
Ganupan munsuhku, seng ilopas Ham marmegah,
manangkut au baen jabolonni.
Ipatudu Ham do, au bai dalan na gok tuah,
tongtong do Ham mangkasomani.
Itogu Ham do, au humbai lombang bagas,
in ma ianan hagolapan.
Sai boban Ham ma au hu nagori atas,
ase tongtong marhasonangan.
“Ya, Tuhan Allah, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau?”
Tuhan telah mulai memperlihatkan kebesaran dan tangan Allah yang kuat. Bagi Musa, seluruh karya dan perbuatan Tuhan itu adalah kebesaran dan tangan yang kuat dari Tuhan, sehingga berkuasa melakukan semuanya itu. Musa takjub dan kagum akan hal-hal besar dari Tuhan. Maka dengan keberanian ia datang memohon kepada Tuhan untuk memberikan lebih dari itu. Jika Tuhan sudah memulai hal yang baik dalam hidupnya sebagai hamba Tuhan, maka alangkah indahnya jika itu dipenuhi dan digenapi oleh Tuhan di dalam kehidupan hambaNya Musa. Keinginan hati yang paling dalam dari Musa adalah alangkah indahnya jika Tuhan memperkenankan ia untuk ikut memasuki tanah perjanjian itu. Apa yang menjadi tujuan Allah bagi bangsaNya, tentu itu juga menjadi keinginan Musa untuk juga turut menikmati anugerah itu semasa hidupnya. Tentu sebagai hamba Tuhan, Musa sudah tahu bahwa tujuan Allah membawa bangsa Israel yakni untuk membawa mereka ke tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu. Tentu Musa tidak merasa puas hanya sekedar tahu bahwa ada tujuan yang indah bagi bangsa itu. Ia juga ingin merasakan ikut sampai ke sana. Itulah keinginan Musa yang dimohonkannya kepada Tuhan.
Namun dari perikop ini kita belajar bahwa keinginan manusia tidak selalu harus terpenuhi. Rencana Tuhan bukan rencana manusia. Keinginan Tuhan bukan keinginan manusia. Permintaan Musa adalah baik, namun Tuhan tahu yang terbaik bagi Musa dalam perjalanan hidupnya. Di sini kita melihat ada ketegangan antara kehendak manusia dan rencana Tuhan. Di mana rencana Tuhanlah yang terjadi, Musa hanya diperkenankan oleh Tuhan melihat tanah perjanjian dari kejauhan, tetapi tidak diizinkan untuk ikut memasukinya.
Dari sisi manusia mungkin Musa akan kecewa. Tetapi sebagai hamba Tuhan ia akan taat dan tetap mengikuti apa kata Tuhan. Sebab siapakah Musa? Ia adalah hamba Tuhan, yang dipilih dan dimampukan oleh Tuhan untuk melakukan rencana Tuhan atas umatNya. Ia tidak bekerja atas dirinya sendiri tetapi ia adalah abdi Allah yang seluruh hidupnya harus senantiasa tunduk dan setia kepada kehendak Tuhan.
Sebagai orang percaya kita belajar dari Musa bahwa kita ini adalah hamba Tuhan, yang dipilih dan diberi kesempatan untuk melihat kebesaran dan tangan Tuhan yang kuat di dalam kehidupan kita. Tujuan karya Tuhan itu adalah bagaimana agar lewat semuanya kita semakin memuji dan memuliakan Tuhan. Jadi jika kita boleh menyaksikan karya Tuhan lewat kita atau orang lain yang kita saksikan, tujuannya bukanlah untuk membesarkan manusia atau hamba itu, tetapi ingatlah bahwa itu hanyalah untuk membesarkan nama Tuhan. Jangan ada manusia yang membesarkan dirinya sendiri atau merasa besar. Maka bilapun kita diperkenankan untuk meminta, itu bukan karena hebat kita. Atau. jika tidak diberi, janganlah lalu itu menjadi alasan bagi kita untuk marah, kecewa, dan meninggalkan Tuhan. Kita tidak berhak untuk itu. Jika ada yang bersikap demikian sesungguhnya ia hanya merugikan dirinya sendiri dan itu menjadikannya semakin jauh dari rencana Tuhan. Tetaplah rendah hati, mengenal diri sebagai hamba Tuhan, yang sungguh bersyukur jika Tuhan memakai kita ikut ambil bagian dalam pekerjaan pelayanan melalui gerejaNya. Sebab Ialah Allah yang perkasa, Allah yang besar dan berkuasa. Amin.
Sai ajarhon Ham, dalan-Mu bangku on,
ase mardalan au bai hasintongan-Mu.
Sai baluti Ham, uhurhon sai tongtong,
ase marhabiaran bani goran-Mu.
Ai pitah Ham Tuhan, na boi haposankin,
bai goluh sidalanankin.
Bokas-Mu nuan, siirikkononkin,
na gabe suluh bani pardalanankin.
Departemen Persekutuan GKPS