dan konstruktif, yaitu lewat memberikan persembahan kepada Tuhan dengan sukacita dan tulus hati. Apa sebabnya? Ada dua sebab. Pertama, raja Daud, sebagai pemimpin bangsa itu, telah menunjukkan segenap kemampuannya untuk pembangunan Bait Suci. Ia telah mengusahakan emas, perak, tembaga, besi, kayu, dan segala jenis batu permata dan batu pualam. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga telah mengusahakan tiga ribu talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu talenta perak murni kepunyaannya sendiri. Jadi, sikap yang telah ditunjukkan raja Daud tersebut adalah sebuah teladan, sekaligus ajakan, bagi bangsa yang dipimpinnya, untuk bersama-sama membangun Bait Allah.

Kedua, para kepala puak (partai/kelompok/golongan), para kepala suku, para kepala pasukan, dan para pemimpin pekerjaan untuk raja juga telah menunjukkan kerelaannya dalam pembangunan rumah Allah. Mereka menyerahkan lima ribu talenta emas, sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak, dan delapan belas ribu talenta tembaga, serta seratus ribu talenta besi. Itulah mengapa bangsa itu pun bersukacita dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, karena para pemimpinnya telah menjadi teladan dalam memberikan persembahan untuk rumah Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Sebagai warga GKPS, di tahap atau bagian keberapakah kita mengambil langkah dalam memberikan persembahan kepada rumah Tuhan? Apakah kita saling menunggu, atau kita menjadi yang terdepan untuk memberikan persembahan kepada rumah Tuhan? Memang, bukan besar atau kecilnya persembahan itu yang menjadi penting, melainkan kerelaan dan ketulusan hatilah yang terpenting. Oleh karena itu, tidak mengapa kita tidak mempersembahkan sebesar persembahan orang lain, karena yang terpenting adalah kerelaan dan ketulusan. Tidak mengapa kita tidak menjadi yang terdepan dan pertama dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, karena yang terpenting adalah kerelaan dan ketulusan. Lalu, apa yang bisa membuat kita rela dan tulus dalam memberikan persembahan kepada Tuhan? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan itu, terutama yang berdasarkan pengalaman kita masing-masing. Tapi jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu adalah bahwa kita telah benar-benar merasakan dan memahami apa yang telah diperbuat dan diberikan Tuhan dalam hidup kita. Amin.

  1. Doding: Haleluya No. 250:1+5
    Haholongan na mapansing humbai Jesus Tuhankin;
    Sai sogopi sai masuki uhur pakon tonduyhin.

Habasaron, hadameion, na roh humbani Jesus in;
Goki uhur pakon tonduy, ulang mosor in hunjin.

  1. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami

Kantor Sinode GKPS

Comments are closed
**