
Marunduk ni uhur sopotkon ma in,
pambaenmu na jahat ampa jungkatmin.
Ondoskon bai Jesus bulat dirimin,
tongtong ma sai dingat pangkopkop-Ni in.
“Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada Tuhan;” (1 Tawarikh 29:9a)
Kedua, para kepala puak (partai/kelompok/golongan), para kepala suku, para kepala pasukan, dan para pemimpin pekerjaan untuk raja juga telah menunjukkan kerelaannya dalam pembangunan rumah Allah. Mereka menyerahkan lima ribu talenta emas, sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak, dan delapan belas ribu talenta tembaga, serta seratus ribu talenta besi. Itulah mengapa bangsa itu pun bersukacita dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, karena para pemimpinnya telah menjadi teladan dalam memberikan persembahan untuk rumah Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Sebagai warga GKPS, di tahap atau bagian keberapakah kita mengambil langkah dalam memberikan persembahan kepada rumah Tuhan? Apakah kita saling menunggu, atau kita menjadi yang terdepan untuk memberikan persembahan kepada rumah Tuhan? Memang, bukan besar atau kecilnya persembahan itu yang menjadi penting, melainkan kerelaan dan ketulusan hatilah yang terpenting. Oleh karena itu, tidak mengapa kita tidak mempersembahkan sebesar persembahan orang lain, karena yang terpenting adalah kerelaan dan ketulusan. Tidak mengapa kita tidak menjadi yang terdepan dan pertama dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, karena yang terpenting adalah kerelaan dan ketulusan. Lalu, apa yang bisa membuat kita rela dan tulus dalam memberikan persembahan kepada Tuhan? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan itu, terutama yang berdasarkan pengalaman kita masing-masing. Tapi jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu adalah bahwa kita telah benar-benar merasakan dan memahami apa yang telah diperbuat dan diberikan Tuhan dalam hidup kita. Amin.
Habasaron, hadameion, na roh humbani Jesus in;
Goki uhur pakon tonduy, ulang mosor in hunjin.
Kantor Sinode GKPS