
Halani ai ma ‘se hupuji layakMu in sadari on.
Ai na patibal rujiruji, sai na tarlobih do in tong.
O Jesus, na marholong atei! Ningon hupuji goranMu.
Ai Ham do hapeni na pandei mambere bangku layakMu.
“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”
Namun, jika kita bayangkan setiap kita bertemu dengan saudara kita namun dalam sikap yang congkak, sombong, mungkin kita tidak akan bersukacita. Kita tidak menyukai orang yang congkak, demikian juga dengan Allah, Allah menentang mereka, tetapi Allah akan memberi kasih karunia kepada setiap orang yang rendah hati. Itulah mengapa Petrus menasihati agar orang percaya itu merendahkan hati. Rendah hati berarti mengakui bahwa hidup kita tergantung pada Tuhan, berkat dan keselamatan yang kita miliki itu semata-mata anugerah dari Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, bukan karena kekuatan, usaha, kebaikan kita. Jika demikian tidak ada alasan untuk bermegah diri, congkak, sombong, karena semua yang kita alami, miliki, rasakan, bersumber dari anugerah Tuhan, yang diberi gratis kepada kita. Inilah dasar bagi kita untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan, merendah di hadapan Tuhan, sebab tangan Tuhan yang kuatlah yang melakukan segala yang baik bagi kita. Kalimat “tangan Tuhan yang kuat,” adalah ungkapan antropomorfis yang mengacu pada kekuatan Tuhan yang superior, tidak ada yang dapat mengalahkan tangan Tuhan, tidak ada tandingannya. Maka ketika dikatakan merendahkan hati di hadapan Tuhan, bukan untuk kalah justru untuk menang sebab Tuhan yang akan menolong. Kita bersyukur dan berterimkasih atas semua kebaikan Tuhan, sehingga Tuhanlah yang layak dipuji, disembah dan ditinggikan, bukan manusia.
Sementara orang yang congkak, sombong, atau angkuh adalah orang yang meninggikan dirinya, merasa dan mengaggap bahwa semua yang dialami, dimiliki dan dirasakan itu karena usaha, kuat dan hebatnya, sehingga tidak ada lagi tempat Allah di dalam hatinya. Itu sebabnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang demikian. Mereka menolak merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mereka lebih mengutamakan meninggikan dirinya. Mereka menganggap akan menang dengan meninggikan diri. Ini adalah sikap yang melawan, memberontak terhadap Tuhan dan konsekuensi bahwa Tuhan tidak akan berpihak terhadap mereka. Sebab hati Tuhan hanya tertuju kepada orang yang rendah hati, sehingga mereka akan ditinggikan pada waktunya. Seturut dengan waktu Tuhan.
Mungkin kecenderungan manusiawi masa kini adalah bereaksi dengan kesombongan. Namun, Tuhan memanggil kita untuk merespons dengan kerendahan hati terhadap semua orang yang kita temui. Merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang perkasa berarti percaya kepada kuasa Tuhan, mengakui bahwa kekuatan kita berasal dari-Nya dan bukan dari diri kita sendiri. Hal ini melibatkan penerimaan kedaulatan-Nya dalam hidup kita, tunduk kepada Tuhan, menaati dan menghormati orang tua dan bertindak dengan rendah hati kepada saudara-saudari kita sebagai anggota tubuh Kristus, sebab hidup yang demikianlah yang berkenan bagi Tuhan. Amin.
Naibata hasomanmin! Anggo rapkon Naibata do,
seng tarbahen ho be kahou, sai torang do langkahmin.
Naibata hasomanmin! Naibata hasomanmin!
Departemen Persekutuan GKPS