
“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,”
Kalau kita percaya bahwa Allah adalah Bapa, maka hubungan kita dengan sesama manusia pun tercakup dan teratasi dengan baik. Kalau Allah adalah Bapa, maka Ia adalah Bapa semua orang. Doa “Bapa Kami” tidak mengajar kita berdoa “Bapaku,” melainkan “Bapa Kami.” Dan di sini kita dapat menemukan hal-hal penting, yaitu bahwa di dalam doa “Bapa Kami” itu tidak terdapat kata-kata ‘aku,’ ‘padaku,’ ‘bagiku,’ dan ‘untukku.’ Benar bahwa kedatangan Yesus ke tengah-tengah dunia ini ialah untuk menyingkirkan kata-kata itu, serta menggantinya dengan kata-kata ‘kami,’ ‘pada kami,’ ‘bagi kami,’ dan ‘untuk kami.’ Allah yang adalah Bapa itulah yang menjadi dasar dalam memungkinkan adanya persaudaraan di antara manusia.
Kalau kita percaya bahwa Allah adalah Bapa, maka hubungan kita dengan diri kita sendiri pun kepada Allah tercakup dan teratasi. Kita dimampukan-Nya untuk mendekati kuasa, kemuliaan dan keagungan Allah itu dengan penghormatan, pujian, kekaguman yang ketakutan. Allah adalah Bapa kita di sorga, dan di dalam Allah ada kasih yang terpadu dengan kekudusan. Jadi kalau kita berdoa dengan mengucap “Bapa Kami yang ada di sorga” maka kita harus mengingat kekudusan Allah serta kuasa-Nya yang bergerak di dalam kasih-Nya, dan kasih yang didukung oleh kuasa-Nya yang tidak pernah gagal. Dengan ayat firman Tuhan ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita agar kita mendahulukan kepentingan Allah lalu menempatkan kepentingan kita di dalam wilayah kepentingan Allah. Amin.
Departemen Persekutuan GKPS