
1. Doding: Haleluya No. 242:1
Ham Tuhan Jesus Raja ni ganupan,
tubuh humbai Bapa in.
Haholonganku, sisombahonku,
sahalak Ham do Tuhankin.
2. Tonggo
3. Ayat Harian
“Ase, adong ope parsaranan Sabat bani bangsa ni Naibata. Ai barang ise na masuk hu parsaranan ni Naibata, marsaran do homa humbani horjani, songon Naibata na marsaran humbani horja-Ni.” (Heber 4:9-10)
“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.” (Ibrani 4:9-10)
4. Renungan: Sabat Tuhan
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
pembicaraan di tengah-tengah umat Yahudi tentang Sabat, merupakan percakapan yang serius sekaligus sensitif. Bagi mereka, Sabat atau hari perhentian itu dibaca sebagai saat dimana setiap orang tidak bisa melakukan apapun selain beribadah pada Tuhan. Setiap orang yang melanggar peraturan Sabat dianggap sebagai orang yang sangat berdosa, lebih jahat dari perbuatan dosa lainnya. Itu sebabnya ketika Tuhan Yesus melakukan sesuatu pada hari Sabat, tidak peduli bahwa itu untuk menolong orang lain, tetap dianggap sebagai pelanggaran.
Dalam surat Ibrani ini diperjelas bahwa ketika bicara tentang Sabat atau hari perhentian, itu adalah hari yang sangat dinantikan oleh semua orang. Semua harus setia untuk menantikan hari itu dan tidak melihat hari itu sebagai hari yang sangat kaku untuk dijalani, tetapi harus tetap setia menjalankan panggilan dan perintah Tuhan, sehingga bisa sampai kepada hari perhentian itu. Pandangan ini tentu dihubungkan dengan janji Tuhan akan perhentian yang Tuhan sediakan. Untuk itu, diingatkan agar jangan jatuh kepada ketidaktaatan pada firman Tuhan secara utuh. Ketika semua orang berjalan menuju hari perhentian itu, maka ia akan selalu berusaha berdiri sebagai orang yang setia melakukan kehendak Tuhan, yang bekerja sesuai dengan apa yang Tuhan firmankan.
Perjalanan kita sebagai pengikut Kristus tentu juga akan menuju kepada perhentian yang dimaksud dalam surat Ibrani ini. Karena itu, selagi kita masih belum tiba pada perhentian itu, maka kita harus melakukan tugas tanggung jawab kita dengan baik. Kita harus menyatakan keterpanggilan kita sebagai umat Allah dan juga sebagai umat yang akan berjalan menuju perhentian itu. Jadi Sabat tidak semata-semata sebagai aturan, tetapi itu adalah tujuan perjalanan kita. Dan jika kita sudah sampai pada perhentian itu, maka sama seperti yang dikatakan, Allah juga berhenti dari pekerjaanNya. Pleh karena itu kita juga berhenti pada waktunya. Tetapi ketika kita belum sampai pada perhentian itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama. Amin.
5. Doding: Haleluya No. 180:1
Ija parsaranan na gok sonang in harohanni tonduy ija nani in
tor dong parsaranan ni tonduy ijon, bai tanoh ni jolma na mardousa on?
Seng dong, seng dong i tanoh on, ai hasusuranta i surga tongon;
Seng dong, seng dong i tanoh on, ai hasusuranta i surga tongon.
6. Tonggo Ham Bapanami/Doa Bapa Kami
Kantor Sinode GKPS